Cherreads

Chapter 150 - Bab 150: Pudding Pengganti Maaf

Sore itu hujan turun dengan rintik yang rapat, membasahi atap rumah kayu kecil milik dua gadis rubah bersaudara. Aroma tanah basah menyelimuti udara ketika Kanna perlahan membuka pintu depan.

Saat pintu terbuka, tubuh kecil Kanna membeku.

Di hadapannya berdiri seorang pria bertelinga runcing khas elf, namun dari tubuhnya memancar aura gelap yang berat, dingin, dan menekan—seperti milik seorang demon.

Jantung Kanna berdegup kencang, ekornya menegang ketakutan.

Kanna: "…!!"

Di saat yang sama, pria itu—yang sedari tadi berdiri tenang di bawah hujan—melihat reaksi gadis rubah remaja di depannya. Sudut bibirnya terangkat, matanya menyipit seolah menemukan hiburan.

Di sisi kusen pintu, ada bayangan lain—Garm—berdiri menahan napas, sengaja tak menampakkan diri.

Kael: "Oh? Aku seburuk itu sampai membuatmu gemetar?"

Nada suaranya rendah dan santai, justru membuat Kanna semakin panik.

Kael: "Hati-hati, kalau terlalu lama menatapku… aku bisa saja menyeretmu ke dunia kegelapan."

Kanna menjerit.

Kanna: "KAK NYRAAAA!!"

Teriakan itu menggema ke dalam rumah.

Di dapur, Nyra yang tengah mengaduk adonan pudding terkejut. Sendok kayu terlepas dari tangannya.

Nyra: "Kanna?!"

Tanpa berpikir panjang, Nyra meninggalkan dapur dan berlari menuju pintu depan. Saat ia tiba, matanya langsung menangkap sosok elf ber-aura demon yang tersenyum tipis.

Instingnya sebagai kakak dan beastkin langsung bereaksi.

Nyra: "MENJAUH DARI ADIKKU!"

Nyra meloncat ke depan, tinjunya terayun dengan kekuatan penuh.

Namun pria itu tidak panik sama sekali.

Kael: "Hm… ini sudah ketiga kalinya aku ingin dihajar bocah-bocah dunia ini."

Kael melirik sekilas ke sisi pintu—ke arah Garm yang bersembunyi.

Bayangan Kael berpendar, dan sebelum Nyra menyadarinya, sosok di depannya bukan lagi elf itu.

Di saat yang sama, bayangan di sisi kusen—Garm—mendadak muncul tepat di jalur serangan Nyra.

Garm: "TUNGG—?!"

Nyra yang sudah terlanjur menyerang tak sempat menghentikan tinjunya.

BUAGH!

Tinju Nyra menghantam wajah Garm dengan keras, membuatnya terpental beberapa meter ke belakang hingga jatuh ke halaman rumah yang basah oleh hujan.

Nyra: "G-Garm?!"

Kanna: "Kak Garm!!"

Keduanya panik dan langsung berlari keluar menuju Garm yang tergeletak. Nyra berlutut, menopang tubuh Garm yang meringis kesakitan. Luka-luka lamanya kembali terbuka.

Nyra: "Maaf… maaf… aku tidak tahu…"

Kanna: "Kak Garm, kamu tidak apa-apa?!"

Dengan napas berat, Garm memaksakan senyum.

Garm: "Aku… tidak apa-apa… sungguh…"

Nyra menggigit bibir, lalu menoleh ke arah pria elf tadi dengan tatapan marah dan siap menyerang lagi.

Namun Garm mengangkat tangan dengan susah payah.

Garm: "Nyra… hentikan… dia… yang menyelamatkanku…"

Nyra terdiam.

Sebelum siapa pun bereaksi lebih jauh, pria elf itu sudah berada di sisi Garm, menopang tubuhnya. Dalam satu kedipan mata, mereka sudah berpindah ke depan pintu rumah.

Kanna: "C-cepat sekali…"

Nyra: "Ras apa yang bisa bergerak seperti itu…?"

Tak ingin Garm semakin kehujanan, Nyra dan Kanna segera membantu membawanya masuk ke ruang tengah. Garm didudukkan bersandar pada dinding.

Tanpa berkata apa pun, pria elf itu berjalan menuju dapur, mengikuti aroma manis yang menguar.

Nyra memperhatikannya sejenak.

Nyra: "…Sepertinya dia bukan orang jahat."

Ia lalu fokus pada Garm yang tubuhnya basah dan penuh luka. Dengan kain, Nyra mengelap wajah dan rambut Garm dengan lembut.

Nyra: "Kenapa kamu lama sekali…?"

Garm menunduk.

Garm: "Di pertengahan Hutan Terlarang… aku disergap puluhan monster anomali… aku lari… tapi sia-sia…"

Napasnya berat.

Garm: "Saat aku pikir… aku tidak akan sadar lagi… senior itu datang… dan menyelamatkanku."

Air mata Nyra jatuh.

Nyra: "Syukurlah… syukurlah kamu selamat…"

Suaranya bergetar.

Nyra: "Aku… aku tidak bisa membayangkan kalau kehilanganmu juga… aku sudah kehilangan orang tua kita… aku tidak sanggup kehilanganmu…"

Kanna yang melihat kakaknya seperti itu hanya menunduk sedih. Ia lalu bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berkata apa-apa, memberi ruang untuk mereka.

Garm panik melihat Nyra menangis.

Garm: "N-Nyra… aku baik-baik saja sekarang… jangan menangis…"

Nyra mengusap air matanya.

Nyra: "Garm… apa kamu bisa berjanji… tidak akan meninggalkanku?"

Dada Garm terasa sesak. Namun ia tersenyum, mengangkat tangannya, dan mengelus kepala Nyra dengan lembut.

Garm: "Aku berjanji… itulah alasan aku datang… walau tubuhku penuh luka… aku tidak ingin kamu khawatir."

Nyra mendengus pelan.

Nyra: "Dasar… selalu saja menggombal…"

Namun hatinya menghangat.

Di dapur, Kanna berhenti melangkah saat mendengar senandung pelan. Ia mengintip dan melihat pria elf itu sedang melanjutkan pembuatan pudding.

Kanna: "Sedang apa kamu?"

Pria itu tidak menoleh.

Kael: "Membuat pudding. Mau?"

Kanna terkejut.

Kanna: "Kamu bisa masak? Serius?"

Kael berhenti, lalu menoleh dengan ekspresi kesal.

Kael: "Duduk saja. Rasakan sendiri. Ini salah satu keahlianku."

Dengan ragu, Kanna duduk di meja makan.

Tak lama kemudian, Nyra datang membantu Garm masuk dan duduk. Kael membawa beberapa pudding dingin dan meletakkannya di meja.

Kael: "Coba."

Nyra menunduk.

Nyra: "Maaf… seharusnya aku yang membuatnya…"

Kael: "Lupakan saja."

Kanna masih ragu.

Kael: "Kalau tidak mau, akan kuambil lagi."

Kanna: "T-TIDAK SOPAN!"

Kanna buru-buru merebut pudding itu dan langsung memakannya. Matanya langsung berbinar.

Kanna: "Enak…!"

Kael: "Tuh kan."

Garm dan Nyra ikut mencicipi.

Nyra: "Ini… luar biasa…"

Kanna sudah berlari kembali ke dapur mengambil lagi, membuat mereka tertawa.

Kael lalu duduk di depan Garm.

Nyra: "Siapa sebenarnya kamu…?"

Garm tersenyum kecil.

Garm: "Dia senior-ku… Kael."

Nyra dan Kanna terkejut.

Nyra langsung membungkuk.

Nyra: "Terima kasih sudah menyelamatkan Garm."

Kael: "Sama-sama."

Nyra lalu ragu-ragu bertanya.

Nyra: "Tentang temanmu di Hutan Terlarang…"

Garm menunduk.

Garm: "Maaf… aku tidak bisa bercerita… itu berbahaya untukmu dan Kanna…"

Nyra terdiam, lalu tersenyum kecil.

Nyra: "Kalau begitu… selama kamu selamat, itu cukup."

Garm menghela napas lega.

Nyra menoleh ke Kael.

Nyra: "Bolehkah aku bertanya… kenapa kamu berwujud elf… tapi auramu seperti demon?"

Kael menatap tenang.

Kael: "Aku ras campuran—Elf dan Demon."

Melihat Nyra, Kanna, dan Garm yang mendengar terlihat bingung Kael pun bertanya.

Kael: "Di dunia ini tidak ada keturunan campuran Elf dan Demon?"

Nyra menggeleng.

Garm: "Elf dan demon hampir tidak pernah membentuk keluarga… itu dianggap mustahil."

Kael terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.

Kanna kembali duduk di sebelah Kael.

Kanna: "Kamu bisa buatkan pudding ini lagi?"

Kael: "Tergantung mood-ku."

Kael: "Anggap ini kompensasi karena aku keterlaluan."

Ekspresi Kanna langsung sedih.

Nyra dan Garm tertawa melihatnya.

Hujan masih turun di luar, tapi di dalam rumah kecil itu, suasana perlahan menjadi hangat.

More Chapters