Hutan Terlarang kembali sunyi setelah kepergian Garm. Cahaya alami yang memancar dari pepohonan kuno bergoyang pelan, menyinari tanah yang dipenuhi lumut. Di antara pepohonan besar itu, gerbang dimensi tampak seperti sebuah celah yang membelah dunia, gelap dan misterius, menyembunyikan rahasia yang baru saja terungkap.
Lirya berdiri beberapa langkah dari Rei. Pandangannya tertuju pada sosok berambut putih yang masih menatap gerbang dimensi tanpa berkata apa pun.
Lirya:
"Rei… aku ingin tahu."
Rei tidak menoleh.
Lirya (melanjutkan):
"Apa yang sebenarnya kau bicarakan dengan Senior Kael sebelumnya? Jika ini masalah besar… aku ingin terlibat. Aku ingin menjadi bagian dari apa pun yang akan kau hadapi."
Sylvhia, Ratu Dryad, melangkah maju dengan wajah tenang namun penuh kewaspadaan.
Sylvhia:
"Garm juga melaporkan sesuatu padaku. Atasan Nyra menduga ada pihak berkuasa yang mungkin ikut andil dalam kemunculan monster anomali."
Rei terdiam sejenak. Ia menutup matanya, seolah menyusun pikirannya. Keheningan itu membuat Lirya dan Sylvhia menunggu dengan perasaan yang semakin berat.
Tiba-tiba—
Krrt… krrt…
Kantung spasial Lirya bergetar.
Keheningan pun pecah.
Lirya (kesal):
"Sekarang…?"
Ia merogoh kantungnya dan mengeluarkan sebuah bola kristal komunikasi. Saat melihat nama yang muncul, alisnya berkerut.
Lirya (dalam hati):
Seris? Kenapa dia menghubungiku…?
Ia melirik Rei dan Sylvhia. Keduanya tidak menunjukkan keberatan. Rei bahkan masih diam, menatap gerbang dimensi seolah tidak terpengaruh apa pun.
Lirya mengangkat bola kristal komunikasi, tatapannya serius.
Lirya : "Ada apa, Seris?"
Seris terdengar cemas di seberang sana, suaranya bergetar sedikit.
Seris:
"Kak Lirya, apa kau baik-baik saja? Kau sedang di mana sekarang?"
Lirya:
"Aku baik. Masih bertugas di kedalaman Hutan Terlarang."
(Itu bukan sepenuhnya bohong, meski alasan Lirya berada di sana bukan karena tugas, melainkan karena Rei.)
Lirya (datar):
"Jangan berputar-putar. Katakan apa yang kau inginkan."
Seris terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada hati-hati.
Seris:
"Kak… apa di tempatmu sekarang ada keanehan? Atau… seorang manusia?"
Mata Lirya sedikit membesar.
Lirya (dalam hati):
Kenapa dia menanyakan ini…?
Lirya:
"Untuk apa kau ingin tahu?"
Seris menarik napas, lalu mulai menjelaskan.
Seris:
"Ada temanku di sini. Dia manusia biasa. Tapi dia pernah terlibat dalam insiden monster anomali di sekolahnya. Monster itu menghancurkan sebagian kota… banyak murid meninggal."
Nada suara Seris menurun.
Seris (melanjutkan):
"Namun monster itu dikalahkan… oleh temanku itu. Seorang diri. Tanpa kekuatan."
Lirya tidak tampak terkejut. Ia sudah mengetahui kisah itu—langsung dari Rei.
Lirya:
"Lalu?"
Seris:
"Jika memang ada manusia di Hutan Terlarang… atau seseorang dengan energi mirip anomali, aku ingin tahu lebih banyak. Mungkin ini berkaitan dengannya."
Lirya melirik Rei. Sosok itu masih diam.
Ia mengulurkan tangan dan menyentuh pundak Rei—sebuah pertanyaan tanpa kata.
Rei menoleh. Ia menatap Lirya, lalu tersenyum tipis.
Izin.
Lirya kembali menatap bola kristal, wajahnya serius.
Lirya:
"Seris. Pastikan kau sendirian. Tidak boleh ada siapa pun yang mendengar."
Seris melihat sekeliling. Saat itu ia berada bersama Aelria dan teman-temannya.
Ia menatap mereka satu per satu.
Seris:
"Jika kalian tidak setuju, maka kakakku tidak akan mengatakan apa pun."
Ruangan itu hening.
Aelria melangkah maju.
Aelria:
"Seris… tanyakan pada kakakmu. Apakah aku boleh mengetahuinya juga?"
Seris menyampaikan permintaan itu.
Di sisi lain, Lirya kembali melirik Rei. Rei tidak bereaksi—itu berarti persetujuan.
Lirya:
"Aelria boleh tetap tinggal."
Seris meminta yang lain keluar. Setelah ruangan hanya menyisakan dirinya dan Aelria, ia mengaktifkan sihir penghalang suara.
Seris:
"Sudah aman."
Lirya pun berbicara.
Lirya:
"Memang ada seorang manusia di kedalaman Hutan Terlarang. Dia menjaga gerbang dimensi seorang diri."
Seris dan Aelria terkejut.
Lirya (melanjutkan):
"Dan manusia itu… sedang bersamaku sekarang. Aku mengatakan ini atas izinnya."
Aelria menelan ludah.
Aelria:
"Apakah… dia berambut putih?"
Lirya:
"Benar."
Tubuh Aelria menegang. Ingatan tentang sosok yang pernah menyelamatkannya kembali jelas.
Seris:
"Seberapa kuat dia sampai bisa menjaga gerbang sendirian?"
Lirya:
"Jika dia melawan seluruh raja dari tiap ras dan para guardian… hasilnya mungkin seimbang."
Seris terdiam.
Lirya (tenang):
"Dan itu baru kekuatannya saat ini."
Seris menggenggam kristal lebih erat.
Seris:
"Temanku juga berambut putih… tapi dia tidak punya kekuatan apa pun, kecuali saat nyawanya atau orang terdekatnya terancam. Kenapa bisa begitu?"
Saat Lirya hendak menjawab—
Suara lain terdengar.
Tenang. Dalam. Sama persis.
Rei (Hutan Terlarang):
"Karena dia adalah separuh dari jiwaku."
Seris dan Aelria membeku.
Rei:
"Aku ingin menjalani hidup normal sebagai manusia, jadi aku membagi jiwaku dan kekuatanku ke dunia manusia. Dan kekuatan itu ada padanya… tapi bahkan lima persen pun belum bisa ia gunakan."
Aelria berusaha melihat sosok Rei, namun yang terlihat hanya Lirya.
Seris: "Kak… arahkan kristalnya."
Lirya menuruti.
Kini terlihat Rei—dengan mata kiri hitam dan mata kanan biru. Kebalikan dari Rei di dunia manusia.
Rei melirik sekilas. Cahaya kristal memantulkan mata Rei—hitam dan biru—seperti dua langit yang saling bertolak belakang.
Rei:
"Aelria… sudah lama."
Aelria terdiam.
Aelria:
"Apakah Rei di dunia manusia bisa menggunakan kekuatan seperti dirimu?"
Rei:
"Bisa. Dengan tiga kondisi."
Ia mengangkat satu jari.
Rei:
"Pertama, jika aku mengizinkan."
Jari kedua.
Rei:
"Kedua, jika orang yang ia cintai berada dalam bahaya."
Jari ketiga.
Rei:
"Ketiga, jika fisik dan mentalnya sudah cukup kuat."
Nada suaranya berubah serius.
Rei:
"Jika ia memaksa di luar itu… bukan hanya dirinya yang hancur. Dunia manusia akan musnah."
Seris dan Aelria terdiam, tak sanggup berkata apa-apa.
Seris:
"Apakah ada cara memenuhi kondisi ketiga?"
Rei:
"Fisiknya akan dilatih oleh Ravien. Dan untuk mentalnya… dia sudah cukup kuat."
"Karena dia sudah merasakan kehilangan orang tua saat kecil dan... Menerima cinta palsu saat SMA."
Aelria sedikit terkejut, memegangi dada seperti ada yang menyesakkan di sana. Wajahnya memucat saat mendengar penjelasan Rei.
Aelria:
"Bagaimana kau tahu semua itu? Kau tidak berada di sana."
Rei:
"Resonansi jiwa. Aku merasakan apa yang ia rasakan—marah, senang, sedih… bahkan pikirannya."
Aelria menguatkan diri.
Aelria:
"Rei… tentang dirimu waktu kecil. Itu kau… atau dia?"
Rei:
"Itu Aku. Dan soal masa kecilmu—dia tidak mengetahuinya. Aku yang memblokir ingatan itu dari jiwanya."
Ia terdiam sejenak.
Rei:
"Aku menyelamatkanmu karena dua alasan. Saat itu aku baru tiba di dunia ini dan sedang mengalahkan monster anomali yang lepas dari gerbang. Lalu saat melihatmu, aku teringat seseorang yang dulu bersamaku."
Hutan seakan ikut membisu.
Lirya menundukkan wajahnya. Ia tahu siapa yang dimaksud Rei.
Aelria terdiam, mulutnya sedikit terbuka, dan mata berbinar karena keterkejutan. Wajahnya pucat, seolah tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Ia menggenggam tangannya dengan erat, cemas dan bingung, mencoba memahami pengungkapan besar yang baru saja diterima
Rei:
"Aelria. Jangan katakan apa pun padanya. Suatu hari nanti, dia akan datang sendiri."
Nada suaranya lembut, namun tegas.
Rei:
"Tolong jaga dia… agar dia tidak hancur."
Aelria menahan napas.
Aelria:
"Aku berjanji. Aku akan menjaganya. Aku tidak akan membiarkannya hancur… untuk kedua kalinya."
Percakapan berakhir.
Lirya mematikan sambungan bola kristal.
Menatap gerbang dimensi, masih teringat percakapan yang baru saja terjadi dengan Rei.
Lirya (dalam hati): Kau sedang bersama kami, Seris... tapi ada yang kau tak tahu tentang kami.
Dan di kedalaman Hutan Terlarang, dua dunia kembali terhubung—melalui satu jiwa yang terbelah.
