Cherreads

Chapter 152 - Bab 152: Keputusan yang Tak Bisa Ditarik Kembali

Setelah sambungan komunikasi dengan Seris terputus, keheningan kembali menyelimuti hutan terlarang. Angin berdesir pelan di antara pepohonan purba, sementara Rei masih duduk menghadap gerbang dimensi, punggungnya lurus, pandangannya tenang—namun dalam.

Lirya menatap Rei dengan sorot mata yang sarat kekhawatiran.

Lirya:

"Rei… apa benar tidak apa-apa kau memberitahu mereka tentang dirimu di sini dan dirimu di dunia manusia?"

Rei menoleh perlahan. Tatapannya tidak ragu, seolah keputusan itu sudah lama dipertimbangkan.

Rei:

"Keputusan itu sudah benar, Lirya."

"Aku merasakan firasat buruk… sesuatu akan terjadi pada diriku yang di sana."

Lirya terdiam. Sylvhia ikut menatap Rei, ekspresinya lembut namun cemas.

Rei (melanjutkan):

"Untuk saat ini aku tidak bisa turun tangan langsung. Karena itu, kebenaran ini mungkin akan menjadi satu-satunya hal yang bisa membantu diriku di sana menghadapi bahaya yang akan datang."

Lirya mengepalkan tangan, lalu menghela napas pelan.

Lirya:

"Kalau itu keputusanmu… aku akan mendukungmu."

Sylvhia:

"Kami semua akan mendukungmu, Rei. Walau kami khawatir."

Rei mengangguk kecil, lalu menatap Sylvhia.

Rei:

"Sylvhia, aku ingin kau menemui Vhaldrake sekali lagi. Tanyakan padanya… apakah benar ada penguasa di dunia ini yang ikut andil dalam kemunculan monster anomali di dunia manusia."

Ratu Dryad itu mengangguk tanpa ragu.

Sylvhia:

"Aku akan mencari jawabannya."

Ia berpamitan singkat pada Rei dan Lirya, lalu tubuhnya diselimuti cahaya hijau lembut sebelum menghilang menuju pulau melayang—wilayah para guardian.

Pulau Melayang – Istana Guardian

Sylvhia menembus penghalang ilusi pulau melayang dan tiba di istana batu kristal yang menjulang. Suaranya menggema saat ia memanggil sang guardian naga.

Sylvhia:

"Oi naga tua! Vhaldrake, di mana kau bersembunyi?"

Tak ada jawaban.

Beberapa menit berlalu. Sylvhia menyusuri aula demi aula, hingga akhirnya memasuki perpustakaan agung. Di sana, seseorang tengah membaca dengan sangat serius.

Sylvhia:

"Aerisyl?"

Ratu Roh Angin itu menoleh, seolah sudah tahu bahwa Sylvhia pasti akan datang.

Sylvhia:

"Apa yang kau lakukan? Dan di mana Vhaldrake?"

Aerisyl kembali menunduk pada tumpukan manuskrip kuno.

Aerisyl:

"Aku mencari keterkaitan para penguasa dengan insiden monster anomali di dunia manusia."

"Vhaldrake sudah turun ke lapangan. Jika benar ada penguasa yang ikut andil… ini sudah menjadi masalah tingkat dunia."

Sylvhia mendecak pelan.

Sylvhia:

"Seperti biasa… kau selalu selangkah lebih dulu."

Ia tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.

Aerisyl:

"Sylvhia, tunggu—!"

Namun Sylvhia sudah melangkah pergi sambil tertawa kecil.

Sylvhia:

"Kalau kau sudah dapat jawabannya, sampaikan sendiri pada Rei~"

Aerisyl terdiam, hanya bisa menghela napas pasrah. Dalam benaknya terlintas kenangan lama—pertama kali ia bertemu Rei, saat Rei masih bocah, berdiri sendirian di tengah hutan terlarang melawan monster anomali. Saat itu, ia dan tiga guardian lain—yang masih remaja—turun tangan membantunya.

Dan alasan kenapa ia tidak berani mendekati Rei itu.

Bukan karena kekuatan Rei atau sikap dinginnya.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, seorang manusia membuat hatinya goyah.

Tak lama kemudian, hembusan angin hijau lembut kembali menyapa hutan terlarang.

Sylvhia muncul dengan langkah ringan dan wajah ceria, langsung mendekati Rei sambil membentangkan tangan—niatnya jelas: memeluknya.

Lirya:

"Berhenti, Sylvhia. Jaga wibawamu sebagai guardian dan Ratu Dryad."

Sylvhia terkekeh, lalu mencondongkan wajahnya ke arah Lirya.

Sylvhia:

"Ara~ cemburu ya? Aku memang terang-terangan mendekati Rei. Bahkan aku tak keberatan kalau suatu hari nanti mengandung pewaris darinya."

Wajah Lirya langsung memerah hebat.

Lirya:

"J-Jangan bicara hal tak senonoh seperti itu di depan Rei!"

Sylvhia (tersenyum nakal):

"Tak senonoh? Bukankah kau juga diam-diam menginginkan hal yang sama? Ayo, akui saja kalau kau ingin menjadi istrinya dan—"

Lirya:

"A-aku tidak terang-terangan sepertimu, Ratu!"

Namun di dalam hatinya, ia tahu—

ia pun bersedia.

Hanya saja… ia takut Rei akan membencinya.

Rei akhirnya bersuara, memotong perdebatan mereka.

Rei:

"Sylvhia. Apa yang kau dapatkan dari Vhaldrake?"

Suasana langsung berubah serius.

Sylvhia:

"Aku tidak sempat bertemu langsung. Tapi Aerisyl bilang Vhaldrake sudah turun ke lapangan."

"Dan jika benar ada penguasa yang terlibat, ini bukan sekadar gangguan kecil."

Rei:

"Jadi kita harus menunggu Vhaldrake dan Aerisyl. Kuharap secepatnya ada jawaban."

Rei:

"Dan terima kasih… maaf telah merepotkan kalian."

Sylvhia:

"Tak perlu minta maaf. Ini juga menyangkut dunia kami."

Ia melirik ke arah gerbang, lalu menambahkan:

Sylvhia:

"Aku sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan di sana. Karena Aerisyl sudah lebih dulu menjelaskan semuanya pada Vhaldrake."

Rei menutup matanya sejenak. Energi halus beresonansi di udara—nyaris tak terasa—lalu ia membuka mata kembali.

Senyum kecil terukir di wajahnya.

Rei kembali menatap gerbang dimensi, masih duduk tenang, seolah dunia di baliknya sedang menunggu sesuatu yang tak terelakkan.

Dan jauh di tempat lain,

bahaya yang seharusnya tetap terkubur oleh masa lalu… mulai bergerak.

More Chapters