Cherreads

Chapter 158 - Bab 158: Jejak Janji di Bawah Dua Rembulan

Perjalanan pulang Mina dan Natsumi berlangsung dalam keheningan yang hangat. Langit sore perlahan berubah jingga, langkah kaki mereka berdampingan di trotoar yang mulai sepi.

Di tengah perjalanan itu, Natsumi memecah keheningan.

Natsumi: 

"Mina… kalau boleh tahu, apa rencanamu ke depan? 

Tentang masalahmu dengan Rei."

Mina terdiam. Pandangannya tetap ke depan, tapi dadanya sesak.

Putusnya pertunangan dengan Hayato bukan sekadar keputusan—itu seperti menekan tombol yang ia tahu akan memicu amarah keluarga Hayato.

Beasiswa yang ia kejar terasa seperti tali terakhir yang menahan keluarganya agar tidak jatuh.

Dan di balik semua itu, ada satu rasa takut yang paling sunyi: bagaimana kalau suatu hari mereka benar-benar tidak punya apa-apa?

Mina: "Aku… belum tahu."

Suaranya pelan.

Mina: "Kepalaku penuh. Keluargaku… Hayato… masa depanku. Dan Rei…"

(Mina menelan ludah)

"Aku bahkan belum berani membayangkan cara minta maafnya."

Natsumi mendengarkan dengan serius. Ekornya bergerak perlahan, tanda ia ikut merasakan beban itu.

Natsumi: "Aku sedikit mengerti."

Ia tersenyum kecil.

Natsumi: "Kalau begitu… izinkan aku membantu. Semampuku. Dengan bantuanku, dan… dengan bantuan keluargaku juga pasti semua bisa—"

Mina sontak berhenti melangkah dan menatap Natsumi.

Mina: "Tidak perlu! Jangan merepotkan keluargamu. Kita bahkan belum lama saling mengenal."

Natsumi justru tersenyum cerah, seolah itu bukan masalah besar.

Natsumi: "Tidak apa-apa. Aku sudah berjanji."

Ia menatap Mina dengan mata penuh keyakinan.

Natsumi: "Aku akan membantu kamu. Dan aku akan jadi temanmu."

Mina terdiam, lalu perlahan tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan akhir-akhir ini.

Mina: "Terima kasih… Natsumi."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mina merasa ada seseorang yang percaya padanya—tanpa syarat, tanpa prasangka.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di depan rumah Mina. Setelah berpamitan, Mina masuk ke rumahnya, sementara Natsumi melanjutkan langkahnya melewati beberapa blok kompleks.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan. Sopir keluarga Natsumi sudah menunggu.

Saat Natsumi masuk, ia sempat melihat dua sosok di kursi belakang—salah satunya menatapnya dengan tenang, seolah sudah menunggu lama.

Natsumi: "Maaf… sudah membuat kalian menunggu."

Dua sosok itu hanya tersenyum.

Mobil pun melaju, meninggalkan kawasan rumah Mina yang kembali sunyi.

Di tempat lain—jauh melintasi batas dunia—malam telah turun di Elyndor.

Dua rembulan menggantung di langit, memandikan atap-atap rumah kecil itu dengan cahaya keperakan.

Di teras rumah Nyra, Kael duduk sendirian. Sosok pria ras campuran elf dan demon itu menatap langit dengan mata kosong, pikirannya tenggelam dalam kenangan.

Dalam hatinya, nama-nama lama kembali terucap.

Vaelgor—naga yang sihirnya seperti badai.

Eryndra—elf pemanggil yang membuka celah dimensi.

Bram—beastkin yang tertawa paling keras saat bahaya paling dekat.

Dan satu nama yang membuat dadanya terasa berat.

Zeraphine…

Wanita ras demon yang hingga kini tak ia ketahui keberadaannya.

Empat orang. Empat sahabat yang pernah berjuang bersamanya ratusan tahun lalu… saat mereka menyelamatkan seorang bocah bernama Rei di dunia Astraelys.

Ucapan Garm kembali terngiang di benaknya—tentang penglihatan Nyra.

Tiga sosok misterius di dunia manusia.

Salah satunya memanggil monster anomali yang ia yakin itu pasti adalah Eryndra.

Dan satu sosok lain… menatap Nyra seolah mengetahui keberadaannya yang nampaknya itu adalah Vaelgor.

Kael mengepalkan tangan.

Ia teringat reruntuhan tempat ia pernah bertemu tiga sosok beberapa ratus tahun lalu—aura mereka berbeda, gelap, terdistorsi… namun terasa begitu familiar.

Vaelgor… Eryndra… Bram…

Tiga dari empat.

Kael (dalam hati):

"Kalau begitu…"

"Di mana Zeraphine sekarang…?"

Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya hingga tidak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya.

Kanna: "Kael?"

Kael tersentak.

Kael: "—!"

Ia menoleh cepat. Di sampingnya, Kanna—beastkin ras rubah—duduk sambil mengibaskan ekornya.

Kael: "Kanna… jangan muncul tiba-tiba."

Kanna: "Hehe, maaf. Lagi mikirin apa?"

Kael menghela napas pelan.

Kael: "Tidak ada. Hanya menikmati angin malam."

Kanna menatap wajah Kael. Ia bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikan, namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.

Kanna: "Sebelumnya... Terima kasih."

Kael menoleh.

Kanna: "Karena sudah menyelamatkan Kak Garm."

Ekornya terkulai sedikit.

Kanna: "Waktu Garm pergi ke hutan terlarang… Kak Nyra sangat khawatir. Aku tidak ingin kebahagiaan yang baru saja ia dapatkan hilang begitu saja."

Kael menatap langit kembali.

Kael: "Justru aku yang harus berterima kasih. Dengan menolong Garm… aku menemukan seseorang dari masa laluku."

Kanna mengerutkan dahi.

Kanna: "Masa lalu?"

Kael tersenyum tipis.

Kael: "Sudah aku katakan aku ini ras campuran elf dan demon. Aku sudah hidup lebih dari seribu tahun."

Mata Kanna membesar mendengar kata seribu tahun.

Kanna: "E-Eh?! Seribu tahun?! Jadi Kael itu… benar seorang kakek?!"

Kael (mendengus): "Kalau aku kakek, kamu apa? Balita."

Kanna: "Tapi muka kakek Kael muda banget…"

Kael: "Itu salah satu kelebihan yang aku miliki dari ras campuran."

Kanna: "Maaf! Aku tidak sopan pada orang tua!"

Kael: "Walau tua, aku masih tampan, bukan?"

Kanna: "Iya sih… tapi kalau para gadis tahu umur aslimu, mereka pasti kabur."

Kael terdiam… lalu memegangi kepalanya.

Kael: "Keji sekali ucapanmu untuk bocah yang belum genap seratus tahun."

Melihat Kael frustrasi, Kanna tertawa kecil.

Kanna: "Tapi kakek Kael punya kelebihan! Pudding buatanmu enak. Buka saja toko pudding, pasti laris!"

Kael sempat tersenyum… lalu menyadari sesuatu.

Kael: "Tunggu. Tujuanmu supaya bisa makan pudding gratis, bukan?"

Kanna tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya.

Kanna: "Hehe… kelihatan ya?"

Kael mendengus kesal.

Di dalam rumah, suasana jauh lebih tenang.

Nyra duduk di ruang tamu bersama Garm. Kepala Nyra bersandar di bahu beastkin itu, matanya terpejam.

Nyra: "Aku sangat khawatir waktu itu…"

Suaranya bergetar.

Nyra: "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau kamu tidak kembali."

Garm menunduk.

Garm: "Maaf… karena membuatmu cemas."

Ia mengusap rambut Nyra, pelan, seolah menenangkan gemetar di bahunya.

Garm: "Mulai sekarang aku akan lebih hati-hati… kecuali demi keselamatanmu dan Kanna."

Nyra menjauhkan kepalanya dan menatap Garm dengan mata berkaca-kaca.

Nyra: "Jangan bilang begitu."

Nyra: "Jangan pernah mengorbankan dirimu untuk kami."

Garm tersenyum pahit.

Garm: "Aku tidak bisa kehilanganmu. Kamu adalah cinta pertamaku… dan terakhirku."

Nyra tak kuasa menahan air matanya.

Nyra: "Aku tidak ingin ditinggalkan lagi… seperti dulu. Orang tuaku melindungi kami sampai akhir."

Garm mengangkat tangan, menghapus air mata Nyra, lalu mendekapnya erat.

Garm: "Maaf. Aku akan hidup. Aku janji."

Garm: "Aku tetap akan melindungimu… tapi aku juga akan pulang."

Nyra mengangguk pelan.

Nyra: "Kamu harus menepati janji itu."

Garm: "Aku bersumpah."

Nyra perlahan menjauh dari dada Garm, menatapnya… lalu tanpa berkata apa-apa, ia mencium Garm.

Garm terkejut, namun akhirnya membalasnya dengan lembut—seolah ciuman itu menjadi tanda tangan sunyi atas janji yang baru saja ia ucapkan.

Di luar, dua rembulan tetap menggantung, diam-diam menyimpan rahasia malam itu.

More Chapters