Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyelinap masuk ke kamar Nyra. Garm perlahan membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang bukan miliknya. Butuh beberapa detik sebelum ingatannya kembali sepenuhnya.
Malam sebelumnya terlintas jelas di benaknya—Nyra yang mencium dirinya dengan wajah bergetar, lalu mengantarnya ke kamar ini agar ia bisa beristirahat. Setelah itu, Nyra pergi ke kamar Kanna, meninggalkannya sendirian.
Garm (dalam hati):
Tenang… itu hanya untuk menenangkan dirinya.
Garm bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan; luka-lukanya hampir pulih sepenuhnya. Ia mengambil pakaian bersih dari kantung dimensi miliknya dan mulai berganti pakaian.
Namun tepat saat itu—
Pintu kamar terbuka.
Nyra : "Garm, aku—!"
Teriakan kecil langsung pecah.
Nyra : "Kyaaa?!"
Wajah Nyra memerah seketika. Ia langsung menutup mata dan membalikkan badan.
Nyra : "M-maaf! Aku tidak sopan! Aku seharusnya mengetuk dulu!"
Garm ikut terkejut dan panik.
Garm : "A-aku juga minta maaf! Aku lancang berganti pakaian di kamar yang bukan milikku!"
Nyra buru-buru keluar dan menutup pintu dengan cepat.
Dari balik pintu, suaranya terdengar gugup.
Nyra : "A-aku sudah membuatkan sarapan. Kalau sudah selesai… silakan turun."
Setelah itu, langkah kakinya menjauh, menuruni tangga. Tak lama kemudian terdengar suara aktivitas—Nyra mulai membersihkan rumah.
Garm berdiri terpaku sejenak.
Garm (dalam hati):
Kenapa aku sebodoh ini… benar-benar tidak sopan.
Ia menghela napas panjang.
Garm (dalam hati):
Nanti aku harus minta maaf lagi.
Setelah selesai berganti pakaian, Garm merapikan diri. Tubuhnya sudah cukup kuat untuk bergerak sendiri. Ia pun turun ke lantai satu dan menuju dapur.
Di atas meja sudah tersaji sarapan hangat. Garm duduk dan mulai makan dengan perlahan.
Tak lama kemudian, Nyra datang membawa secangkir teh.
Ia meletakkan teh itu di hadapan Garm, namun pandangannya menghindar.
Garm : "Terima kasih… Nyra."
Nyra mengangguk kecil.
Melihat suasana yang canggung, Garm berusaha mengalihkan topik.
Garm : "Kael di mana?"
Nyra sedikit lega mendengar pertanyaan itu.
Nyra : "Kael? Dia ditarik Kanna. Untuk mengantarnya ke sekolah."
Garm : "Begitu…"
Nada suaranya terdengar lega.
Garm : "Terima kasih… sudah merawatku. Dan sarapannya… sangat enak."
Nyra tersipu malu.
Nyra : "Itu… bukan apa-apa. Aku sudah terbiasa. Sejak hidup hanya dengan Kanna."
Garm menunduk sebentar.
Garm : "Soal tadi… maaf ya. Aku tidak punya maksud lain."
Nyra (masih menghindar): "I-itu… lupakan saja."
Kursi bergeser keras. Nyra tersandung.
Garm: "Nyra! Awas—!"
Tubuh Nyra kehilangan keseimbangan.
Garm refleks berdiri—terlambat setengah detik.
Dunia seperti berhenti sekejap…
dan Nyra jatuh tepat di atas tubuhnya.
Kling!
Sendok jatuh dan berputar di lantai.
Gelas teh di meja tergeser, miring—lalu sebagian isinya tumpah.
Cairan hangat menetes pelan dari tepi meja. Tik… tik… mengisi hening yang memerah.
Nyra masih memejamkan mata, lalu perlahan membukanya.
Ia sadar… posisinya sekarang.
Wajahnya memerah hebat.
Garm : "Nyra… kamu tidak apa-apa?!"
Nada suaranya penuh kekhawatiran, sama sekali tidak menyadari posisi mereka.
Nyra : "A-aku… tidak apa-apa."
Garm : "Syukurlah…"
Ia menghela napas lega, lalu tertawa kecil.
Garm : "Haha… hampir saja."
Melihat Garm tertawa, Nyra pun ikut tertawa pelan. Ketegangan perlahan mencair.
—
Satu jam sebelumnya.
Kael masih terlelap di sofa ruang tamu.
Kanna : "Kakek Kael! Bangun!"
Kael membuka satu mata dengan malas.
Kael : "Hm… ada perlu apa?"
Kanna : "Antar aku ke sekolah!"
Kael menguap.
Kael : "Kenapa bukan kakakmu?"
Kanna : "Kak Nyra harus menjaga Kak Garm. Jadi cepat bangun!"
Kael mencoba mencerna kata-kata itu.
Lalu Kanna menambahkan dengan senyum licik.
Kanna : "Di sekolahku banyak wanita cantik, tahu."
Mata Kael langsung terbuka lebar.
Kael : "APA?!"
Dalam sekejap, ia melompat dari sofa dan berlari ke kamar mandi.
Kanna tertawa kecil.
Kanna (dalam hati):
Kakek Kael mudah sekali dibujuk kalau soal lawan jenis.
Dua puluh menit kemudian, Kael keluar dengan pakaian rapi dan wajah segar.
Kael : "Aku siap."
Kanna menoleh—dan terdiam sejenak.
Kanna : "…Wow."
Kael memang terlihat jauh lebih tampan.
Namun Kanna segera mengingat sesuatu.
Kanna (dalam hati):
Tapi tetap saja… dia sudah hidup seribu tahun.
Mereka berpamitan pada Nyra dan berjalan menuju sekolah.
Di sepanjang jalan, Kael tampak sangat ceria.
Kael (dalam hati):
Mungkin akhirnya aku akan menemukan cinta…
Kanna menatapnya sekilas, lalu berbicara datar.
Kanna : "Oh ya. Murid di sekolahku masih di bawah umur semua."
Harapan Kael runtuh seperti kaca jatuh—sunyi, tapi memalukan.
Kael : "…Apa?"
Kanna : "Mereka masih kisaran delapan sampai sembilan belas tahun."
Kael : "Kenapa kau baru bilang sekarang…"
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan gerbang sekolah.
Kanna langsung disambut dua temannya—seorang elf dan seorang beastkin.
Teman Elf : "Kanna, siapa pria tampan itu?"
Kanna : "Itu kakekku. Namanya Kael."
Teman Beastkin : "Hah?! Mana mungkin itu kakek?"
Kael tersenyum bangga.
Kael : "Aku memang tampan. Tapi jangan jatuh cinta padaku. Kalian masih bocah."
Teman Elf : "Kami sudah 18 tahun, tahu."
Kael terdiam, baru teringat ucapan Kanna tadi—bahwa teman-temannya masih tergolong di bawah umur.
Kanna menghela napas.
Kanna : "Kakek Kael sudah hidup lebih dari seribu tahun. Dia ras campuran elf dan demon."
Kedua temannya terkejut.
Teman Elf : "Itu tidak mungkin… ia lebih tua dari Ratu Elf dan Raja Elf!"
Kael langsung frustrasi.
Ratu Elf dan Raja Elf di dunia ini—yang umurnya bahkan di bawahnya—sudah punya pasangan dan keluarga.
Kael : "Bahkan mereka sudah bahagia…"
Kanna menepuk punggungnya.
Kanna : "Tenang saja. Suatu hari nanti, pasti ada yang cocok untuk kakek."
Kael tersenyum tipis walau sakit mendengar ucapan itu dari seorang bocah.
Setelah Kanna dan teman-temannya masuk ke sekolah, Kael pun berbalik pergi—meninggalkan gerbang sekolah, dengan perasaan campur aduk: harapan yang retak, frustrasi yang konyol, dan tawa kecil yang masih tersisa.
