Cherreads

Chapter 160 - Bab 160: Batu Pelangi dan Tatapan yang Tak Terbaca

Setelah Kael menjauh dari gerbang sekolah pagi itu, ia memutuskan berkeliling kota.

Ia berjalan santai menyusuri jalanan yang ramai, sampai akhirnya berhenti di sebuah toko kecil. Dari obrolan singkat dengan pemilik toko—seorang beastkin yang sekilas tampak manusia, kecuali telinganya yang halus menonjol.—Kael baru tahu nama kota ini: Kota Veyra.

Kael mengamati sekeliling. Dunia ini… benar-benar berbeda.

Di dunia lamanya, ras-ras hidup berdampingan tanpa perang besar, tanpa ketakutan akan monster yang merangsek kapan saja.

Di Elyndor, yang ia dengar justru kebalikannya: politik kotor, korupsi, desa-desa kecil yang runtuh dihajar monster liar.

Kael (dalam hati):

Dunia yang rusak… tapi masih bernapas.

Kael lalu bertanya tentang mata uang.

Pemilik Toko :

"Di sini bisa pakai koin emas, tapi yang paling bernilai… batu kristal berenergi tinggi. Kalau energinya murni, nilainya bisa melampaui ribuan—bahkan jutaan koin."

Kael diam. Tangannya refleks meraih kantung dimensi kecil di pinggang.

Ia merogoh, mencari sesuatu… lalu mengeluarkan sebuah batu kecil—seukuran kerikil—namun berkilau warna pelangi, seperti menahan cahaya di dalamnya.

Begitu batu itu terlihat, pemilik toko membeku.

Pemilik Toko :

"…Itu… batu energi pelangi?"

Nada suaranya turun, seolah takut ucapannya memanggil masalah.

Pemilik toko menelan ludah.

Pemilik Toko (pelan):

"Aku… baru pertama kali melihat yang semurni ini. Ukurannya kecil… tapi nilainya… bisa beberapa juta koin emas."

Kael mengangkat alis tipis.

Kael :

"Di mana aku bisa menukarnya?"

Pemilik Toko :

"Guild pedagang besar, di pusat kota. Gedungnya besar, orang keluar-masuk. Mereka bisa menukar apa saja—selama nilainya jelas."

Kael mengangguk.

Kael :

"Terima kasih."

Ia pergi, meninggalkan toko itu dengan langkah tenang, namun pikirannya berputar.

Kael (dalam hati):

Kalau kerikil saja jutaan… bagaimana kalau batu sebesar kepalan tangan?

Bodoh kalau aku keluarkan.

Sekitar sepuluh menit berjalan, ia melihat gedung besar yang ramai. Banyak ras berlalu-lalang. Di depan tidak ada nama terpampang jelas, tapi aura "pusat perdagangan" terasa kuat.

Kael masuk.

Ruangan luas, penuh meja transaksi, papan informasi, dan suara tawar-menawar. Ia mendekat ke meja resepsionis yang sedang kosong.

Seorang wanita elf menyambutnya.

Wajahnya cantik, rapi, dan—yang paling mencolok—ekspresinya datar, seolah dibuat dari porselen. Sopan, tapi dingin. Profesional, tapi jauh.

Resepsionis Elf :

"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"

Kael mengeluarkan batu energi pelangi itu, lalu meletakkannya di atas meja.

Elf itu mengambilnya dengan dua jari, menatap batu itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ada getaran kecil di matanya—bukan emosi, lebih seperti… perhitungan.

Namun wajahnya tetap tak berubah.

Resepsionis Elf :

"Nilai tukarnya: kisaran lima juta koin emas."

Kael sedikit terkejut—lebih karena perbandingan dengan dunia lamanya.

Kael (dalam hati):

Batu ini di duniaku… cuma cukup buat beli makanan murah.

Elyndor benar-benar aneh.

Ia menahan diri agar tidak terlihat terlalu santai.

Resepsionis Elf :

"Apa anda ingin menukarkannya?"

Kael :

"Aku tukar."

Elf itu mengangguk. Ia memproses transaksi tanpa menanyakan asal batu—seolah aturan di tempat ini sudah jelas: yang penting nilai, bukan cerita.

Saat ia bekerja, Kael memperhatikan wajahnya yang tetap dingin, tangan yang cekatan, dan sikap yang nyaris seperti boneka.

Tiba-tiba Kael berbicara, hanya untuk memecah sunyi.

Kael :

"Ngomong-ngomong... Siapa namamu?"

Tangan elf itu berhenti sebentar—hanya sepersekian detik. Ia menoleh menatap Kael sekilas… lalu kembali menulis, tanpa menjawab.

Kael menahan napas, lalu terkekeh kecil dalam hati.

Kael (dalam hati):

Ini kali kedua aku dibuat seperti udara oleh wanita yang membuatku tertarik.

Hebat. Konsisten sekali nasibku.

Tak lama, transaksi selesai. Sang elf mengeluarkan sebuah kartu penyimpanan koin emas dan menyerahkannya.

Resepsionis Elf :

"Transaksi selesai, Tuan."

"Setelah biaya pemrosesan, saldo tersisa: 4,9 juta koin emas."

Kael menerima kartu itu.

Kael :

"Terima kasih."

Ia berbalik pergi tanpa memperkenalkan diri—tanpa perlu, menurutnya.

Namun ketika punggung Kael menjauh dari meja dan keluar dari ruangan, sang elf menatap ke arahnya.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bergerak di wajahnya—halus, samar, seperti bayangan kesadaran.

Dan ia berbisik pelan—hingga hampir tak terdengar.

Sambil mengusap gelang yang tersembunyi di pergelangan tangan kirinya.

Resepsionis Elf (pelan):

"…Kael."

Kael keluar dari gedung guild pedagang, lalu berjalan di pusat kota dengan kartu emas baru di sakunya.

Ia memikirkan sesuatu.

Kael (dalam hati):

Beli sesuatu untuk Kanna, Nyra, dan Garm…

Setidaknya aku bisa membalas kebaikan mereka.

Perutnya berbunyi—baru ia sadar, sejak meninggalkan rumah Nyra, ia belum makan apa pun.

Ia menemukan sebuah restoran mewah. Tanpa ragu, ia masuk dan memesan hidangan terbaik yang mereka punya.

Tiga puluh menit kemudian, makanan datang. Kael makan dengan tenang… namun pikirannya tidak benar-benar di meja itu.

Ia teringat tatapan kosong sang elf resepsionis… dan penolakan diam-diamnya.

Lalu bayangan lain muncul, jauh lebih lama tertanam: Zeraphine—gadis demon, cinta pertamanya… cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan.

Kael (dalam hati):

Zeraphine… kau bahkan tidak pernah menoleh.

Dan sekarang… aku bahkan tidak tahu kau masih hidup atau tidak.

Kael menelan makanannya pelan, seolah rasa di lidahnya kalah oleh rasa pahit yang tak terlihat.

Setelah selesai makan, Kael memesan beberapa hidangan untuk dibawa pulang. Dengan kantong berisi makanan, ia melangkah keluar restoran.

Langkahnya kembali menuju rumah Nyra—tempat di mana Garm dan Nyra menunggunya pulang di siang hari Elyndor yang cerah.

More Chapters