Cherreads

Chapter 161 - Bab 161: Pengakuan di Tengah Jalan

Pagi itu, rumah Nyra kembali tenang setelah insiden kecil sebelumnya. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama—Nyra memutuskan pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan tambahan.

Namun kali ini, Nyra tidak sendiri.

Di sampingnya, Garm berjalan setia, menolak membiarkan Nyra pergi seorang diri.

Garm :

"Aku ikut. Tidak ada tawar-menawar."

Nyra :

"…Keras kepala."

Mereka menyusuri jalanan Kota Veyra. Nyra membalas sapaan tetangga yang sudah mengenalnya. Senyum-senyum kecil dan lambaian tangan terasa hangat seperti biasa—sampai seorang tetangga wanita dari ras elf menghampiri dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Tetangga Elf :

"Nyra~ siapa pria yang bersamamu itu?"

Nyra tersipu. Lidahnya mendadak kaku, lalu ia menjawab refleks—terlalu cepat, terlalu hati-hati.

Nyra :

"Ah… dia temanku."

Tetangga itu menyipitkan mata, jelas tidak percaya.

Tetangga Elf (menggoda):

"Teman? Beneran teman?"

Nyra buru-buru menambahkan, pipinya makin merah.

Nyra :

"Teman dekat… maksudku!"

Di sampingnya, langkah Garm mendadak berhenti.

Ia menunduk, diam seperti patung.

Nyra masih berjalan beberapa langkah, masih membalas senyum tetangganya… sampai ia sadar sesuatu terasa salah. Ia berbisik hendak meminta maaf—tapi tidak ada jawaban.

Nyra menoleh… dan sisi sampingnya kosong.

Jantungnya nyaris meloncat.

Nyra :

"Garm…?"

Nyra menoleh kanan-kiri, lalu melihat ke belakang. Di sana, Garm berdiri diam, kepala tertunduk, ekspresinya tertutup.

Nyra langsung berlari kecil menghampirinya.

Nyra :

"Apa yang terjadi?! Kamu sakit lagi?"

Garm menggeleng pelan.

Garm (lirih):

"Tidak… hanya… aku teringat… aku harus kembali ke Hutan Terlarang secepatnya. Ada temanku di sana."

Ia melangkah maju tanpa menatap Nyra, suaranya dingin karena menahan sesuatu.

Garm :

"Ayo. Sebagai temanmu… aku tetap akan menemanimu. Setelah itu, aku pergi."

Nyra membeku. Ia paham sekarang—ucapannya barusan menusuk Garm lebih dalam dari yang ia kira.

Nyra menahan napas, lalu berlari dan memeluk pinggang Garm dari belakang. Pelukannya erat, seperti takut pria itu menjauh lagi.

Nyra (bergetar):

"Maaf… maaf… aku tidak bermaksud begitu…"

Air mata menetes tanpa izin.

Garm terdiam beberapa detik. Lalu ia menghela napas, suaranya melembut.

Garm :

"Jangan menangis… Kalau kamu belum siap mengatakannya… kita masih bisa tetap—"

Nyra melepas pelukannya tiba-tiba, lalu berbalik, menatap tetangga elf yang tadi masih berdiri di sana dengan senyum menggoda.

Nyra mengangkat dagu, menelan gugup, lalu bicara keras-keras—seolah ini pengakuan pada seluruh jalan.

Nyra :

"Sebenarnya… dia calon suamiku."

Garm membeku. Jarinya refleks menegang, napasnya tertahan sepersekian detik.

Nyra cepat menambahkan, wajahnya merah padam.

Nyra :

"Maksudku—! Aku minta maaf… aku tadi bohong. Aku hanya… belum terbiasa mengatakannya…"

Tetangga elf itu malah tertawa kecil, santai sekali.

Tetangga Elf :

"Aduh, Nyra… aku sudah tahu."

Nyra melongo.

Tetangga Elf :

"Adikmu sudah cerita duluan. Katanya lelaki itu calon kakak iparnya. Jadi tenang saja—di sini rumor lebih cepat dari angin."

Ia terkekeh kecil sambil tersenyum lebar.

Nyra menutup wajahnya sebentar karena malu, lalu menunduk sopan.

Nyra :

"…Terima kasih sudah mengerti."

Ia menoleh ke Garm yang masih seperti tersihir.

Nyra :

"Garm… kamu sudah memaafkanku?"

Garm masih terpaku, pikirannya hanya menangkap satu bagian kalimat tadi.

Garm (dalam hati):

Calon suami…?

Nyra memanggil namanya berkali-kali sampai akhirnya Garm berkedip dan kembali sadar.

Garm :

"Hah… iya. Maaf. Aku… memaafkan."

Nyra menghela napas lega, lalu merangkul lengan Garm dan menyenderkan kepala ke bahunya—jelas-jelas, tanpa ragu, agar siapa pun yang melihat paham hubungan mereka.

Nyra :

"Mulai sekarang… aku akan jujur. Kepada siapa pun."

Garm menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.

Garm :

"Terima kasih."

— Saus di Ujung Bibir

Sesampainya di pasar, Nyra berbelanja seperti biasa. Garm mengikuti di belakang, membawakan semua barang dan memasukkannya ke dalam kantung dimensi miliknya.

Menjelang siang, Nyra mengajak Garm beristirahat di tempat makan sederhana—tempat yang pernah mereka datangi sebelumnya.

Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, makanan tiba.

Mereka makan berhadapan, suasananya hangat.

Saat Nyra makan pelan, sedikit saus menempel di sudut bibirnya.

Garm melihat itu.

Tanpa berpikir panjang, ia mengusap saus itu dengan ibu jarinya… lalu berhenti sejenak.

Seolah itu hal paling wajar di dunia, ia menjilatnya.

Garm (tenang):

"Jangan sia-siakan."

Nyra tersedak kecil, wajahnya langsung memerah hingga ke telinga.

Nyra :

"…Kamu itu…"

Garm hanya tersenyum dan melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Nyra menunduk malu, tapi hatinya hangat. Di depannya ada sosok pria yang benar-benar peduli—bukan pada kekuatan, bukan pada tubuh, tapi pada dirinya.

— Bangku di Air Mancur

Setelah selesai makan, Garm mengajak Nyra ke air mancur tengah kota.

Mereka duduk di bangku yang sama—tempat dulu Garm menyatakan perasaannya.

Nyra menyender di bahu Garm, menatap air mancur yang memantulkan cahaya siang.

Nyra :

"Kamu ingat… hari itu?"

Garm :

"Ingat. Sangat."

Garm menoleh, suaranya pelan tapi mantap.

Garm :

"Sejak saat itu… kebahagiaanku mulai benar-benar hidup."

Nyra tersenyum, lalu memejamkan mata sebentar.

Nyra :

"Itu juga hari paling bahagia bagiku… Karena ada orang yang menyukaiku bukan karena apa pun… tapi karena ingin mencintai dan dicintai."

Garm mengeratkan pelukannya di bahu Nyra.

— Rumah yang Sunyi, Pria yang Terlelap

Sementara itu, Kael baru saja tiba kembali di rumah sederhana Nyra. Ia memanggil mereka.

Kael :

"Nyra? Garm?"

Tidak ada jawaban.

Ia menelusuri ruangan satu per satu—kosong. Kael menghela napas, menyimpulkan mereka sedang keluar.

Kael membawa makanan yang tadi ia beli, menaruhnya di meja makan, lalu menata semuanya rapi.

Setelah selesai, ia melangkah ke teras. Duduk bersandar di tepi pintu, menatap kosong ke langit.

Pikirannya berputar tanpa jawaban… hingga kelopak matanya berat.

Kael memejamkan mata—dan tanpa sadar, tertidur di teras, ditemani angin siang Kota Veyra.

Angin siang Kota Veyra berhembus pelan… dan untuk sesaat, kesunyian terasa seperti teman lama.

More Chapters