Cherreads

Chapter 162 - Bab 162: Panggilan "Sayang" yang Membakar Pipi

Siang itu, setelah cukup lama bersantai di bangku dekat air mancur tengah kota, Garm menyadari kepala Nyra sudah miring, napasnya teratur—tertidur lelap di bahunya.

Garm tersenyum kecil. Ia membiarkan beberapa detik berlalu, lalu menepuk pelan bahu Nyra.

Garm (lembut):

"Nyra… bangun. Kita pulang, ya."

Nyra mengangkat kepala perlahan dari bahu Garm, mengucek salah satu matanya sambil menguap kecil—lalu langsung merangkul lengan Garm, seperti kebiasaan baru yang sudah ia putuskan sendiri.

Mereka berjalan pulang berdua.

Di tengah jalan, Nyra menunduk, suaranya canggung… tapi jujur.

Nyra :

"Ehm… soal tadi… aku bilang ke tetangga… kamu calon suamiku…"

Garm meliriknya, agak kaget.

Nyra makin merah, tapi tetap menatap lurus.

Nyra :

"Kalau… kamu nggak keberatan… mau nggak kita seriusin?"

Garm berhenti sesaat.

Garm :

"Ini… 'tugas' lagi?"

Nyra mengangguk pelan, bibirnya membentuk senyum malu.

Nyra (senyum malu):

"Iya. Tapi kali ini… aku beneran."

Garm menghela napas lega—campur senang.

Namun ada satu hal yang langsung muncul di kepalanya.

Garm :

"Kalau Kanna dengar ini terlalu cepat—"

Nyra (cepat):

"Kanna pasti setuju. Kalau tidak… dia tidak mungkin cerita ke tetangga dan panggil kamu 'kakak ipar'."

Garm membeku sepersekian detik, lalu tertawa kecil, kali ini benar-benar lepas.

Garm :

"…Kalau begitu, aku tenang."

Ia mendadak teringat sesuatu dan senyumnya berubah jadi sedikit jahil.

Garm :

"Nanti kalau aku sudah menikah… aku akan pamer ke temanku yang demon itu."

Nyra ikut tertawa kecil.

Nyra :

"Jangan begitu. Mungkin temanmu belum menemukan orang yang ia suka."

Garm mengangguk, lalu bicara dengan nada bangga—seolah sedang menceritakan drama besar.

Garm :

"Dia punya orang yang dia suka—dan orang itu ada di Hutan Terlarang. Makanya dia nggak pernah meninggalkan tempat itu. Bahkan ada saingan… jadi dia terus menempel."

Nyra menahan tawa, matanya menyipit geli.

Nyra :

"Kalau begitu… semoga dia menang."

Garm terkekeh. Mereka melanjutkan jalan, hati sama-sama hangat.

—Meja Makan yang Penuh, Teras yang Sunyi

Tak lama, mereka tiba di rumah kecil Nyra. Nyra membuka pintu, langsung menuju dapur untuk menata belanjaan.

Namun begitu ia masuk… ia terdiam.

Di meja makan—sudah tersaji banyak makanan mewah. Aromanya menggoda. Jumlahnya pun tidak wajar untuk rumah sederhana.

Nyra menelan ludah, kaget.

Nyra (lirih):

"…Ini…"

Garm ikut masuk, melihat pemandangan itu, lalu menghela napas paham.

Garm :

"Senior Kael…"

Ia mencari-cari sampai akhirnya menemukan Kael tertidur di teras, bersandar di tepi pintu.

Dari dapur, Nyra memanggil—suara sedikit lebih besar.

Nyra :

"Garm? Ketemu?"

Garm menjawab tanpa sadar—dan tanpa sadar pula, mengucapkan kata yang membuat jantung Nyra hampir berhenti.

Garm :

"Iya, sayang."

Garm menoleh sekilas ke arah dapur—seolah memastikan Nyra benar-benar mendengar.

Garm :

"Senior Kael ada di sini, tertidur. Aku bangunkan."

Di dapur, Nyra membeku.

Kupingnya memerah sampai ujung.

Nyra menutup wajahnya dengan dua tangan.

Nyra (dalam hati):

Sayang…? Aku nggak salah dengar kan…? Kenapa… aku jadi semalu ini…

Ia memaksa fokus, menghangatkan makanan—tapi pipinya tetap panas.

—Kael, Saksi Kemesraan

Di teras, Garm membangunkan Kael pelan.

Garm :

"Senior… bangun. Sudah siang."

Kael mengerjap, menatap Garm di sampingnya.

Kael :

"Berapa lama aku tertidur…?"

Garm :

"Nggak tahu. Tapi ayo makan siang. Nyra sudah siapin juga."

Kael berdiri sambil merapikan rambutnya—masih setengah sadar.

Mereka masuk ke dapur.

Di sana, Nyra sedang menghangatkan makanan.

Begitu Garm dan Kael masuk, Garm langsung bicara lagi—dan sekali lagi Nyra dibuat kikuk.

Garm :

"Butuh bantuan?"

Nyra hampir menjatuhkan sendok.

Nyra (canggung):

"E-eh… bahan belanjaan… keluarkan saja. Susun di stok dan pendingin…"

Garm :

"Baiklah… sayang"

Nyra membeku sepersekian detik.

Garm mengangguk, lalu mengeluarkan satu per satu bahan dari kantung dimensi.

Sementara itu, Kael menatap mereka berdua seperti melihat mimpi yang salah.

Kael (pelan, hampir tidak percaya):

"Aku… sedang bermimpi?"

Ia duduk, termenung, menatap kosong.

Garm selesai, lalu menghampiri lagi.

Garm :

"Sayang, ada yang bisa kubantu lagi?"

Nyra menoleh—kali ini jaraknya terlalu dekat. Ia refleks mundur setengah langkah.

Nyra :

"B-bawa… makanan yang sudah dipanaskan ke meja…"

Garm langsung mengambil piring dan membawanya.

Kael menatap punggung Garm, lalu menatap Nyra, lalu menatap piring… seolah otaknya perlu reboot.

—Makan Siang dan Rasa Iri Seribu Tahun

Akhirnya mereka duduk makan.

Nyra di meja, Garm di sampingnya. Kael berhadapan—masih menatap mereka dengan heran.

Kael akhirnya menyerah dan bertanya.

Kael :

"Apa yang aku lewatkan sampai hubungan kalian jadi… seperti suami istri begini?"

Nyra menunduk, masih malu, tidak berani menatap.

Garm justru menjawab dengan santai, bahkan bangga.

Garm :

"Itu tugas lain dari Nyra. Jadi aku menuruti."

Kael memegang dahinya.

Kael :

"Kapan aku bisa punya pasangan… biar aku nggak iri tiap lihat beginian…"

Garm :

"Cari di kota ini."

Kael mendengus, lalu teringat sesuatu.

Kael :

"Aku tadi ke guild pedagang. Ada elf… yang membuatku tertarik."

"Tapi pas aku mau kenalan… dia cuma menatapku dan mengabaikan tanpa bicara."

Garm tertawa kecil.

Garm :

"Mungkin dia takut umurmu seribu tahun."

Kael langsung kesal.

Kael :

"Dia bahkan belum tahu namaku! Aku juga belum bilang umurku!"

Nyra ikut menoleh, penasaran.

Nyra :

"Kalau makanan-makanan ini… kamu beli pakai apa?"

Kael menjelaskan sambil makan.

Kael :

"Aku tukar batu energi warna pelangi, seukuran kerikil. Dapat beberapa juta gold."

Nyra dan Garm sama-sama kaget—tapi juga lega. Setidaknya Kael tidak kesusahan soal uang.

—"Tugas Istri" dan Kael yang Mau Kabur

Setelah makan, Nyra merapikan piring.

Garm hendak membantu, tapi Nyra menahan.

Nyra :

"Tidak usah. Kamu tunggu saja. Ini… tugas seorang istri nanti."

Garm membeku, lalu tersenyum lebar.

Garm :

"Baiklah… kalau itu yang diinginkan istriku."

Nyra tersenyum malu sambil membawa piring.

Di meja, Kael sampai membuka mulut lebar—kaget tidak main-main.

Garm menoleh.

Garm :

"Ada apa, Senior?"

Kael buru-buru memasang wajah datar.

Kael :

"Lupakan… aku pergi saja. Aku nggak kuat lihat kemesraan kalian."

Ia berdiri.

Garm menahan.

Garm :

"Nanti jemput Kanna, ya. Dia tidak suka menunggu."

Kael mendengus pasrah.

Kael :

"Iya. Tenang saja."

—Elf Tanpa Ekspresi dan Gang Buntu

Kael keluar rumah dan menghembuskan napas panjang.

Kael (dalam hati):

Apa aku ditakdirkan sendiri sampai mati…?

Ia berjalan menuju sekolah Kanna.

Namun di tengah jalan, pikirannya kembali pada elf di guild pedagang—wajah dingin tanpa ekspresi, tak menjawab, seolah boneka.

Kael (dalam hati):

Dia menatapku seperti sedang menghitung sesuatu.

Kael melirik sekitar… lalu tiba-tiba melihat sosok yang familiar.

Elf itu.

Ia berjalan sendiri, memasuki sebuah gang.

Kael menyipitkan mata.

Kael (dalam hati):

Pegawai guild… siang-siang… masuk gang?

Rasa penasaran menang. Kael membuntuti dari kejauhan.

Elf itu menyusuri gang sempit, berbelok beberapa kali, makin dalam… sampai akhirnya masuk ke belokan terakhir.

Kael tidak ingin kehilangan jejak.

Ia memakai teleportasi instan jarak pendek—melompat ke posisi lebih dekat.

Namun saat ia tiba…

Gang itu buntu.

Kael menajamkan indra. Tak ada jejak langkah. Tak ada suara napas. Seolah elf itu tak pernah ada.

Kael menatap sekeliling, lalu meloncat ke atap rumah untuk melihat dari atas.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Kael turun lagi, frustrasi, lalu menggerutu.

Kael :

"…Aneh."

Pada akhirnya, ia mengurungkan niat mengejar. Ia kembali ke jalan utama untuk menuju sekolah Kanna.

Namun di gang buntu itu…

Sang elf sebenarnya ada.

Ia menutupi keberadaannya sepenuhnya—berdiri beberapa langkah dari tempat Kael tadi memeriksa, tenang seperti bayangan.

Elf itu menatap punggung Kael yang menjauh.

Elf (pelan):

"Belum saatnya… Kael."

Dan gang itu kembali sunyi, seolah tak pernah ada siapa pun.

More Chapters