Cherreads

Chapter 163 - Bab 163: Kegelisahan di Depan Gerbang

Di kedalaman Hutan Terlarang, Rei masih berdiri di depan gerbang dimensi—tatapannya tajam, namun dadanya terasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Angin melewati pepohonan, membawa suara daun yang saling bergesekan, seolah ikut berbisik.

Di sampingnya, Lirya memperhatikan perubahan kecil itu sejak tadi.

Lirya :

"Kau… baik-baik saja?"

Rei menoleh sebentar, wajahnya tetap datar.

Rei :

"Aku baik."

Namun Lirya tidak mudah percaya. Ia mengerutkan alis, menahan kesal.

Lirya :

"Jangan bohong. Aku tahu kau gelisah."

"Dan aku ingin… kau berhenti memikul semuanya sendirian, Rei. Karena aku ingin—"

Kalimat Lirya terpotong. Lidahnya kelu. Jujur sepenuhnya terasa terlalu berbahaya—terlalu telanjang—di depan Rei.

Rei menatap Lirya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Rei (dalam hati):

Akhir-akhir ini… dia seperti ingin sekali dianggap ada.

Kalau bahaya itu datang… apa aku bisa benar-benar menjaganya?

Untuk pertama kalinya, Rei mengangkat tangannya—perlahan—lalu mengusap kepala Lirya.

Gerakan itu sederhana, tapi efeknya seperti petir kecil di dada Lirya.

Lirya membeku. Wajahnya memerah sampai ke telinga, napasnya tercekat—antara malu dan bahagia.

Rei (pelan):

"Bukan aku tidak mau berbagi."

"Aku hanya tidak ingin… orang terdekatku sekali lagi jadi korban karena masalah yang kubawa."

Lirya menelan ludah. Ia menatap Rei dengan mata yang bergetar, namun suaranya tetap keras kepala.

Lirya :

"Aku tetap akan membantu."

"Mau aku berguna atau tidak… aku tetap di sini."

Rei tersenyum tipis—hampir tak terlihat.

Rei :

"Kau memang demon yang keras kepala."

Lirya balas tersenyum, walau pipinya masih panas.

— Ratu Dryad dan Kata yang Terlalu Tajam

Tiba-tiba, dari sisi lain, Sylvhia muncul seperti angin yang menemukan celah. Ia merangkul lengan Rei dengan berani.

Sylvhia (ceria):

"Aku juga! Aku juga akan membantu! Aku rela membantu dalam bahaya apa pun!"

Rei menoleh, menatap lengan yang dirangkul itu.

Rei :

"Bantu dirimu dulu."

"Kendalikan nafsumu."

Sylvhia cemberut, tapi matanya tetap terang—seperti anak kecil yang tidak mengenal mundur.

Sylvhia :

"Padahal aku benar-benar suka padamu, Rei…"

"Aku bahkan rela jadi istrimu."

"Apa kau tidak suka aku, Rei?"

Rei diam sejenak. Hening menggantung. Lirya menahan napas.

Lalu Rei menghembuskan napas pelan—dan menjawab, jujur, tapi terlalu tajam.

Rei :

"Kalau kau terus begini…"

"Aku tidak akan pernah bisa menyukaimu."

Seketika, Sylvhia melepaskan lengannya dari Rei.

Wajahnya kosong beberapa detik—lalu senyumnya runtuh seperti daun kering.

Jemarinya gemetar kecil sebelum ia menarik tangannya kembali ke dada.

Tanpa protes, tanpa tangis, ia berbalik dan pergi menuju pohon besar tempat tinggalnya, langkahnya pelan… dan jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Lirya yang tahu Sylvhia adalah saingan cintanya—justru mendadak khawatir. Ia menatap punggung Sylvhia dengan gelisah, namun tak berani mengejar.

Rei hanya menatap ke arah Sylvhia pergi, tanpa mengejar, tanpa memanggil.

Rei (dalam hati):

Maafkan aku, Sylvhia.

Aku tidak bermaksud menyakitimu.

Tapi kau salah satu yang harus kulindungi.

Bencilah aku… asal kau tidak mendekat pada bahaya ini.

— Pesan Angin dari Aerisyl

Tak lama kemudian, hembusan angin terasa berbeda—lebih padat, lebih "sadar."

Itu Aerisyl, datang tanpa wujud, hanya berupa gumpalan angin yang membawa transmisi suara.

Suara Aerisyl menggema di sekitar Rei dan Lirya, lembut namun tegas.

Aerisyl :

"Aku sudah mencari info dari Vhaldrake—pengintai yang biasa mengurusi para penguasa itu."

"Beberapa penguasa memang terlihat seperti membuat perjanjian dengan 'seseorang'… tapi belum jelas dengan siapa, dan apa tujuannya."

"Yang pasti… beberapa tahun terakhir pergerakan mereka aneh."

Rei tetap menatap gerbang, tapi rahangnya mengeras sedikit.

Rei :

"…Vhaldrake akan cari lebih lanjut?"

Aerisyl :

"Iya. Dia akan menyelidiki siapa saja penguasa itu, dan apa tujuan mereka."

Rei menghela napas pelan. Ia tahu—informasi ini belum cukup, namun ia juga tak bisa meninggalkan gerbang.

Rei :

"Sampaikan terima kasihku pada Vhaldrake."

Angin berdesir—seolah Aerisyl mengangguk.

Lalu Aerisyl menambahkan dengan nada yang lebih pelan.

Aerisyl (transmisi):

"Dan… Rei."

"Jangan terlalu keras pada Sylvhia."

"Dia masihlah polos. Karena dia guardian termuda di generasiku."

Rei menjawab tanpa emosi berlebihan, tapi jawabannya justru menunjukkan alasan terdalamnya.

Rei (transmisi):

"Aku tahu."

"Itulah sebabnya… aku tidak ingin dia ikut terseret bahaya."

Di balik angin itu, Aerisyl seperti tersenyum—meski tak terlihat.

Aerisyl (dalam hati):

Sylvhia… kau beruntung.

Orang yang kau cintai… peduli.

Dia hanya melindungimu dengan cara yang tidak lembut.

Setelah menyampaikan semua yang ia tahu, Aerisyl pamit. Angin yang tadi "berat" perlahan kembali menjadi angin biasa—menyisakan Rei dan Lirya di depan gerbang.

— Kecurigaan yang Mengarah ke Dunia Lama

Lirya menatap Rei, ragu.

Lirya :

"Tidak apa-apa… hanya dapat info tidak lengkap begini?"

Rei menatap gerbang lebih tajam, suaranya rendah.

Rei :

"Cukup."

"Untuk membuatku yakin… kemungkinan memang ada orang dari dunia lamaku yang mencoba masuk ke dunia ini… dan dunia manusia."

Lirya terdiam. Kekhawatiran menggelayut di matanya—bayangan tentang dunia Rei yang pernah hancur.

Lirya :

"Kalau begitu… dunia ini bisa—"

Rei memotong pelan, tapi tegas.

Rei :

"Itu tidak akan terjadi."

"Selama aku ada di sini…"

"dan jiwaku yang lain masih bernapas di dunia manusia."

Lirya menelan ludah. Ia ingin percaya—dan ia memang percaya—namun ia tetap gelisah.

Ia melirik ke arah pohon besar tempat Sylvhia pergi tadi.

Lirya :

"Bagaimana dengan Sylvhia…?"

"Dia pasti sakit hati."

Rei mendengar itu.

Namun Rei hanya menoleh sebentar—lalu kembali menatap gerbang dimensi. Tidak ada komentar. Tidak ada penjelasan.

Hanya diam.

Namun diam itu ia pilih… demi kebaikan orang-orang yang ingin ia lindungi.

More Chapters