Cherreads

Chapter 164 - Bab 164: Danau Favorit Sylvhia

Langkah Sylvhia terasa ringan, tapi hatinya justru berat seperti batu basah.

Ia meninggalkan pohon besar tempat tinggalnya—bukan karena tidak sanggup kembali, melainkan karena ia takut… kalau ia tetap di sana, air matanya akan jatuh tepat di depan tempat Rei biasa berdiri.

Angin malam menyisir rambutnya, namun kalimat itu terus berputar di kepala, menancap seperti duri.

"Kalau sikapmu masih seperti ini… mungkin aku tidak akan pernah menyukaimu, Sylvhia."

Sylvhia menahan napas.

Untuk ratusan kali ia menggoda, untuk ratusan kali ia berkata mencintai, ingin menjadi istri, ingin punya keturunan—Rei selalu diam. Mengabaikan. Membiarkan.

Tapi hari ini… Rei menjawab.

Dan jawabannya… terlalu jelas.

Sylvhia berjalan tanpa tujuan, sampai langkahnya membawa dia ke tempat yang sudah sangat ia kenal: sebuah danau kecil di kedalaman Hutan Terlarang—tenang, sunyi, dan sering menjadi tempatnya menenangkan hati.

Ia duduk di pinggir danau, memeluk lututnya. Air danau memantulkan dua rembulan Elyndor, tapi di mata Sylvhia, pantulan itu seperti pecah.

Ia mengingat awal pertemuan—waktu Rei masih seperti "bocah manusia yang terlalu kuat untuk dunia ini."

Ia mengingat bagaimana ia selalu bicara seenaknya, memeluk lengan Rei, menggoda tanpa takut… karena Rei tidak pernah menolak secara nyata.

Namun sekarang…

Air mata jatuh tanpa permisi.

Sylvhia (pelan, nyaris berbisik):

"Jadi… selama ini… aku cuma mengganggumu, Rei?"

"Dan baru sekarang kau bilang…?"

Suara itu tenggelam bersama riak air.

Lalu… ada hembusan angin yang datang dan duduk di sampingnya. Tidak terlihat wujudnya, tapi Sylvhia mengenal "rasa" itu.

Ia tidak menoleh. Ia hanya mengusap air mata dengan punggung tangan.

Sylvhia :

"Untuk apa kau datang… Aerisyl?"

"Kalau ingin mengejekku, silakan. Aku tidak sedang ingin sopan."

Angin di sampingnya diam sebentar—seolah Aerisyl sedang mengatur kata-kata.

Aerisyl (tenang):

"Untuk apa aku mengejekmu?"

"Aku hanya ingin melihat… kau akan lari ke mana kalau sedang senang atau sedih."

Hening sebentar.

Aerisyl :

"Dan ternyata benar. Kau selalu ke sini."

Sylvhia memalingkan wajah.

Sylvhia :

"Sekarang kau sudah melihat. Pergi."

"Biarkan aku sendiri."

Namun Aerisyl tidak bergerak. Angin itu tetap di sana—diam, sabar, seperti kakak yang membiarkan adiknya marah dulu sebelum bicara.

Aerisyl :

"Kau tidak perlu bersedih seperti itu."

"Rei tidak menyimpan dendam pada dirimu."

Sylvhia menertawakan itu—tawa kecil yang getir.

Sylvhia :

"Tidak dendam?"

"Kalau begitu apa maksudnya kata-katanya tadi?"

"Apa aku salah mencintainya… atau caraku yang salah…?"

Aerisyl menghela napas, lalu menatap danau seolah menjadikannya tempat menaruh jawaban.

Aerisyl :

"Kau tidak salah mencintainya."

"Tapi caramu… salah arah."

Sylvhia mengerutkan kening.

Sylvhia :

"Berani sekali kau menasihatiku."

"Bukankah kau sainganku juga?"

Aerisyl menatap Sylvhia—lama—lalu berkata dengan suara yang lebih rendah, lebih jujur.

Aerisyl :

"Aku bukan sainganmu."

"Aku mengagumi Rei… tapi aku tidak mencintainya, tidak menginginkannya."

Sylvhia berkedip, tidak percaya.

Sylvhia :

"Benar-benar… tidak?"

Aerisyl :

"Tidak."

"Aku mengaguminya karena dia bertanggung jawab."

"Dia membawa masalah—monster anomali—ke dunia ini… tapi dia tidak lari."

"Dia tidak minta dunia ini menanggung kesalahannya."

"Padahal… dengan kekuatannya, dia bisa saja menaklukkan semuanya."

Aerisyl menatap danau, suaranya tetap datar, tapi maknanya berat.

Aerisyl :

"Itu alasan aku menghormatinya."

"Dan karena aku menganggapmu… adik…"

"aku tidak akan merebut orang yang kau suka."

Sylvhia langsung cemberut, meski matanya masih basah.

Sylvhia :

"Siapa adikmu…?"

"Umur kita tidak beda jauh."

Aerisyl mendengus pelan.

Aerisyl :

"Tidak beda jauh?"

"Kita beda lebih dari seratus tahun."

"Dan kau masih bilang tidak jauh."

"Lagipula… sikapmu itu yang membuatmu seperti anak kecil."

Sylvhia menggerutu, tapi… hatinya sedikit lebih hangat. Setidaknya, Aerisyl datang bukan untuk menertawakan.

Namun kebingungannya tetap ada.

Sylvhia (pelan):

"Kalau Rei tidak marah…"

"lalu apa maksudnya kata-kata itu?"

"Dan… aku harus bagaimana supaya dia peduli… supaya dia jatuh cinta…?"

Aerisyl diam. Kali ini, ia tidak menjawab.

Di dalam hatinya, Aerisyl hanya berkata:

Aerisyl (dalam hati):

Kau tidak perlu memikirkan cara memikatnya, Sylvhia…

Karena Rei sudah peduli.

Dia hanya melindungimu dengan cara yang keras—cara yang tidak ia tunjukkan sebagai cinta.

Tapi Aerisyl tidak mengatakan itu. Ia hanya berdiri, angin di sekelilingnya mulai bergerak.

Aerisyl :

"Aku harus kembali mencari informasi."

"Rei butuh itu."

Sylvhia menatapnya, lalu menunduk sedikit.

Sylvhia :

"…Terima kasih."

"Karena… setidaknya kau datang."

Aerisyl tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berubah menjadi hembusan angin yang lembut… lalu menghilang di antara pepohonan.

Sylvhia menatap danau beberapa detik lagi, lalu menyeka pipinya.

Wajahnya menunjukkan kesal—bukan pada Aerisyl—melainkan pada kebingungannya sendiri.

Sylvhia (kesal kecil):

"Apasih maksudmu itu, Rei…"

"Aku sungguh bingung."

Ia menarik napas panjang.

Sylvhia (pelan, tekad baru):

"…Baik."

"Aku akan coba mengubah caraku."

Dan Sylvhia pun berdiri, mulai melangkah kembali—pelan—menuju tempat Rei berada.

—Dunia Manusia: Ledakan di Tengah Tawa Kolam Renang

(Timeline: Dunia manusia—masa liburan di hotel, terpisah dari kejadian di Hutan Terlarang.)

Di tepi kolam renang hotel, Rei duduk dengan santai. Rambut putihnya yang masih sedikit basah memantulkan cahaya siang, sementara suara air dan tawa para pengunjung bercampur dengan angin hangat.

Di sampingnya, Aelria duduk menekuk lutut, memandang Rei dari samping—tatapannya lembut, tapi penuh rasa ingin tahu.

Aelria :

"Rei…"

"Tadi… waktu Ravien panik… kamu kelihatan khawatir juga."

"Apa kamu tahu sesuatu?"

Rei menatap Aelria sebentar, lalu tersenyum tipis seperti pasrah.

Rei :

"Ternyata… aku tidak bisa menyembunyikan apa pun kalau dekat kamu."

Aelria tersenyum kecil, matanya menghangat.

Aelria :

"Karena aku satu-satunya yang tahu kamu sejak SMP."

"Bahkan… saat kamu sendiri pun, aku bisa lihat dari cara kamu diam."

Rei menghela napas pelan, lalu mengusap kepala Aelria—gerakan yang membuat Aelria sedikit terkejut, tapi tidak menolak.

Rei :

"Makasih… karena mengerti."

"Aku cuma berharap… kekhawatiranku tidak terjadi."

Mereka menikmati jeda itu—sunyi yang nyaman—sampai…

BOOOOM!

Sebuah ledakan mengguncang udara.

Air kolam bergetar. Suara tawa berhenti seketika. Semua kepala menoleh ke arah hotel.

Dari lantai atas… tampak asap tebal keluar dari salah satu bagian hotel—dan Rei langsung mengenali arah itu dengan jantung yang mendadak turun.

Itu… dari lantai 3.

Dari area kamar mereka.

Wajah Rei berubah. Aelria membeku.

Di sekitar mereka, teman-teman lain juga tersentak—ada yang berdiri, ada yang refleks berteriak memanggil nama.

Dan di saat itu, satu nama langsung menghantam pikiran semua orang yang tahu siapa ada di sana:

Hina.

Ravien.

Seris.

Tanpa perlu komando, kepanikan menyebar.

Rei berdiri paling cepat, suara napasnya tertahan.

Rei :

"…Asap itu… kamar kita."

Aelria langsung bangkit.

Aelria (panik):

"Rei—!"

Namun Rei sudah bergerak. Yang lain menyusul—berhamburan keluar dari area kolam.

Langkah kaki bertubrukan. Handuk berjatuhan. Air menetes dari tubuh mereka, tapi tidak ada yang peduli.

Mereka semua berlari menuju hotel… menuju lantai 3… menuju satu hal yang sekarang hanya bisa mereka pikirkan:

Apa yang terjadi di kamar itu…?

More Chapters