Cherreads

Chapter 195 - Bab 195: Taman Jiwa dan Kedatangan Tak Terduga

Hamparan bunga itu masih bergoyang pelan diterpa angin lembut.

Di bawah pohon besar yang menaungi meja kecil dan dua bangku, Hina masih berdiri dengan wajah penuh waspada. Matanya belum lepas dari gadis manusia asing yang baru saja memanggil namanya.

Hina:

"Kamu... siapa?"

"Kenapa kamu tahu namaku?"

"Dan... sebenarnya ini di mana?"

Gadis itu tersenyum lembut. Tidak ada aura ancaman dari dirinya. Wajahnya justru memiliki ketenangan aneh—tenang yang terasa tua, sedih, dan hangat sekaligus.

Gadis itu menaruh satu tangan di dada, lalu memperkenalkan dirinya.

Elyss:

"Namaku Elyss."

"Setidaknya… begitulah ia memanggilku."

Hina terdiam sesaat. Ia masih belum mengerti apa pun, tetapi setidaknya sekarang ia punya nama untuk memanggil gadis di depannya itu.

Hina akhirnya membalas dengan sopan, walau nada suaranya masih penuh kebingungan.

Hina:

"Aku... Hoshizora Hina."

Setelah itu Hina langsung kembali bertanya. Terlalu banyak hal yang membuat dadanya sesak.

Hina:

"Tapi kenapa kamu tahu namaku?"

"Kenapa aku ada di sini?"

"Apa aku masih diculik?"

"Apa ini mimpi?"

Elyss tersenyum lagi—senyum yang anehnya tidak membuat Hina takut, justru membuat kegelisahannya sedikit mereda.

Elyss:

"Tidak perlu khawatir, Hina."

"Di sini kamu aman."

"Dan yang ada di sini sekarang... bukan tubuh fisikmu."

"Melainkan jiwamu."

Mata Hina melebar.

Hina:

"Jiwaku...?"

Elyss mengangguk pelan.

Elyss:

"Aku menyelamatkan jiwamu."

"Karena jiwamu kuat."

"Dan lebih langka daripada yang kau kira."

Hina hanya bisa memandangnya tanpa berkedip.

Elyss lalu melanjutkan, suaranya pelan seperti sedang membaca isi hati seseorang yang sudah lama ia amati.

Elyss:

"Jiwamu terasa seperti jiwa yang lama hidup dalam kesendirian."

"Namun akhirnya..."

"Kamu mendapatkan seseorang yang menyelamatkanmu dari kesendirian itu."

Ucapan itu membuat Hina terdiam.

Seolah sesuatu menyentuh bagian paling lembut di dalam hatinya.

Dan tanpa sadar, di tengah kebingungan ini, yang muncul di benaknya adalah satu sosok.

Ravien.

Cara Ravien memandangnya.

Cara Ravien memanggilnya.

Cara Ravien berdiri di sisinya saat ia merasa tak punya siapa-siapa.

Bibir Hina perlahan melengkung menjadi senyum kecil.

Elyss yang melihat perubahan itu ikut tersenyum.

Elyss:

"Syukurlah."

"Berarti aku tidak salah."

Namun Hina segera tersadar kembali. Ia menatap Elyss dengan heran.

Hina:

"Kenapa kamu tahu semua itu?"

"Kenapa aku ada di sini?"

"Dan… bagaimana caraku kembali?"

Pertanyaan itu keluar beruntun tanpa bisa ia tahan lagi.

Elyss justru terkekeh kecil, menutup mulutnya dengan jari-jari yang halus. Ia lalu berjalan melewati sisi Hina, menuju meja kecil di bawah pohon.

Saat melewati Hina, ia berkata dengan santai:

Elyss:

"Mari kemari dulu."

"Duduklah."

"Kamu pasti bingung, dan pertanyaanmu terlalu banyak untuk dijawab sambil berdiri."

Hina menoleh, masih ragu.

Namun ia sadar, saat ini ia memang tidak punya pilihan lain.

Akhirnya Hina mengikuti Elyss dari belakang, melangkah menuju meja kecil dan dua bangku yang seolah memang sudah disiapkan untuk mereka.

---

Sementara itu, di dunia manusia...

Sore di pantai perlahan turun menjadi malam.

Langit yang tadi jingga mulai berubah gelap, dan suara ombak terdengar lebih dalam dari sebelumnya.

Setelah lama berdiri memandang laut, Ravien akhirnya membalikkan badan.

Rei yang sejak tadi menemaninya tanpa banyak bicara langsung ikut melangkah dari belakang.

Di tengah perjalanan kembali menuju hotel, Rei menoleh sekilas ke arah Ravien.

Rei:

"Ravien."

"Bisa kau bersikap lebih tenang nanti saat kita menemui yang lain?"

Ravien yang berjalan di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, lalu tersenyum tipis—tipis sekali, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa pikirannya sedikit lebih jernih dari sebelumnya.

Ravien:

"Baiklah."

"Aku akan berusaha."

Rei menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

Rei:

"Kalau begitu, tetap tenang saat di dalam nanti."

Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit, mereka akhirnya sampai di depan kamar Aelria—kamar yang saat ini masih dipenuhi semua orang.

Begitu pintu dibuka, seluruh tatapan langsung mengarah pada Rei.

Lalu Rei melangkah masuk lebih dulu dan berkata ringan:

Rei:

"Lihat siapa yang kubawa."

Semua orang menoleh.

Dan saat melihat Ravien berdiri di belakang Rei dengan wajah yang sudah jauh lebih tenang.

Suasana kamar yang sejak tadi tegang akhirnya mengendur sedikit.

Seolah semua orang baru bisa bernapas lagi setelah melihat Ravien tidak meledak seperti yang mereka takutkan.

Airi menarik napas lega.

Rika tampak ikut lega.

Rinna yang tadinya bersandar di dinding akhirnya menurunkan bahunya.

Noelle dan Nerine juga saling pandang—seolah sama-sama mengakui bahwa setidaknya badai pertama sudah mereda.

Seris yang masih duduk di kasur langsung menatap kakaknya. Wajahnya kembali dipenuhi rasa bersalah.

Seris:

"Ka... maafkan aku. Kalau saja aku lebih kuat—"

Namun Ravien langsung memotong perkataannya.

Ravien:

"Tidak perlu meminta maaf."

"Ini juga salahku."

"Aku terlambat menyelamatkan Hina."

Seris terdiam.

Tapi kalimat itu justru membuat dadanya sedikit lebih lega.

Karena setidaknya... kakaknya tidak menyalahkannya seperti yang ia takutkan.

Aelria yang berdiri di dekat jendela akhirnya maju satu langkah.

Aelria:

"Lalu... apa langkah selanjutnya?"

"Bagaimana kita menemukan keberadaan Hina?"

Sekali lagi ruangan menjadi hening.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Seris lalu mengangkat wajahnya sedikit, seolah baru mengingat sesuatu.

Seris:

"Apa kakak sudah bertanya pada paman... atau Ka Lirya...?"

Ravien mendengar itu, lalu tanpa banyak bicara mengulurkan tangan ke kantung dimensi kecil miliknya.

Jarinya masuk ke dalam, mencari bola kristal komunikasi.

Tetapi tepat saat ia hendak mengeluarkannya—

terdengar suara seorang wanita dari belakang mereka.

Suara itu tenang. Tegas. Dan sangat familiar bagi dua orang di ruangan itu.

Suara Wanita:

"Tidak perlu, Ravien."

Seketika semua orang menoleh dengan terkejut.

Udara di dalam kamar terasa berubah.

Dan di sana—dekat pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka sedikit—berdiri beberapa sosok yang muncul tanpa ada seorang pun menyadarinya.

Di paling depan berdiri seorang wanita demon dengan aura dominan yang membuat udara di ruangan itu seolah mundur setengah langkah.

Lirya Vhal'Raine.

Di belakangnya berdiri dua orang—seorang wanita demon dan seorang pria elf—keduanya tampak seperti bawahan terpercaya.

Seris sontak mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya.

Matanya melebar.

Seris:

"Ka... Ka Lirya...?"

Ravien yang tadi hendak mengeluarkan bola kristal membeku sesaat. Matanya menatap kakak pertamanya itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Sementara yang lain hanya bisa terdiam—karena bahkan tanpa mengenal siapa Lirya, mereka bisa merasakan bahwa wanita itu bukan orang biasa.

Lirya menatap ruangan itu satu per satu.

Lalu pandangannya berhenti pada Ravien.

Lirya:

"Sepertinya..."

"Aku datang di waktu yang tepat."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Hina diculik...

harapan kecil kembali menyala di dalam kamar yang penuh kecemasan itu.

More Chapters