Kaivan mengembuskan napas perlahan. "Aku tahu Ethan ada di sini. Tapi kenapa kamu?"
"Oh, kamu malah bertanya padaku?" gumam Isabel. Suaranya hampir tidak lebih keras dari hembusan angin. Getarannya lembut, membawa emosi yang bahkan sulit ia jelaskan sendiri. "Kamu bilang akan ada di sini hari Sabtu… jadi aku datang untuk menanyakan namamu."
Kaivan terdiam. Matanya sedikit menyipit, jelas terkejut. Hanya karena itu? Di balik wajahnya yang tenang, berbagai pikiran saling bertabrakan. Kebingungan, kehangatan samar, dan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia beri nama.
Akhirnya ia berbicara dengan nada datar, hampir terdengar lelah. "Kaivan."
Satu kata sederhana, namun terasa berat, seolah ia baru saja memberikan lebih dari sekadar nama. Seakan ia berharap kali ini gadis itu benar benar akan mengingatnya.
Ethan yang masih bersandar santai di dinding menyalakan rokok lagi lalu bergumam, "Jadi kamu kenal gadis ini juga, ya, Kaivan?"
Nada suaranya terdengar malas menggoda, tetapi matanya tetap tajam.
Kaivan melirik Ethan, lalu kembali menatap Isabel. "Aku bertemu dengannya setelah keluar dari kantor polisi. Dia kehilangan ponselnya, dan aku membantunya menemukannya."
Nada suaranya tenang, penjelasannya logis, seolah meredakan ketegangan tipis yang menggantung di antara mereka.
Raphael yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. "Ahh, jadi kamu menolongnya… tapi tidak memberi tahu namamu?"
Nada suaranya ringan. Senyum samar terlihat di bibirnya.
Kaivan menghela napas dan mengangkat alis. "Aku sudah memberitahunya. Lebih dari sekali. Tapi dia tetap tidak bisa mengingatnya."
Isabel berkedip. Pipinya langsung memerah. Ia memainkan jari jarinya dengan canggung.
"A… aku tidak bermaksud begitu. Kamu tahu sendiri aku memang pelupa," katanya pelan. Matanya tertunduk, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang tulus.
Kaivan menatapnya beberapa detik lebih lama. Nada suaranya sedikit melunak.
"Mungkin sekarang kamu akan mengingatnya."
Tidak ada nada mengejek. Hanya ketulusan yang tenang, meresap perlahan di antara keheningan.
Isabel tersenyum tipis, wajahnya masih memerah.
"Ya… sekarang aku ingat. Kaipan."
Ia mengucapkannya perlahan, seperti sebuah janji untuk tidak melupakannya lagi.
Kaivan mengernyit. "Bukan P. Tapi V. Kaivan."
Wajah Isabel semakin merah.
Ethan tertawa kecil menahan tawa, sementara Raphael menyeringai.
"Setidaknya dia berusaha. Itu sudah kemajuan, kan?" godanya.
Perjalanan pulang berlangsung tenang.
Ethan memimpin di depan dengan motornya. Isabel duduk di belakangnya, kedua tangannya menggenggam dengan hati hati. Angin malam menyelimuti mereka, membawa pergi percakapan percakapan kecil.
Setelah beberapa saat, Ethan melirik ke belakang.
"Jadi begitu ceritanya? Kaivan membantu kamu menemukan ponselmu yang dicuri?"
Isabel tersenyum tipis sambil menatap jalan kosong di depan.
"Iya. Dia menendang pencurinya keras sekali sampai orang itu terpental," katanya lembut.
Ada nada kagum di suaranya, terbawa angin malam seperti kenangan yang belum sepenuhnya memudar.
Di motor lain, Kaivan menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
Pikirannya kembali pada bayangan toko gadai itu. Pertemuannya dengan Isabel terasa seperti seutas benang takdir yang diam diam ditarik oleh Tome Omnicent.
Saat mereka tiba di bengkel, lampu kuning hangat menyambut mereka. Cahayanya membentang panjang di lantai, membentuk bayangan yang memanjang.
Ethan dan Isabel turun lebih dulu. Kaivan menyusul setelah memarkir motornya di tempat biasa.
Dari ambang pintu, Zinnia muncul.
Siluetnya tampak tegas di bawah cahaya redup. Kedua tangannya terlipat di dada. Matanya langsung tertuju pada Isabel, tajam dan penuh kecurigaan.
Tanpa basa basi, Zinnia menunjuk ke arah Isabel.
"Dan dia ini siapa lagi, Kaivan?" tanyanya datar.
Nada suaranya tajam namun tetap tenang.
Kaivan menghela napas, seolah sudah menduga reaksi itu sejak awal. Ia menatap Zinnia dengan tenang.
"Namanya Isabel. Aku membantu menemukan ponselnya yang dicuri."
Zinnia tidak langsung menjawab.
Matanya menyapu Isabel dari kepala sampai kaki, menilai dalam diam.
Setelah beberapa detik, ia bergumam pelan.
"Baiklah kalau begitu…"
Lalu ia berbalik dan kembali masuk ke dalam bengkel, meninggalkan udara yang terasa sedikit tegang.
Di dalam ruangan, aroma logam, oli, dan kabel kusut menyelimuti udara.
Lampu neon pucat menggantung di langit langit, menerangi meja kerja yang dipenuhi ponsel lama, catatan berantakan, dan alat alat setengah jadi.
Di tengah ruangan berdiri papan tulis besar yang penuh dengan sketsa dan diagram, seperti cerminan labirin pikiran Kaivan.
Kaivan berjalan mendekatinya.
Ia menghapus sebagian diagram dengan spidol, pikirannya tenggelam begitu dalam hingga ia tidak menyadari suara pintu yang kembali terbuka.
angkah langkah penuh semangat memasuki ruangan.
Radit, Felicia, Frans, dan Thivi datang bersama, membawa gelombang suara dan kehangatan yang langsung memenuhi bengkel. Thivi, dengan senyum cerah dan energi cerianya, segera berlari mendekati Kaivan lalu memeluknya erat, seolah mereka sudah tidak bertemu selama bertahun tahun.
"Sudah dua minggu, tahu! Dan minggu lalu kamu pergi jalan jalan tanpa bilang apa apa padaku," godanya, matanya berkilau nakal.
Kaivan menatapnya datar, spidol masih berada di tangannya.
"Siapa yang bilang aku pergi jalan jalan minggu lalu?"
Thivi menunjuk Radit dengan dagunya.
"Radit yang bilang! Katanya kalian bahkan sampai menginap di hotel."
Radit yang baru saja meneguk air dari botolnya langsung tersedak.
"Hah?! Aku cuma menjawab pertanyaannya! Aku tidak bilang itu jalan jalan atau apa pun!"
Kaivan menatapnya, ragu antara bingung dan kesal. Ia menahan diri untuk tidak berkata apa apa.
Apa yang terjadi minggu lalu sama sekali bukan liburan. Menghadapi geng Ethan, berurusan dengan penadah ponsel curian, dan terseret ke dalam kasus terorisme bersama Raphael. Tidak satu pun dari itu yang ingin ia ceritakan.
Sementara itu, Isabel diam diam memperhatikan percakapan antara Kaivan dan Thivi. Matanya dipenuhi rasa ingin tahu.
Ada kehangatan di antara mereka. Sebuah kedekatan yang terasa alami, dan entah kenapa hal itu membuat dadanya sedikit sesak. Ia sendiri tidak benar benar mengerti alasannya.
Namun sebelum ia sempat memikirkan perasaan itu lebih jauh, pandangannya tertuju pada Frans.
Matanya langsung membesar karena terkejut.
Tunggu… bukankah itu pria yang ia lihat di sekolah?
"Hei, kamu yang waktu itu bersama pacarmu, kan!" seru Isabel tiba tiba, matanya menyipit tidak percaya sambil menunjuk langsung ke arah Frans.
Frans membeku.
Matanya melebar, rahangnya sedikit terbuka. Ia benar benar terkejut oleh seruan mendadak itu.
Beberapa detik hening berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat alis dan menunjuk balik ke arah Isabel.
"Kamu… Isabel, kan? Kita satu sekolah?"
Pertanyaan itu langsung menarik perhatian semua orang.
Zinnia yang sedang membawa kotak berisi bagian bagian ponsel bekas berhenti di tengah langkahnya. Dengan rasa penasaran, ia mendekat lalu bergantian menatap Isabel dan Frans.
"Tunggu sebentar… kalian saling kenal?" tanyanya tenang, namun jelas menyimpan ketertarikan.
Frans mencoba menenangkan dirinya dan memaksakan senyum kecil.
"Tidak dekat juga sih. Aku cuma tahu dia sekolah di tempat yang sama denganku. Tapi tetap saja… agak kaget melihatnya di sini."
Kata di sini membuat ekspresi Isabel langsung menegang.
"Di sini? Maksudmu kelompok itu, yang membuat bom dari ponsel bekas?!"
Radit langsung melirik Raphael, satu satunya mantan teroris di ruangan itu, lalu tertawa canggung.
"Hahaha, sepertinya dia tahu soal…"
PLAK!
Tangan Zinnia mendarat tepat di kepala Radit.
