"Aduh! Apa sih, Zinnia?!" erang Radit sambil memegangi kepalanya.
Zinnia terkekeh pelan, tetapi matanya tetap serius. Ia lalu menoleh pada Isabel dan mengambil alih situasi dengan ketenangan yang tegas.
"Begini yang sebenarnya," katanya dengan suara stabil dan menenangkan. "Kami bukan kelompok berbahaya. Kami mengumpulkan ponsel lama, membongkarnya, mengambil bagian yang masih bernilai, lalu menjualnya. Hanya itu saja. Kalau Kaivan membawamu ke sini, artinya dia percaya padamu. Dan kalau kamu sudah di sini… kemungkinan besar kamu juga akan ikut membantu."
Isabel mendengarkan dengan saksama. Ia mengangguk perlahan, meskipun di matanya masih terlihat rasa penasaran dan sedikit kebingungan. Dari sudut ruangan, Ethan dan Raphael hanya memperhatikan dalam diam, menunggu bagaimana gadis itu akan menanggapi.
Setelah beberapa saat, Isabel akhirnya bertanya dengan hati hati. "Jadi... tidak ada dari kalian yang, hmm, terlibat sesuatu yang berbahaya seperti teroris, kan?" Suaranya sedikit ragu, tetapi terselip kelegaan di balik pertanyaan itu.
"Kami tidak berbahaya, tenang saja," jawab Zinnia santai.
Namun sebelum suasana benar benar tenang, Radit tidak bisa menahan diri untuk tidak menyela lagi.
Ia bersandar di kursinya sambil menyeringai. "Walaupun secara teknis, salah satu dari kita dulu pernah..."
PLAK!
Felicia yang sejak tadi diam tiba tiba menghantam kepala Radit dengan keras. Pukulannya begitu kuat sampai Radit terjatuh dari kursi dan menghantam lantai dengan bunyi keras.
Matanya berputar seperti kompas rusak sebelum tubuhnya lemas tak bergerak.
Seluruh ruangan langsung hening.
Zinnia mengangkat jempol ke arah Felicia sambil menyeringai puas. Felicia hanya menghela napas tanpa ekspresi. Ia meraih kerah baju Radit seperti mengangkat karung barang rongsokan, lalu menyeretnya keluar ruangan.
"Lanjutkan saja. Dia cuma tersedak sedikit. Aku akan memberinya CPR versi cepat," katanya datar sebelum menghilang di balik pintu dengan langkah tenang.
Dari lantai atas terdengar suara lemah Radit.
"Hei! Aku masih hidup! Tolong! Aku bukan limbah elektronik!"
Suara dingin Felicia membalas dari kejauhan.
"Sayangnya kamu lebih sering rusak daripada ponsel bekas."
Radit langsung panik. "Tidak, tidak, TIDAAK!"
Beberapa bunyi benturan dan derit terdengar saat teriakannya menjauh menaiki tangga. Suara itu bercampur menjadi irama kacau antara horor dan komedi.
Yang lain hanya bisa saling bertukar pandang. Setengah kasihan, setengah menahan tawa.
Sementara itu Isabel menelan ludah. Wajahnya pucat dan sedikit gemetar. Mata merah mudanya melebar tak percaya.
"A-Apa itu tadi...? Wanita itu memukul pria itu sekali lalu menyeretnya seperti kantong sampah... Ini benar benar kelompok berbahaya..." gumamnya pelan.
Kaivan yang sejak tadi memperhatikan menghembuskan napas panjang. Ia tahu Isabel tidak terbiasa dengan kegilaan seperti ini.
Dengan langkah tenang, ia mendekatinya dan mengangkat satu alis, mengamati ekspresi takut di wajahnya.
"Sepertinya aku perlu menjelaskannya lebih jelas," kata Kaivan datar. "Kami membeli ponsel rusak, membongkarnya, lalu mengekstrak emasnya. Hanya cara untuk mendapatkan uang tambahan."
Isabel memiringkan kepala, masih bingung. "Tapi… kalian semua masih muda. Kenapa jadi pemulung?" tanyanya polos tanpa maksud buruk.
Thivi langsung membeku.
Matanya menajam seperti pisau. "Hei! Kami bukan pemulung! Kami membelinya, bukan memungutnya dari tanah!" suaranya memotong udara dengan emosi yang panas.
Kaivan segera menengahi. Ia menaruh tangan di kepala Thivi lalu mengacak rambutnya pelan.
"Sudah. Jangan marah. Dia hanya belum mengerti," katanya lembut, tetapi nadanya mengandung wibawa yang tenang.
Thivi mendengus kecil lalu memalingkan wajah, berusaha menenangkan amarahnya.
Dari sudut ruangan, Ethan bersandar santai.
"Jadi... bagian mana dari ponsel yang sebenarnya mengandung emas?" tanyanya ringan, meskipun matanya berkilau penasaran.
Zinnia segera mengambil papan tulis kecil. Ia menghapusnya dengan cepat lalu mulai menggambar struktur ponsel.
"Di sini. Ini bagian bagian utama yang mengandung jejak emas. Sedikit, tapi bernilai," jelasnya dengan antusias.
Ethan mendekat sambil memperhatikan. Ia menelusuri tepi gambar di papan itu dengan jarinya.
"Jadi bagian mana yang benar benar punya emas?" tanyanya tanpa berkedip.
Zinnia mengangguk. "Konektor dan jalur pada papan sirkuit," jawabnya.
Tangannya bergerak cepat menggambar tiap lapisan sambil menjelaskan proses ekstraksinya. Suaranya tenang namun penuh keyakinan, seolah menarik semua orang masuk ke dunia logika dan ketelitian miliknya.
Raphael mengangguk pelan, wajahnya serius.
"Aku tidak menyangka ada sebanyak ini yang bisa dimanfaatkan," gumamnya sambil mengusap dagunya. Lalu ia menoleh pada Isabel, menunggu reaksinya.
Isabel menatap diagram penuh catatan dan panah itu.
Alisnya sedikit berkerut, tetapi ada kilau kagum di matanya.
"Aku tidak pernah membayangkan ponsel bisa menjadi sumber emas. Rasanya seperti... menemukan sesuatu yang tersembunyi," katanya pelan.
Zinnia tersenyum puas.
"Butuh kesabaran dan alat yang tepat. Karena itu kami bekerja bersama. Itulah tujuan kelompok ini," katanya sambil melirik mereka satu per satu dengan kebanggaan kecil di matanya.
Percakapan mengalir dengan ringan. Tawa bercampur dengan rasa penasaran yang baru tumbuh.
Di ruangan redup itu, mereka tidak lagi terasa seperti sekumpulan orang acak yang mengerjakan tugas yang sama. Perlahan mereka mulai terasa seperti keluarga kecil yang terikat oleh kepercayaan.
Namun di tengah kehangatan itu, Isabel yang sejak tadi diam akhirnya kembali berbicara.
"Kalau semua ini selesai… bagaimana kalian mendengar hasil teksnya dari tempat jauh?"
Pertanyaan itu langsung menghentikan semuanya.
Kaivan menoleh, sedikit heran. Pertanyaan itu bukan hanya tajam, tetapi datang dari Isabel yang biasanya jarang ikut dalam diskusi teknis.
Ia menatap gadis itu dengan rasa ingin tahu, bercampur sedikit kekaguman.
"Kamu memikirkan itu sendiri?"
Isabel mengangguk.
Namun ia tidak datang dengan tangan kosong.
Ia mengangkat sebuah buku tua yang sudah usang. Tome Omnicent.
Halaman halamannya yang kuno bergetar perlahan, seolah digerakkan oleh angin yang tidak terlihat.
Matanya bertemu dengan mata Kaivan.
"Tidak," katanya pelan sambil menatap halaman kosong itu. "Aku bertanya pada buku ini apa sebenarnya yang tertulis di sana."
Lalu pandangannya beralih pada Kaivan."Dan buku ini bilang mind map itu belum lengkap. Masih ada sesuatu yang hilang."
Ruangan itu membeku. Bahkan Zinnia yang biasanya cepat bereaksi berdiri tanpa bergerak.
Tome Omnicent terbuka di tangan Isabel. Hidup. Beresonansi. Sebuah kebenaran yang mustahil menggantung berat di udara.Buku yang selama ini hanya merespons Kaivan… kini terbuka untuk Isabel.
Keheningan terasa memekakkan.Setiap napas. Setiap detak jantung.Semuanya terdengar lebih keras daripada kata kata.Lalu Frans memecah kesunyian itu. Suaranya rendah, tetapi penuh makna.
