"Jadi maksudnya… siapa pun dari kita juga bisa menggunakannya, kan?"
Kata-katanya menyebar di udara seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan air yang tenang, menimbulkan riak kegelisahan sekaligus kekaguman. Tatapan orang-orang beralih kepadanya. Di setiap mata itu tersimpan rasa penasaran, dan sesuatu yang lebih dalam, harapan yang diam-diam tumbuh.
Kaivan yang sejak tadi bersandar di meja mengangkat alisnya sedikit. Tatapannya menajam saat menilai Frans. Namun sebelum ia sempat menjawab, suasana di ruangan kembali berubah.
Pertanyaan yang sama menggantung di benak semua orang. Apakah Tome itu benar-benar hanya milik Kaivan? Jika Isabel bisa menyentuhnya, lalu apa artinya bagi mereka?
Langkah kaki berat terdengar dari lorong. Radit menerobos masuk ke dalam ruangan dengan napas terengah dan mata membelalak. "Tunggu! Kalau Isabel bisa menggunakan Tome Omnicent, berarti kita semua juga bisa, kan?!"
Felicia muncul di belakangnya, menatap tajam dengan kedua tangan terlipat di dada. Radit menyeringai kecil sambil melangkah maju perlahan.
"Baiklah... kalau siapa pun bisa memakainya, biar aku mencoba sesuatu."
Semua orang memperhatikan dengan saksama. Radit mengulurkan tangan, menyentuh permukaan buku yang kasar dengan ujung jarinya secara hati-hati. Ia menarik napas dalam, lalu berbisik pelan.
"Siapa belahan jiwaku?"
Sunyi.
Seolah waktu berhenti bergerak. Semua mata terpaku pada halaman kosong itu. Tidak ada tulisan. Tidak ada cahaya. Tome Omnicent tetap diam, menolak memberikan jawaban.
Ekspresi Radit berubah perlahan, dari penuh harap menjadi bingung, lalu berakhir pada kekecewaan. Ia menggoyangkan buku itu sedikit sebelum menghela napas panjang.
"Kupikir setidaknya bakal muncul nama atau semacamnya." Ia meletakkan buku itu kembali di meja sambil memaksakan senyum miring.
Felicia mengangkat alisnya. "Mungkin halaman kosong itu berarti kamu memang tidak punya," godanya ringan, sudut bibirnya melengkung dalam senyum jahil.
Frans yang berdiri di samping Radit menahan tawa. "Kupikir kamu tidak peduli soal romansa," tambahnya dengan nada menggoda. Candaan itu menyebar ke seluruh ruangan, berubah menjadi senyum yang saling berbagi.
Radit langsung membela diri, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan sesuatu yang memalukan. "Hei, aku juga manusia! Kejam sekali, Fel. Masa dibilang tidak punya belahan jiwa!"
Tawa pecah memenuhi ruangan, memecahkan ketegangan yang sejak tadi menggantung. Zinnia menutup mulutnya, matanya berkilau menahan tawa. Thivi menunduk, bahunya bergetar karena tertawa pelan. Ethan dan Raphael saling bertukar pandang sebelum akhirnya ikut tersenyum kecil.
Untuk sesaat, beban di udara terasa terangkat. Tawa mereka seakan mengusir beratnya dunia.
Namun ketika tawa itu perlahan mereda, kesunyian kembali datang.
Tatapan mereka beralih lagi pada Tome Omnicent yang tetap tak bergerak.
Zinnia yang masih menyisakan senyum tipis melangkah maju. Jari-jarinya yang ramping menyentuh permukaan tome itu dengan tenang.
Matanya tajam, tetapi dipenuhi harapan.
"Baiklah," bisiknya pelan, seperti doa yang melayang di udara. "Apakah ada rahasia tentang perjalanan kita yang bisa kau bagikan?"
Tetap tidak ada jawaban.
Halaman itu masih kosong. Tidak ada cahaya. Tidak ada kata-kata. Hanya kesunyian yang seolah mengejek dengan lembut.
Zinnia menarik napas pelan lalu mundur dengan senyum kecil yang berusaha menyembunyikan kekecewaan. Ia melirik Radit yang hanya mengangkat bahu dengan pasrah.
Frans kemudian melangkah maju. Sikapnya tegap dan tenang, namun matanya berkilau oleh tekad.
Udara di ruangan terasa semakin berat. Semua orang menahan napas.
"Baik," katanya pelan. "Kalau begitu, katakan padaku. Bagaimana caranya aku menjadi lebih kuat?"
Mereka menunggu.
Bahkan Radit ikut diam.
Namun sekali lagi, tidak ada yang terjadi. Tome itu tetap tak bergerak. Tidak ada tinta, tidak ada tanda apa pun. Hanya kesunyian yang menjadi jawaban.
Frans mengembuskan napas panjang lalu melangkah mundur.
"Sepertinya buku ini... agak pilih-pilih," gumamnya, mencoba mencairkan suasana meskipun ada kekecewaan samar di matanya.
Radit menepuk bahunya. "Setidaknya kita sudah mencoba," katanya sambil memberi senyum kecil yang menenangkan.
Frans membalas dengan senyum tipis sebelum berpaling. Meskipun tome itu tetap diam, mereka semua tahu perjalanan mereka masih jauh dari selesai. Tome Omnicent belum berbicara, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti.
Dari belakang, Thivi melangkah maju.
Langkahnya mantap, matanya berkilau oleh tekad yang sunyi. Perhatiannya hanya tertuju pada satu hal, Tome Omnicent.
"Baiklah, sekarang giliranku," katanya tenang namun tegas.
Ia membungkuk sedikit mendekati buku itu. Napasnya menyentuh halaman kuno saat ia berbisik pelan. "Kapan aku akan menikah dengan Kaivan?"
Dunia seakan membeku. Semua mata langsung beralih kepada Thivi, lalu kepada Kaivan.
Napas Kaivan tertahan. Jantungnya berdentum keras di dadanya. Ruangan itu tiba-tiba terasa sesak oleh ketegangan.
Tatapan Felicia menembus udara seperti es yang membakar. Felicia mengepalkan tangannya, berusaha tetap tenang. Namun akhirnya ia bersuara juga.
"Kamu tidak seharusnya menanyakan hal seperti itu." Nada suaranya dingin, matanya tajam.
Ia meraih tome itu. Saat jari-jarinya menyentuh permukaannya, sebuah sengatan menjalar melalui tubuhnya.
Rasa sakit melonjak dari ujung jarinya. Felicia terhuyung mundur, kepalanya berdenyut hebat. Tome itu terlepas dari genggamannya dan jatuh.
Namun sebelum sempat menyentuh lantai, Raphael bergerak.
Gerakannya halus dan tepat. Dengan satu tangan ia menangkap tome itu dengan mudah. Ia menyerahkannya kepada Kaivan. "Jangan ceroboh," katanya pelan.
Suaranya tetap tenang, meskipun ada kelelahan tersembunyi di baliknya.
Dari sudut ruangan, Isabel bangkit berdiri.
Sejak tadi ia hanya diam mengamati. Namun dialah satu-satunya yang pernah berhasil menggunakan tome itu sebelumnya.
Tatapannya mengeras oleh tekad saat ia melangkah maju.
Menahan napas, Isabel menempelkan jarinya pada permukaan tome itu. Tekstur kuno buku itu terasa seolah hidup di bawah sentuhannya.
Dengan suara lembut namun mantap, ia bertanya. "Siapa yang bisa menggunakan Tome Omnicent?" Tiba-tiba tinta hitam mulai muncul.
Huruf demi huruf terbentuk perlahan di atas halaman itu. "Hanya pemiliknya, dan mereka yang dipilih karena kedekatan dengan pemiliknya."
Ruangan itu seketika sunyi. Bahkan Felicia yang masih memegangi kepalanya ikut membeku. Kata-kata itu bergema di dalam pikiran mereka. Siapa yang dimaksud? Apa arti dari "dipilih karena kedekatan"?
Kaivan menatap tome di tangannya. Matanya berkilau di bawah cahaya redup, bayangan bergerak pelan di wajahnya. Udara terasa semakin padat, seolah sesuatu yang tak terlihat sedang mendekat. Seakan masa depan sendiri telah melangkah sedikit lebih dekat.
Ia berbicara dengan suara rendah namun tegas. "Apa maksudmu dengan itu?"
Halaman tome itu bergetar pelan. Lalu, seakan menjawab dari tempat yang sangat jauh, kata-kata kembali muncul. "Pada waktunya, kau akan mengerti, Kaivan."
Jantung Kaivan berdentum keras. Genggamannya menguat. Pikirannya terasa membara.Ia tidak bisa menahan diri. "Kapan aku akan mengerti?" tanyanya mendesak.
Jawaban itu muncul perlahan, seperti bisikan dari kehampaan. "Ketika semuanya telah selesai." Kaivan mengepalkan tangannya. Kata-kata itu menggantung di udara, samar dan penuh misteri, terlalu kabur untuk benar-benar dipahami.
