Cherreads

Chapter 98 - Dua Puluh Satu Hari Sebelum Segalanya Berubah

Namun, ia tetap tidak goyah.

Dengan suara rendah dan mantap, Kaivan mengajukan satu pertanyaan lagi—melangkah selangkah lebih jauh.

"Siapa lagi yang harus kutemukan… untuk menyempurnakan semuanya?"

Kata-kata itu meluncur dari bibirnya seperti bilah tekad. Matanya menyipit, pikirannya berputar cepat. Tome of Omnicent kembali bergetar; tinta hitam merembes ke halaman kuno itu, membentuk kata-kata yang berdenyut seperti bisikan dari alam lain:

"Satu orang lagi, seorang wanita yang akan memainkan peran krusial di sini. Ia bukan berasal dari pulau Jawa."

Keheningan turun. Napas tercekat saat mereka saling bertukar pandang, mencoba memahami makna yang tersembunyi di balik kalimat itu. Kaivan mengatupkan rahangnya. Jika benar seseorang dari luar Jawa akan menjadi bagian penting, maka ini bukan sekadar kebetulan—ini adalah panggilan yang menentang logika.

Frans bersandar di dinding, wajahnya memancarkan campuran lelah dan rasionalitas. "Di luar Jawa… itu ribuan kilometer jauhnya. Kita bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."

Ketegangan menebal. Namun seperti biasa, Raditlah yang memecahnya. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, matanya berkilau penuh antusiasme nekat.

"Baiklah! Kita cari tiket pesawat murah! Operasi 'Misi Jodoh Jiwa Tome Omnicent' dimulai sekarang!"

Untuk sesaat, keheningan berubah menjadi tawa. Frans terkekeh, Ethan menutup wajahnya, dan Zinnia menyembunyikan senyum tipis. Namun di balik humor itu, ada kegelisahan tak terucap. Ini bukan sekadar perjalanan. Ini adalah ujian.

Zinnia melipat tangan, tatapannya tajam. "Ini bukan cuma soal harga tiket, Radit. 'Di luar Jawa' itu luas. Kalimantan? Sulawesi? Papua? Kita bahkan tidak tahu harus mengarah ke mana."

Tawa memudar, digantikan kesadaran yang berat. Ini bukan petualangan biasa—mereka melangkah ke sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri.

Ethan bersandar, nadanya pragmatis. "Kalau begitu… kapan kita akan bertemu dengannya? Kaivan, tanya pada tome."

Semua mata tertuju padanya. Kaivan membuka tome itu perlahan, ujung jarinya menyentuh permukaannya yang aus, seolah menyadari bahwa jawaban berikutnya bisa mengubah segalanya.

"Kapan kami akan bertemu dengannya?"

Tinta kembali mengalir, membentuk kata-kata di atas perkamen yang bercahaya.

"Pada 2 Januari 2010."

Ruangan membeku. Tanggal itu menggantung di udara seperti mantra. Frans menelan ludah. Zinnia mengernyit. Ethan menyilangkan tangan lebih erat. Momen itu terasa dekat sekaligus jauh, seakan takdir sendiri mengawasi dari balik tirai tipis.

Zinnia cepat menghitung. "Berarti kita punya dua puluh satu hari lagi." Suaranya pelan namun berat, seperti palu yang menghantam kebenaran. Waktu bukan lagi milik mereka—ia telah berubah menjadi hitung mundur.

Kaivan mengepalkan tangan. Rasa tanggung jawab mulai menyala. "Baiklah," ujarnya tegas. "Kita butuh uang. Kita akan mencari cara untuk mendanai perjalanan ini."

Saat suasana kembali mengental, sebuah suara lembut menyela. Thivi menunduk, semburat merah tipis di pipinya.

"Um… maaf menyela, tapi… ulang tahunku tanggal 12 Desember."

Mereka terdiam. Bukan karena lupa, tapi karena tiba-tiba teringat arti berhenti sejenak. Di tengah kekacauan, masih ada momen yang layak dirayakan. Ulang tahun bukan sekadar tanggal—itu pengingat bahwa mereka lebih dari sekadar sekutu yang terikat tujuan. Mereka adalah teman yang berbagi waktu.

Kaivan, yang biasanya pendiam, tersenyum tipis. Suaranya melembut. "Kalau begitu, kita rayakan. Makan malam kecil saja, setidaknya."

Radit langsung mengangkat kedua tangan, tertawa. "Tapi pilih tempat yang nggak bikin dompet kita nangis! Aku nggak mau makan mi instan seminggu lagi!"

Tawa kembali pecah, menyapu udara berat. Dalam tawa itu, mereka menemukan napas—sebuah tempat berlindung kecil dari beban yang tak diketahui.

Zinnia, selalu peka pada detail, melirik Kaivan yang sedang memainkan seikat kabel. "Bagaimana kalau kita sewa vila? Lebih nyaman… dan kita bisa lebih lama."

Kaivan berhenti. "Vila? Kedengarannya mahal."

Ethan yang tadi diam melangkah maju dengan senyum percaya diri. Ia meletakkan sebuah baterai kecil di atas meja. "Kebetulan aku kenal seseorang di Ciwidey. Kalau pesan dua malam, aku bisa nego. Cukup besar untuk kita semua."

Mata Kaivan berbinar. Ia menoleh pada yang lain. "Kalau begitu… bagaimana kalau besok kita pergi dua malam ke vila?"

Ruangan meledak oleh sorak. Frans hampir melompat, wajahnya bersinar penuh semangat. "Perjalanan pertama kita bareng? Ini bakal keren banget!"

Raphael tersenyum tipis dan mengangguk. "Sudah lama aku nggak benar-benar istirahat. Kita memang butuh ini."

Felicia berbicara pelan, hampir malu-malu. "Aku belum pernah menginap di vila sebelumnya. Sepertinya menyenangkan."

Isabel menggigit bibir, menunduk. "Aku nggak tahu… orang tuaku pasti bakal banyak tanya kalau tiba-tiba aku pergi."

Kaivan melangkah mendekat, menepuk bahunya dengan menenangkan. "Tenang. Raphael bisa bicara dengan mereka."

Raphael terkekeh ringan. "Santai, Isabel. Aku janji mereka nggak akan bisa menolak setelah aku bicara," ujarnya penuh keyakinan.

Isabel ragu sejenak, lalu tersenyum tipis. Kekhawatirannya mereda, digantikan hangatnya dukungan.

Saat matahari tenggelam di balik cakrawala, Kaivan, Raphael, Ethan, dan Thivi kembali ke rumah Kaivan. Seharian penuh mereka berada di bengkel, membongkar dan merakit ulang ponsel-ponsel lama. Lelah, namun ikatan mereka semakin kuat.

Sesampainya di rumah, mereka malas melepas sepatu dan jaket. Ruangan terasa hangat dan damai—sebuah surga kecil jauh dari kebisingan dunia.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Bel pintu tiba-tiba berbunyi, memecah kenyamanan mereka.

Kaivan yang baru setengah duduk menoleh. "Siapa ya malam-malam begini?" gumamnya.

Sebelum ia sempat berdiri, pintu terbuka.

Dan di sana, berdiri tegap di ambang pintu, adalah Felicia.

Thivi mengangkat alis, nadanya datar. "Kenapa kamu juga ada di sini?"

Felicia menyipitkan mata. "Aku tidak akan membiarkanmu mandi bersama Kaivan lagi."

More Chapters