Cherreads

Chapter 99 - Cahaya Hangat, Tatapan yang Mengawasi

Kata-kata itu jatuh seperti petir, membekukan semua orang di tempat. Raphael dan Ethan langsung terdiam. Kaivan berkedip, benar-benar terkejut, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar.

Namun Thivi hanya tersenyum nakal, mata birunya berkilau penuh godaan.

"Oh? Jadi kamu juga mau mandi bareng Kaivan?"

Wajah Felicia langsung memerah. "A-Apa?! Bukan itu maksudku!"

Thivi terkikik, tak memberi ampun. "Iya, iya. Akui saja, kamu juga mau mandi bareng dia."

Felicia membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.

Kaivan menghela napas panjang, menjepit pangkal hidungnya, mencoba menghapus rasa malu yang membanjiri dirinya. "Tunggu, ini bukan seperti yang kalian pikirkan…" suaranya mengecil, tapi itu tak cukup untuk meredam rasa penasaran yang semakin membara.

Raphael dan Ethan menoleh padanya, tatapan mereka tajam penuh tuduhan. Terpojok, Kaivan akhirnya menyerah.

"Waktu itu… aku lupa mengunci pintu kamar mandi. Thivi masuk begitu saja. Aku masih pakai celana dalam, tapi dia mulai melepas pakaiannya, cuma pakai bra, dan…" Ia berhenti, tersedak oleh canggungnya penjelasannya sendiri.

Ethan menyipitkan mata. "Jadi kalian nggak mandi bareng, tapi… setengah telanjang bareng?" Nadanya datar namun menusuk. Raphael menekan pelipisnya, berusaha menahan tawa.

"Kaivan," ujar Raphael dengan senyum miring, "mandi air hangat bareng cewek imut? Hidupmu makin mirip drama, ya?"

Ethan tertawa kecil sementara Kaivan mengerang, mengacak rambutnya frustasi. "Ah, bukan begitu! Susah jelasinya!" protesnya.

Meski tegang, suasana perlahan mencair oleh tawa. Raphael bersandar santai. "Cuma salah paham," katanya. "Tapi cerita ini… bakal kita ketawain bertahun-tahun."

Ethan mengangguk. "Iya. Setelah ini, kamu bakal punya banyak cerita konyol."

Kaivan menghela napas pasrah. Di tengah kekacauan, ia tetap merasakan sesuatu yang hangat—kelompok berisik dan absurd ini adalah rumahnya.

Di dapur, Thivi dan Felicia membantu Kira, adik Kaivan, serta ibunya menyiapkan makan malam. Aroma rempah memenuhi udara, hangat dan menenangkan.

Thivi, seperti biasa penuh semangat, memotong sayuran dengan energi ceria. "Tambahin sedikit bumbu lagi, rasanya bakal makin enak!" katanya sambil mengaduk wajan yang berdesis.

Felicia, lebih tenang dan fokus, mengawasi proses memasak dengan teliti. "Jangan terlalu besar apinya. Rasa dan tekstur harus seimbang," ujarnya.

Thivi meliriknya dengan senyum licik. "Wah, serius banget. Kayak chef profesional saja."

Felicia mendengus pelan, meski sudut bibirnya sedikit terangkat. "Harus ada yang memastikan makanan ini layak dimakan, kan?"

Keduanya, yang dulu sering bersitegang, kini menemukan irama tak terduga—bekerja berdampingan dalam harmoni sunyi di tengah hangatnya dapur.

Di sudut kota, dalam sebuah klub malam, lampu neon berkedip ungu dan biru, memantul di dinding gelap yang dipenuhi bayangan para pengunjung bar. Asap rokok dan aroma alkohol menggantung berat, menjadi saksi bisu percakapan rahasia yang tenggelam dalam gelas-gelas setengah kosong dan bisikan lirih.

Dua sosok duduk tersembunyi di sebuah bilik. Di balik selimut tipis asap, wajah mereka memancarkan campuran kebanggaan dan kebencian yang nyaris tak tersembunyi.

"Hahaha, hampir lucu, kelompok anarkis kecilmu dihancurkan oleh sekumpulan remaja," ujar wanita berbusana formal itu, suaranya bernada sarkastik. Ia memainkan gelas koktailnya dengan jari-jari ramping, menikmati reaksi pria di hadapannya.

Pria itu, William, meneguk minumannya perlahan. Cairan cokelat hangat meluncur di tenggorokannya. "Ha. Itu cuma satu kelompok," jawabnya tenang namun licik. Ia menatap wanita itu dan tersenyum miring. "Lagipula, ini idemu. Kalau kamu tak memintanya, aku tak akan repot-repot mengusik mimpi orang dan mengacak pikiran mereka."

Tatapan William mengeras. Kata-katanya bukan sekadar ejekan—ia menyiratkan rencana yang jauh lebih dalam.

Tiba-tiba seseorang membelah kerumunan. Seorang wanita tinggi dengan postur tegas masuk, kehadirannya membelah massa seperti pisau. Ia tak perlu berteriak; auranya saja sudah cukup menguasai ruangan.

"Tuan, ini para penyusup dari kultus itu," lapornya, menyodorkan foto-foto di atas meja kepada William. Jari bersarung tangannya merapikan kertas saat cahaya neon melukis setengah wajahnya dalam bayangan.

William mengambil foto-foto itu dan meneliti satu per satu: Kaivan, Radit, Ethan, Felicia. Wajah-wajah muda itu memancarkan sesuatu yang berbahaya baginya—harapan. Dan William membenci harapan.

Senyumnya memudar. Ia bersandar dan memutar gelasnya perlahan.

"Siapa di antara mereka yang menggunakan Omnicent?" tanyanya, suaranya tajam seperti pemburu mencium bau darah.

Suasana ruangan berubah; tawa dan musik latar meredup di bawah satu pertanyaan itu. William menatap wanita di depannya dengan ekspresi yang menegaskan segalanya: ini bukan lagi permainan.

"Vella, biar aku yang menangani mereka. Pinjamkan orang-orangmu," ujarnya pelan namun sarat maksud.

Vella mengembuskan napas dan berdiri. Ia meraih blazer di kursinya dan menatap William dengan dingin.

"Terserah," katanya datar. "Tapi kalau kau menyeretku lebih dalam, aku akan membunuhmu. Aku punya urusan lebih penting daripada mengejar anak-anak itu."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi, meninggalkan William bersama rencana yang semakin tajam di benaknya.

Di Beranda Kaivan, Malam Hangat yang Diselimuti Ancaman

Angin malam berembus lembut, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan yang berdesir. Di beranda rumah Kaivan, tiga pemuda berdiri dalam diam, percakapan ringan sesekali memecah keheningan. Makan malam sudah siap di dalam, namun udara terasa berat—seolah ada sesuatu yang belum selesai.

Kaivan berdiri dengan tangan di saku, menatap langit bertabur bintang. Dalam cahaya redup, wajahnya sulit ditebak. Ia sedikit menoleh pada Raphael di sampingnya.

"Hey… ada pergerakan dari para teroris itu sejak hari itu?" tanyanya pelan.

Raphael mengembuskan napas, melipat tangan sambil memandang jauh sebelum menjawab, "Tidak. Setelah ledakan itu, mereka menghilang. Sisanya… lenyap tanpa jejak."

Kata-katanya jatuh seperti batu ke permukaan air tenang. Namun beban di dada mereka tak ikut tenggelam.

Ethan, yang sedari tadi diam, mengusap tengkuknya. "Menurutmu yang terjadi waktu itu nggak bakal jadi sesuatu yang lebih buruk?" tanyanya pelan, matanya menyipit seakan mencari kebenaran yang lebih gelap.

Kaivan tak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang dan menatap langit, seolah mencari jawaban di antara bintang-bintang.

Lalu, seperti cahaya matahari menembus kabut, suara ceria Thivi terdengar dari dalam rumah.

"Ayo! Makan malamnya sudah siap!"

Mereka saling bertukar pandang singkat sebelum mengangguk dan melangkah masuk.

Malam ini akan diisi tawa dan makanan hangat. Namun di balik cahaya rumah yang lembut, mereka semua tahu—badai itu tak pernah benar-benar pergi.

Saat mereka berkumpul di ruang makan, aroma masakan rumahan menyelimuti seperti pelukan hangat. Felicia dan Thivi bergerak cekatan menata hidangan, sementara Kira dan ibu Kaivan menyambut mereka dengan senyum tenang.

Di tengah ancaman yang mengintai, momen sederhana ini terasa begitu berharga—sebuah kedamaian rapuh yang layak untuk dipertahankan.

More Chapters