Matahari pagi mulai melukis langit dengan gradasi jingga dan emas. Udara segar membawa aroma embun dari rerumputan, sementara kicau burung perlahan memecah kesunyian. Tempat workshop tempat mereka berkumpul diselimuti cahaya lembut, mengisi ruang dengan kehangatan yang tenang.
Kaivan berdiri di depan, tubuhnya ramping namun tegap. Tatapannya yang tajam menyapu teman-temannya yang datang satu per satu. Setelah malam yang dipenuhi rencana dan tawa, pagi ini menjadi awal dari perjalanan yang telah lama mereka nantikan. Wajah-wajah penuh antusias berkumpul di sekitar van besar yang siap membawa mereka menuju vila.
Mengangkat tangannya, Kaivan berseru, suaranya jernih di udara pagi yang sejuk. "Baik, semuanya dengar dulu. Kita atur tempat duduknya."
Percakapan riang pun mereda. Semua mata tertuju padanya.
"Frans yang menyetir, Ethan jadi navigator. Kursi tengah: Felicia, Zinnia, Thivi, dan Isabel. Aku di belakang bersama Radit dan Raphael."
Namun sebelum ia melanjutkan, sebuah suara lain memotong.
"Aku mau duduk di sebelah Kaivan."
Thivi melangkah maju, kedua lengannya terlipat. Mata birunya tajam, tak bergeser sedikit pun. Nadanya terdengar santai, tetapi ketegasan dalam suaranya tidak memberi ruang untuk penolakan.
Radit cepat menyela. "Lebih baik kamu di tengah saja, lebih luas dan nyaman."
Thivi mengernyit. "Aku tidak bertanya padamu, Radit."
Hening sejenak. Frans melirik dari balik kap mobil, tetapi memilih tidak ikut campur. Zinnia menghela napas pelan, seolah ini bukan pertama kalinya ia melihat situasi seperti ini.
"Thivi, itu tidak bisa," kata Kaivan tenang, meski kali ini nadanya lebih tegas. "Kalian berempat di tengah. Lebih lega, dan pasti lebih nyaman."
Thivi terdiam sejenak, ekspresinya sulit dibaca. Akhirnya ia mengangkat bahu dan menghela napas kecil. "Baiklah. Kalau Kaivan yang bilang, ya sudah." Meski setuju, suaranya menyimpan sedikit kekecewaan.
Radit, yang tadi mengatakan hal yang sama, hanya bisa menghela napas pelan. "Padahal… kata-katanya sama persis," gumamnya lirih.
Raphael melirik ke arahnya, tetapi tetap diam. Ethan, yang peka seperti biasa, menepuk bahu Radit. "Sudahlah, Dit. Kadang bukan soal apa yang dikatakan, tapi siapa yang mengatakannya."
Radit menatap Ethan, lalu mengangguk pelan, meski rasa kesal itu belum sepenuhnya hilang.
Di sisi lain, Felicia memperhatikan semuanya dengan saksama. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi kilau di mata merahnya sudah cukup menjelaskan bahwa ia mencatat semuanya dalam pikirannya.
Setelah semua perlengkapan tertata rapi di bagasi, mereka pun naik ke dalam mobil. Kaivan duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin dengan gerakan tenang. Dengung halus mesin terdengar sebelum kendaraan itu perlahan meninggalkan pasar yang ramai.
Di dalam mobil, suasana mulai mencair. Tawa, obrolan ringan, dan candaan kecil mengisi ruang, menghangatkan perjalanan panjang di depan mereka. Semangat baru menyala dalam diri masing-masing, hari ini adalah janji akan pelarian singkat dari kenyataan.
Jalan berkelok mengikuti pegunungan, membelah pemandangan yang menakjubkan. Langit biru membentang luas, sementara pepohonan hijau melintas seperti bisikan angin. Udara pegunungan yang sejuk masuk melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah dan pinus yang segar.
Ketika mobil akhirnya berhenti di depan vila, semua mata membelalak melihat pemandangan di hadapan mereka. Bangunan itu berdiri tinggi dengan bentuk segitiga, dinding kacanya memantulkan lembah hijau zamrud dan pegunungan menjulang yang berdiri seperti penjaga sunyi. Udara di sini terasa lebih dingin, dipenuhi ketenangan yang tak pernah mereka temukan di kota.
Raphael menjadi yang pertama turun, langkahnya mantap saat ia berjalan maju. Matanya menyapu vila itu, kekaguman terlihat jelas. "Luar biasa…" gumamnya. Yang lain segera menyusul, wajah mereka dipenuhi takjub.
"Gila, ini keren banget," seru Radit, kedua tangannya bertumpu di pinggang saat ia menatap bangunan itu dari atas ke bawah.
Di depan vila, terdapat lubang api alami yang dikelilingi batu-batu besar. Tak jauh dari sana, sumber air panas mengepulkan uap, seolah mengundang tubuh lelah mereka untuk berendam dalam kehangatannya.
Frans menepuk bahu Radit. "Tempat yang sempurna buat barbeque malam. Aku sudah bisa bayangin kita duduk di sini, bakar daging sambil lihat bintang."
Kaivan dan Ethan pergi ke kantor untuk menyelesaikan pembayaran, sementara yang lain mulai menurunkan barang dari bagasi. Frans mengangkat kantong plastik besar, sementara Radit dan Raphael membawa kotak-kotak berisi peralatan masak dan bahan makanan.
Di dalam dapur, Frans menatap tumpukan bahan yang terus bertambah. "Zinnia, kamu belanja buat sebulan ya?" candanya sambil tertawa.
Zinnia, sang ahli logistik tim, tersenyum bangga. "Sembilan orang, tiga kali makan sehari. Jadi aku beli…"
Ia menyebutkan daftar itu dengan cepat: tiga puluh enam ikan, dua kilogram udang, delapan belas cumi, empat kilogram daging sapi, lima kilogram ayam, tiga kilogram jagung, sembilan tomahawk, satu kilogram bawang, setengah kilogram paprika, dua setengah kilogram telur, sepuluh kilogram kentang, sepuluh dus air mineral, bumbu-bumbu, tusuk sate, dua nanas, satu kilogram tomat, selada, dan perlengkapan barbeque.
