Cherreads

Chapter 101 - Senja, Tawa, dan Tanpa Baju Renang

Frans melirik Raphael, lalu kembali menatap Zinnia. "Zinnia, ini liburan atau persiapan bertahan hidup saat pandemi?"

Raphael, yang baru saja membuka salah satu tas besar, tertawa. "Dengan persediaan sebanyak ini, kita bisa hidup berbulan-bulan."

Zinnia mengangkat bahu santai. "Bukan ideku. Aku cuma mengikuti daftar dari Kaivan."

Ia mengangkat selembar kertas yang sudah terlipat, memperlihatkan tulisan rapi milik Kaivan. Raphael membaca sekilas lalu terkekeh. "Memang Kaivan. Bahkan kalau perang terjadi, kita tetap aman."

Saat senja perlahan turun di pegunungan, tawa mereka ikut mereda, tergantikan oleh ritme tenang saat membongkar dan menata barang.

Namun langkah Raphael tiba-tiba terhenti di dapur. Matanya menyapu seluruh persediaan, alisnya mengernyit. "Tunggu… kenapa kita tidak beli beras?"

Keheningan langsung jatuh. Zinnia berkedip, lalu buru-buru merogoh sakunya, mengeluarkan daftar belanja. "Ini aneh…"

Raphael melempar tatapan tajam ke arah Kaivan. "Jangan bilang ini sengaja kamu lakukan?"

Kaivan hanya tersenyum, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. "Tentu saja. Malam ini kita makan tanpa nasi. Anggap saja kita turis, sesekali."

Semua terdiam. Bagi mereka, itu hampir terasa seperti pengkhianatan budaya.

Radit langsung berdiri, setengah protes. "Serius? Tidak ada nasi sama sekali?"

Frans, yang masih merapikan bahan makanan, melirik sambil tersenyum tipis. "Tidak menyangka kamu bisa sekontroversial ini, Kaivan."

Felicia, seperti biasa tenang, mengembuskan napas pelan. "Aku tidak keberatan. Tapi aku penasaran berapa lama Radit bisa bertahan tanpa nasi," ujarnya, mata merahnya berkilau seolah sedang mengujinya.

Radit mengernyit, lalu menyilangkan tangan. "Baiklah, tantangan diterima. Anggap saja latihan, kalau nanti aku harus bertahan hidup di Eropa."

Tawa kembali pecah di dalam ruangan. Kejutan kecil dari Kaivan berhasil mencairkan suasana, menambah warna baru dalam perjalanan mereka.

Di luar vila, Thivi dan Felicia sibuk di area barbeque. Thivi bersenandung pelan sambil memeriksa panggangan, wajahnya dipenuhi semangat. Ia menoleh pada Felicia yang berdiri anggun di sampingnya.

"Aku suka sekali tempat ini. Tenang… dan aku yakin makanannya bakal enak," kata Thivi dengan senyum cerah.

Felicia, yang tampak sedikit lebih santai dari biasanya, menepuk punggungnya lembut. "Pasti. Malam ini akan menyenangkan."

Sementara itu di dapur, Raphael, Zinnia, dan Ethan memeriksa persediaan untuk terakhir kalinya. Semuanya tertata rapi dan siap digunakan. Frans melangkah keluar ke balkon, ingin menghirup udara dingin sebelum malam benar-benar turun.

Dari sana, ia bisa melihat hutan dan pegunungan yang diselimuti kabut tipis. Matahari hampir tenggelam, melukis langit dengan warna emas dan merah. Udara pegunungan yang dingin menyentuh kulitnya, membawa aroma tanah basah dan embun.

Frans menarik napas dalam, membiarkan ketenangan itu meresap ke dalam dirinya. Pandangannya tertahan di cakrawala, lalu dengan suara pelan ia berkata,

"Ini… jauh lebih indah dari yang kubayangkan."

Malam perlahan menyelimuti vila dengan ketenangan lembut, berpadu dengan angin senja dan aroma makanan segar dari dapur.

Thivi berdiri di dekat meja, dengan cekatan memotong nanas. Cahaya memantul di mata birunya, kontras dengan rambut hitam pendeknya yang sedikit berantakan. Namun setelah selesai, tangannya terdiam. Pisau masih tergenggam saat tatapannya menjadi kosong, seolah ia baru teringat sesuatu.

Ia melirik Felicia yang sedang memotong sayuran dengan rapi. Gerakan Felicia terlihat presisi, namun sedikit kaku, seakan ia tidak terbiasa melakukan pekerjaan sederhana seperti itu.

"Eh… di sini ada pemandian air panas, kan?" tanya Thivi pelan, hampir ragu. Ia meletakkan pisau, lalu menghela napas. "Tapi… aku lupa bawa baju renang."

Felicia langsung berhenti. Pisau yang dipegangnya terhenti di udara, mata merahnya melebar. Ia menatap sayuran di depannya, lalu ke arah Thivi, ekspresinya sulit ditebak.

"Kamu benar…" bisiknya, lalu menoleh pada Zinnia yang sedang mencampur bumbu. "Zinnia, kita harus bagaimana? Aku juga tidak membawanya!" Nadanya tiba-tiba berubah tegas, seolah itu masalah besar.

Zinnia berbalik dengan kaget. Pipi gadis itu memerah. "Aku juga tidak!" katanya, sedikit panik. Ia mengepalkan tangan, menarik napas dalam, lalu menatap mereka dengan tekad mendadak.

Mendengar keributan itu, Isabel bangkit dari duduknya. Langkahnya anggun saat ia mendekat, suaranya lembut dan tenang. "Biasanya… kantor penginapan menjual baju renang, bukan?"

More Chapters