Cherreads

Chapter 102 - Belanja Kecil Sebelum Malam Panjang

Zinnia terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. Ia menepuk kedua tangannya, senyum cerah langsung menghiasi wajahnya. "Itu dia! Ayo cepat sebelum mereka tutup!"

Thivi dan Felicia saling berpandangan sebelum ikut tersenyum. Keempat gadis itu segera berlari keluar, langkah tergesa mereka bergema di ruang tengah. Pintu vila terbuka, membiarkan udara malam yang sejuk menyelinap masuk.

Di luar, Ethan dan Kaivan bersandar santai di dekat mobil. Ethan menghisap rokoknya perlahan, sementara Kaivan bersandar di pintu mobil, menatap langit yang semakin redup. Suara langkah kaki yang tergesa membuat mereka menoleh.

Keempat gadis itu melintas cepat, ekspresi mereka tampak serius, seolah sedang menjalankan misi. Ethan mengangkat alis, memperhatikan mereka, lalu melirik Kaivan.

"Mereka mau ke mana?" tanyanya.

Kaivan tersenyum tipis. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buku tua yang sudah usang. Omnicent, kitab dari segala jawaban, memancarkan cahaya samar saat terbuka. Halamannya berputar sendiri, dan huruf-huruf bercahaya perlahan muncul.

Ia membaca sejenak, lalu menutupnya dengan tenang. "Cuma membeli sesuatu yang mereka lupa."

Di dalam toko resor, Thivi berjalan di antara deretan baju renang, matanya berbinar penuh antusias. Jemarinya menyentuh kain-kain itu, tertarik pada warna dan teksturnya. Cahaya kuning hangat, dengung lembut pendingin ruangan, dan aroma tipis pakaian baru membuat tempat itu terasa elegan sekaligus nyaman.

Pandangannya berhenti pada sebuah baju renang yang berani, potongannya rendah di dada dan tinggi di pinggul. Senyum puas terlukis di bibirnya saat ia mengangkatnya untuk melihat lebih dekat.

"Ah, yang ini kelihatannya pas!" katanya, memecah keheningan.

Isabel mendekat, matanya yang lembut namun tajam menilai baju itu. Ia menoleh pada Thivi dengan senyum halus.

"Tapi, Thivi… bukankah ini terlalu terbuka?" tanyanya lembut. "Mungkin yang sedikit lebih tertutup akan lebih cocok untukmu."

Thivi tidak tersinggung. Ia hanya mengangkat alis, kilatan geli terlihat di matanya.

"Terlalu terbuka? Tidak masalah," jawabnya santai. "Aku ingat Kaivan pernah bilang dia suka perempuan yang percaya diri."

Senyumnya melengkung nakal, memadukan pesona dan godaan.

Isabel berkedip beberapa kali sebelum terkekeh kecil. "Aku tidak tahu selera Kaivan seperti itu," godanya, lalu mengambil bikini yang bahkan lebih kecil, hampir tidak menutupi apa pun. Dengan senyum usil, ia mengangkatnya. "Kalau begitu, sekalian saja?"

Mata Thivi membesar, bukan karena terkejut, melainkan penuh antusias. Ia segera mengambil bikini itu, memeriksa setiap detailnya. "Wah! Ini malah lebih bagus! Makasih, Isabel! Aku pakai yang ini saja!"

Felicia, yang sejak tadi diam, melirik ke arah mereka. Begitu melihat desainnya, alisnya langsung berkerut. "Serius, Thivi? Itu lebih mirip pita daripada pakaian."

Thivi tertawa lalu melempar baju renang pertama ke arahnya. "Kalau begitu yang ini buat kamu! Pasti pas di dadamu."

Felicia menatapnya sejenak sebelum mengangkat kepala, jelas tersinggung. "Aku tidak butuh itu. Aku pilih yang ini saja, lebih elegan dan… lebih cocok dengan tubuh rampingku."

Tatapannya sengaja melirik ke arah pinggang Thivi, tantangan diam yang tak perlu kata-kata. Thivi langsung menangkapnya, menyilangkan tangan dengan senyum geli. "Heh, siapa peduli sama dadamu yang kecil?"

Tawa dan saling goda memenuhi butik kecil itu, suara mereka saling bercampur, menghidupkan malam yang tenang. Di tengah semua itu, Zinnia hanya tersenyum tipis. Sebuah baju renang sederhana namun anggun tergantung di lengannya. Ia tidak ikut bercanda, baginya, keanggunan tidak perlu menarik perhatian.

Beberapa menit kemudian, keempatnya keluar dari kantor pemasaran. Langit malam berkilau dipenuhi bintang saat mereka berjalan menyusuri jalan setapak, tawa mereka mengalun lembut di udara pegunungan.

Saat tiba di area barbeque, aroma daging panggang langsung menyambut mereka. Api kecil menyala di dekatnya, memantulkan bayangan yang menari di wajah-wajah yang menunggu. Vila itu terasa seperti rumah kedua, hangat, hidup, dan penuh tawa. Malam ini baru saja dimulai.

Radit, dengan lengan kemeja tergulung, berdiri percaya diri di depan panggangan, membalik steak tomahawk dengan gerakan terlatih. Minyak mendesis saat menyentuh permukaan panas, namun ia tetap tenang. "Lihat ini, mahakaryaku! Matang sempurna, juicy, steak yang benar-benar pas!"

Di sampingnya, Kaivan fokus memanggang ikan. Penjepit di tangannya bergerak presisi, memastikan daging matang merata tanpa kehilangan kelembutannya. Ia mengusap keningnya, bukan karena panas, melainkan karena keinginan diam untuk membuat semuanya sempurna. "Kalau soal steak aku tidak yakin, tapi ikan ini hampir siap. Baunya luar biasa."

Tawa terdengar dari dalam vila. Thivi keluar lebih dulu, langkahnya ringan dengan senyum percaya diri, membawa kantong berisi baju renang. Isabel menyusul dengan senyum lembutnya, Felicia di belakang dengan sikap anggun, dan Zinnia terakhir, setenang biasanya.

Radit mendongak lalu melambaikan penjepit seperti trofi. "Akhirnya! Kalian kembali juga! Kita sudah nunggu buat makan bareng!"

Thivi menyeringai. "Oh? Sudah kangen kami?" godanya, melirik Kaivan yang sedang menata ikan di piring.

"Hei, aku chef di sini!" Radit membusungkan dada. "Lihat ini, aku sudah menyiapkan makan selagi panas!"

More Chapters