Cherreads

Chapter 141 - Di Antara Kebohongan di Malam Hari dan Mimpi Saat Fajar

Thivi dan Zinnia berbaring berdampingan, tubuh mereka masih menyimpan kehangatan lembut dari pemandian air panas. Namun pikiran Thivi enggan terlelap. Sejak insiden di stasiun radio Malabar, satu pertanyaan terus berputar di dalam kepalanya.

Dalam gelap yang sunyi, ia menarik napas pelan lalu berbisik, nyaris ragu.

"Zinnia... waktu itu, saat kamu berpura-pura terkena pengaruh Omnidream... apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Apa kamu benar-benar ingin... Kaivan menyentuhmu?"

Tubuh Zinnia menegang. Pertanyaan itu menahan napasnya. Ia tetap menatap dinding, seolah menyembunyikan ekspresi yang bahkan tak terlihat dalam kegelapan.

Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum akhirnya ia menjawab. Suaranya sedikit bergetar, meski ia berusaha terdengar tenang.

"Tentu saja... aku hanya berpura-pura," katanya, tiap kata terpisah jeda yang sedikit terlalu lama. "Tidak mungkin aku membayangkan hal seperti itu dengan temanku sendiri."

Namun nadanya menyimpan sesuatu yang lain, getaran halus yang menyisakan jawaban yang tak pernah diucapkan.

Thivi, yang mengenalnya terlalu baik, hanya tersenyum kecil dalam gelap. Ia tidak menjawab, membiarkan keheningan berbicara jauh lebih jujur daripada kata-kata. Ia tahu Zinnia tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada Kaivan, atau setidaknya, tidak secara terang-terangan.

Pagi di vila terasa jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Tawa dan keusilan telah mereda, digantikan oleh kesibukan persiapan yang hening.

Raphael, dengan ekspresi serius, memeriksa perlengkapan dan senjata mereka. Isabel menutup ritsleting tasnya dengan satu tarikan tegas, lalu menyapu ruangan dengan pandangan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

Zinnia berdiri di dekat jendela, pandangannya melayang jauh ke kejauhan. Matanya tampak sedikit lelah, namun ada kelembutan dalam diamnya. Kenangan semalam, tawa pelan, kehangatan di balik selimut, masih tertinggal di dadanya. Ia tersenyum tipis, menghembuskan napas panjang sebelum berbalik dan kembali merapikan barang.

Di ambang pintu, Kaivan berdiri dengan tangan di saku jaketnya. Cahaya pagi jatuh ke matanya, memantulkan lanskap pegunungan di kejauhan. Udara masih dingin, meski perlahan menghangat. Ia menarik napas dalam, membiarkan oksigen segar memenuhi paru-parunya sebelum menghembuskannya perlahan. Banyak hal membebani pikirannya, terutama proyek yang belum selesai. Namun pagi ini, ia hanya ingin sejenak merasakan ketenangan.

Setelah semua beres dan tak ada yang tertinggal, mereka meninggalkan penginapan. Langkah kaki mereka menyatu, berderak di atas daun kering di sepanjang jalan sempit. Angin sepoi mengangkat helaian rambut Zinnia dan Isabel, menciptakan kontras seperti adegan film dengan ekspresi tenang mereka. Hampir tak ada percakapan, hanya saling pandang singkat dan senyum tipis yang menyimpan makna.

Frans sudah duduk di kursi pengemudi. Ia menyalakan mesin, dengungan halusnya memecah keheningan pagi. "Baik, kita pulang," ujarnya ringan sambil memindahkan gigi.

Kaivan duduk di depan, sementara yang lain di belakang. Matanya tertuju ke jalan, meski pikirannya jelas melayang. Ia menyentuh dagunya, lalu akhirnya berbicara tanpa menoleh.

"Suka tidak suka, aku harus menyelesaikan alat itu."

Frans melirik sekilas. "Alat apa memangnya?" tanyanya santai, tapi penasaran.

"Alat yang bisa membaca teks lalu mengubahnya jadi suara. Semacam gabungan OCR dan TTS," jawab Kaivan, nada suaranya tenang namun penuh pertimbangan.

Dari belakang, Isabel condong ke depan. "Maksudmu desain yang kamu tunjukkan di papan waktu itu?"

Kaivan mengangguk. "Iya. Teknologinya sudah ada, yang kubutuhkan sekarang hanya waktu dan dana untuk menyatukannya."

Zinnia mengangkat alis, tertarik. "Dana berapa?"

Kaivan membuka Tome Omnicent yang selalu dibawanya. Cahaya pagi meluncur di atas halamannya saat ia membalik beberapa lembar. "Sekitar lima puluh delapan juta... sampai seratus dua puluh juta rupiah."

Sejenak, suasana mobil menegang. Lalu,

"APAAA?!"

Teriakan itu meledak dari kursi belakang sekaligus. Frans tersedak kaget, sementara Isabel dan Zinnia saling menatap tak percaya.

Frans tertawa lepas, tangannya tetap menggenggam setir sambil melirik Kaivan lewat kaca spion. "Kamu mau jual semua emasmu cuma buat alat itu?! Gila kamu!"

Isabel bersandar dengan tangan bersedekap, matanya berbinar. "Dengan uang segitu, kamu bisa bikin lab mini sendiri!"

Kaivan mengangkat bahu santai. "Iya. Tapi aku ingin Tome Omnicent bisa bicara lagi."

Kalimat itu membuat tawa mereka mereda. Raphael yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat pandangan. "Kamu yakin alat itu bisa? Tome itu bukan buku biasa."

Kaivan melirik ke belakang, matanya dipenuhi keyakinan tenang. "Kalau berhasil, bukan cuma untukku. Ini bisa membantu banyak orang."

Zinnia menatap ke luar jendela saat pepohonan melintas cepat. "Kalau kita benar-benar mau melakukan ini... sisa uangnya dari mana?"

Keheningan menjawab lebih dulu. Lalu Kaivan menundukkan pandangan sedikit.

"Aku belum tahu. Tapi selama kita terus mengumpulkan emas dari ponsel bekas... mungkin suatu hari akan cukup."

Di antara dengungan mesin dan aroma segar pagi, satu hal terasa pasti. Mimpi mereka masih jauh, tapi tekad mereka nyata. Mobil terus melaju, membawa percakapan, tawa, dan secercah harapan yang perlahan tumbuh.

 

More Chapters