Cherreads

Chapter 142 - Perangkat yang Terbangun di Antara Hal-Hal yang Tak Terucap

Pagi di Bandung terasa luar biasa tenang. Di dalam sebuah bengkel kecil di lantai atas mal tua, aktivitas memenuhi setiap sudut ruangan. Kaivan, Zinnia, dan Radit tenggelam dalam labirin kabel serta komponen komputer yang berserakan di atas meja kerja. Asap tipis melayang dari solder, membawa aroma logam dan plastik yang terbakar, menyatu dengan keheningan penuh konsentrasi di antara mereka. Hampir tak ada kata terucap; hanya gerakan tangan dan tatapan singkat yang menjaga ritme pekerjaan tetap hidup.

Di sudut lain, Frans, Isabel, dan Felicia membongkar ponsel-ponsel lama, mencari serpihan kecil emas yang tersembunyi di dalamnya—sebuah proyek kecil yang seolah tak pernah benar-benar selesai.

Pintu terbuka. Langkah kaki ringan menyusul. Raphael dan Ethan masuk, wajah mereka tampak lelah namun puas. Raphael membawa sebuah kotak kecil yang terbungkus rapi, digenggam dengan hati-hati seperti sesuatu yang berharga.

"Kaivan," panggil Raphael sambil mendekati meja kerja. "Ini komponen yang kamu butuhkan, kan? Aku sempat ke Jakarta untuk mengambilnya."

Kaivan mengangkat wajah dari papan sirkuit, rasa lega melintas di matanya. "Terima kasih. Komponen ini penting sekali. Perjalanannya pasti panjang."

Raphael hanya mengangkat bahu, tersenyum tipis. "Tidak apa. Aku juga penasaran ingin melihat hasilnya nanti."

Di sampingnya, Ethan melipat tangan, matanya menyapu seluruh ruangan. "Perkembangannya bagaimana?"

Kaivan mengusap keningnya. "Struktur fisiknya hampir selesai. Tapi bagian software… lebih rumit dari yang kupikirkan."

Keheningan kembali turun perlahan. Hanya bunyi kecil alat-alat yang saling bersentuhan terdengar samar. Isabel, yang masih membongkar ponsel bersama Frans dan Felicia, mengangkat kepala. Tome Omnicent terbuka di tangannya.

"Menurut tome ini," gumamnya pelan, matanya menelusuri halaman, "softwarenya bisa dibeli di BEC."

Kaivan terdiam sejenak, menatap buku kuno itu. Kekaguman dan kelegaan bercampur di wajahnya. "Benar juga. Kalau kita buat dari nol, akan terlalu lama. Aku akan membelinya di BEC saja."

Ia bangkit perlahan dari kursinya. Gerakannya tenang, hampir terasa khidmat. Seolah ruang kecil itu menyadari bahwa satu tahap pekerjaan telah selesai. Ia menutup laptopnya dan melepas sarung tangan kulit. Luka-luka kecil dan goresan halus tampak di jari-jarinya—jejak malam tanpa tidur dan kerja tanpa henti.

Pandangan Kaivan beralih ke sudut ruangan. Felicia duduk bersila di lantai, dengan cekatan membongkar ponsel tua. Obeng kecil berputar ringan di jemarinya. Fokusnya begitu dalam, alis sedikit berkerut, bibirnya mengatup saat menarik kabel yang rapuh.

"Felicia," panggil Kaivan.

Felicia menoleh. Mata merah mudanya melebar sesaat sebelum senyum lembut mengembang di wajahnya. Ia meletakkan obeng, melepas sarung tangan, lalu berdiri dengan anggun. Rambut hitam panjangnya jatuh di punggung, menangkap cahaya seperti bayangan musim gugur—tenang, sederhana, namun sulit diabaikan.

"Siap," jawab Felicia singkat, namun ada kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada Kaivan.

Sebelum melangkah, Kaivan menoleh ke sisi lain ruangan. Frans masih membungkuk seperti biasa, fokus pada ponsel di tangannya. Jemarinya bergerak cepat dan presisi, hampir seperti mesin.

"Frans," ujar Kaivan santai, "nanti jemput Thivi, ya? Dia mungkin bawa ponsel lama lagi."

Frans hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan, seolah pikirannya terikat pada satu tujuan.

Di dekat pintu, Raphael berdiri santai dengan tangan terlipat. Ia melangkah maju dan menepuk bahu Kaivan dengan mantap—sebuah isyarat penuh pengertian tanpa perlu kata-kata.

"Bagian emas biar aku yang urus," katanya ringan, namun tatapannya yakin. "Kamu fokus saja ke perangkatmu. Aku tahu kamu bisa menyelesaikannya lebih cepat dari yang kamu kira."

Kaivan mengangguk kecil, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Ia membuka ranselnya dan dengan hati-hati memasukkan Tome Omnicent ke dalamnya. Saat buku itu menghilang, udara seakan berubah—lebih berat, lebih dalam—seolah ada sesuatu di dalamnya yang hidup dan sadar akan tujuan berikutnya.

Begitu mereka melangkah keluar, dinginnya pagi Bandung menyambut kulit mereka. Udara pegunungan menyelinap di antara jaket, membawa aroma kabut dan aspal basah. Lapisan embun tipis menyelimuti jalan, sementara lampu kendaraan yang melintas berkilau seperti bintang-bintang tersesat di lautan abu.

Felicia menarik napas perlahan. Ia merapikan rambutnya sebelum menyelipkannya ke dalam helm hitam doff, gerakannya sederhana namun anggun. Kaivan menyalakan motor hitam kustomnya; suara mesinnya rendah, bergemuruh seperti makhluk malam yang baru terbangun.

Felicia naik ke jok belakang. Ia sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di bahu Kaivan sebelum perlahan melingkar di pinggangnya. Gerakan itu terasa alami—seperti berpegang pada satu-satunya hal yang masih pasti di dunia yang terus berubah.

Motor itu melaju, membelah lalu lintas pagi Bandung. Klakson, deru mesin, dan gumam percakapan pagi menyatu menjadi irama yang riuh. Namun di tengah semua itu, mereka tetap diam.

Felicia menatap punggung Kaivan. Matanya lembut, namun menyimpan beban. Ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka—sebuah janji lama yang tertinggal di arus waktu.

Pelukannya sedikit mengerat, seakan berharap ia bisa didengar tanpa kata. Ia teringat malam itu… ketika Kaivan berjanji akan menjelaskan segalanya setelah semua ini berakhir.

Mereka akhirnya tiba di BEC. Bangunan tinggi itu berdiri kokoh, permukaan kacanya memantulkan awan berat yang menggantung di langit Bandung. Felicia turun lebih dulu, sepatu menyentuh aspal basah dengan bunyi pelan. Matanya menyapu area parkir yang sudah mulai penuh kendaraan.

Kaivan memarkir motor dengan tenang. Ia melepas helm dan menatap gedung itu dengan fokus. Di sampingnya, Felicia menggenggam helmnya erat. Angin berhembus ringan, mengibaskan beberapa helai rambut di wajahnya.

Saat mereka berjalan menuju pintu masuk, Felicia melirik Kaivan dari sudut matanya. Cara Kaivan merapikan tali ransel, ketegangan di bahunya saat angin menerpa—semuanya mengisyaratkan beban yang masih ia simpan sendiri.

More Chapters