Cherreads

Chapter 143 - Pertama Kalinya Tome Ditolak

Kaivan berjalan lebih dulu, hoodie abu-abunya bergoyang mengikuti langkah santainya. Rambut hitamnya bergerak ringan setiap kali ia melangkah. Di belakangnya, Felicia mengikuti dengan ritme lebih lambat, ragu, mencuri pandang setiap beberapa detik.

Ia menarik napas dalam, menegakkan tubuhnya, lalu mempercepat langkah. Suara sepatu yang beradu pelan dengan lantai mal berpadu dengan musik latar yang samar.

"Kaivan," panggilnya akhirnya, nyaris berbisik. "Waktu itu… kamu bilang ada sesuatu yang penting ingin kamu bicarakan, kan?"

Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah. Jemarinya mencengkeram pelan di dekat dada, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak teratur. Tatapannya bertemu dengan Kaivan—dipenuhi harap, sekaligus gelisah.

Kaivan sedikit tersentak, langkahnya melambat. Ia menoleh sekilas, alisnya terangkat, lalu kembali berjalan.

"Oh, iya," jawabnya datar. "Aku hampir lupa."

Mata Felicia melebar. Ia mempercepat langkah hingga sejajar dengannya, kepalanya sedikit tertunduk saat ia menggigit bibirnya pelan.

"Jadi…" Suaranya bergetar. "Apa yang ingin kamu katakan?"

Kaivan tetap berjalan, pandangannya melayang ke etalase toko. Tangannya menyentuh kaca salah satu display, seolah sedang meraba pikirannya sendiri.

"Itu tentang kamu," ujarnya akhirnya, ringan. "Ternyata kamu adalah keturunan seseorang yang pernah dipengaruhi oleh Tome Omnivalor. Dan orang-orang seperti kamu… bukan cuma satu. Kamu tidak sendirian."

Kata-kata itu keluar begitu saja, seperti fakta biasa yang dilempar ke udara—tanpa menyadari badai yang diam-diam bergejolak di dalam dada Felicia.

Langkah Felicia terhenti. Bahunya perlahan jatuh saat ia membeku di tengah koridor, membiarkan arus manusia mengalir melewatinya seperti sungai yang mengitari sebuah batu sunyi.

"Mm… cuma itu?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.

Cengkeramannya pada tas menguat, jari-jarinya memucat. Napasnya menjadi dangkal, dadanya terasa sesak oleh kekecewaan yang bahkan belum sempat ia beri nama.

Sementara itu, Kaivan terus berjalan tanpa menyadari bahwa Felicia tak lagi di sampingnya. Ia berhenti di depan sebuah toko gadget dan menoleh.

"Sepertinya di sini tempatnya, Felicia."

Baru saat ia menoleh lebih jauh, ia menyadari Felicia berdiri beberapa meter di belakang. Alisnya mengernyit.

"Felicia? Ayo," panggilnya ringan.

Felicia menarik napas panjang. Ia memaksakan senyum kecil di wajahnya, meski matanya tetap kosong. Langkahnya terasa berat saat ia mendekat.

"Iya," gumamnya pelan, suaranya dingin seperti kabut yang belum menghilang.

Mereka berdiri berdampingan, namun jarak tak kasat mata terbentang di antara keduanya—ruang yang lahir dari harapan yang perlahan runtuh. Kaivan, entah tidak menyadari atau memilih untuk tidak melihat, tetap tampak tenang. Ia tak tahu bahwa di balik ekspresi datar Felicia, perasaan sedang saling bertabrakan.

Mereka masuk ke dalam toko, deretan software tertata rapi. Seorang pria tua di balik meja menyambut mereka dengan senyum hangat. Kaivan mendekat.

"Pak, ada software OCR dan TTS?"

Pria itu menggeleng pelan. "Kalau yang seperti itu, coba ke lantai bawah, Nak."

"Terima kasih."

Kaivan kembali ke sisi Felicia yang masih diam. Mereka berjalan menuju eskalator. Kaivan tenggelam dalam pikirannya, mencoba memahami perubahan yang terjadi di antara mereka.

Tiba-tiba—"Pak!"

Sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya. Ia menoleh kaget.

"Kenapa kamu mukul aku?" tanya Kaivan, bingung.

Felicia mengangkat bahu, menjawab pelan, "Nggak apa-apa." Suaranya datar, namun di balik dinginnya tersimpan kekecewaan yang tak ia ucapkan. Tepukan itu bukan inti dari semuanya—hanya luapan dari luka yang lebih dalam.

Kaivan menatapnya, semakin bingung, lalu meraih tasnya, bersiap membuka Tome Omnicent. Namun sebelum halaman pertama terbuka, Felicia menarik tas itu.

"Jangan pakai Tome Omnicent," katanya cepat. "Coba pahami sendiri."

Langkahnya kembali bergerak menjauh, meninggalkan Kaivan yang terdiam di tempat.

Ia tak pernah benar-benar menebak perasaan tanpa bantuan buku itu.

Untuk pertama kalinya, ia dipaksa untuk memperhatikan… bukan sebagai peneliti, melainkan sebagai manusia.

More Chapters