Di atas eskalator yang bergerak turun, udara di antara mereka terasa dingin, seperti hembusan AC yang tak terlihat. Kaivan berpikir keras, namun tak menemukan jawaban. Sementara itu, Felicia tenggelam dalam rasa perih yang sunyi. Ia bukan mencari penjelasan tentang garis keturunannya. Ia hanya ingin diakui, ingin sesuatu yang nyata. Dan Kaivan, sadar atau tidak, telah melewatkannya.
Mereka berjalan di lantai bawah mal hingga tiba di sebuah toko software kecil dengan rak-rak yang tertata rapi. Lampu neon redup memancarkan cahaya hangat sekaligus sendu, menghapus sisa kecerahan dari luar.
Seorang pria muda di balik meja menyambut mereka dengan ramah, senyumnya melebar saat melihat keduanya masuk.
Kaivan melangkah maju dengan tenang, meski pikirannya masih kusut. Felicia mengikuti beberapa langkah di belakang, tatapannya menyimpan luka yang belum hilang.
"Ada software OCR dan TTS?" tanya Kaivan, suaranya datar namun jelas.
"Oh, Optical Character Recognition dan Text to Speech? Ada, Kak," jawab penjaga toko dengan antusias. "OCR mulai dari satu juta sampai dua setengah juta. TTS dari lima ratus ribu sampai satu setengah juta."
Tanpa ragu, Kaivan mengangguk. "Saya ambil yang dua setengah dan yang satu setengah."
Penjaga toko itu sempat terkejut, lalu tersenyum lebar. Jarang ada pelanggan yang memutuskan secepat itu. Dan entah kenapa, di balik senyumnya, seolah ia tahu bahwa hari ini Kaivan mencari lebih dari sekadar software.
Kaivan menoleh ke arah Felicia yang masih berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Felicia, kembalikan tasku. Aku mau ambil uang," katanya tenang, namun ada nada lain yang terselip di balik suaranya.
Felicia menatapnya sejenak, lalu menggeleng. Ia tahu Kaivan bisa saja menggunakan Tome Omnicent untuk membaca pikirannya kapan saja.
Kaivan menghela napas pelan. "Kalau begitu… ambilkan dompetku saja," ujarnya lebih lembut, mencoba meredakan jarak di antara mereka.
Felicia melangkah mendekat dan perlahan membuka tasnya. Namun saat ujung jarinya menyentuh permukaan Tome, rasa pusing tiba-tiba menyerangnya.
"Kyaah…" ia terengah. Tubuhnya goyah.
Kaivan bergerak cepat, menangkapnya sebelum terjatuh. Lengannya merangkul tubuh Felicia yang gemetar, menahannya agar tetap berdiri.
"Kamu menyentuhnya tanpa sadar, ya?" bisiknya, nada khawatir jelas terdengar. "Kamu nggak apa-apa?"
Felicia mengangkat wajahnya, menatap Kaivan dari jarak yang terlalu dekat. Jantungnya berdetak cepat, antara pusing dan perasaan yang ia tolak untuk diakui. Namun ia segera menjauh, tatapannya kembali dingin. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapannya.
Kaivan melepaskannya. Ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk mendekat lebih jauh.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil tas itu dan membayar software yang dipilihnya. Penjaga toko yang tak menyadari ketegangan di antara mereka menerima uang itu dengan senyum puas.
Mereka keluar dari toko dalam diam. Keramaian mal terasa jauh, seperti latar yang kabur di balik drama sunyi dua hati yang tak selaras. Felicia berjalan sekitar tiga meter di belakang Kaivan, menjaga jarak. Kekecewaan dan kesal bercampur di dalam dirinya, sementara Kaivan berusaha mencari cara memperbaiki sesuatu yang belum ia pahami.
Di depan sebuah kios es krim kecil, Kaivan berhenti. Warna lembut es krim vanila memberinya sebuah ide sederhana. Ia membeli dua, lalu menoleh saat Felicia mendekat.
"Mau ini?" tanyanya, menawarkan satu.
Felicia menggeleng. "Nggak. Kamu saja."
Kaivan tersenyum tipis dan mengangkat tangan satunya. "Yang ini masih baru. Aku beli dua."
Felicia ragu sejenak. Tatapannya melembut. Perlahan ia mengulurkan tangan, namun justru mengambil es krim yang sudah sempat digigit Kaivan.
"Makasih," bisiknya pelan, menjilat bagian yang mulai mencair. Dingin manisnya tak mampu menyembunyikan kehangatan kecil yang tumbuh di dalam dirinya, rapuh dan malu-malu.
Sore itu, di anak tangga depan mal yang sepi, mereka duduk berdampingan. Siluet bangunan dan pepohonan hijau bergoyang pelan diterpa angin. Langit mulai dihiasi warna jingga lembut, membingkai keheningan yang terasa anehnya akrab.
Felicia terus menikmati es krim vanilanya, sementara Kaivan menatap lurus ke depan dengan es krimnya yang mulai meleleh. Suasana tenang, hanya diisi oleh angin dan langkah kaki samar dari kejauhan.
Kaivan menarik napas, menenangkan dirinya.
"Felicia," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh udara sore. "Maaf… aku kurang peka sama kamu."
Felicia tidak langsung menjawab. Ia sedikit menoleh, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Curang… kamu pasti baca Tome Omnicent, kan?" bisiknya.
Kaivan menggeleng pelan, senyum kecil terukir di bibirnya. "Kamu lihat sendiri. Aku nggak membukanya."
Tanpa berkata lagi, ia mengeluarkan tisu dan dengan hati-hati membersihkan es krim yang meleleh di jari Felicia serta sudut bibirnya. Gerakannya pelan, lembut, membuat Felicia terdiam. Sejenak, waktu seperti berhenti.
Tatapan Felicia melunak. Ia tahu Kaivan tidak mengandalkan Tome untuk memahaminya. Mungkin itulah yang ia butuhkan. Namun badai di dalam dirinya belum sepenuhnya reda. Ia masih berdesir pelan seperti ombak kecil di tepi pantai.
Ia menatap Kaivan, lalu mengambil tisu dari tangannya. Es krim di tangannya terus mencair, menetes perlahan seperti perasaan yang ia coba tahan. Namun di dalam matanya, sesuatu yang hangat mulai tumbuh.
