"Kaivan," bisiknya pelan, "kamu itu penting buat aku." Sambil berkata begitu, ia mengulurkan tangan dan menghapus sisa es krim di sudut bibirnya.
Kaivan membeku. Ia tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu secara langsung darinya. Kehangatan menjalar di dalam dadanya, namun kebingungan masih tertinggal. "Tapi… aku belum siap untuk hal seperti itu. Kamu ngerti, kan?"
"Kamu juga penting buat aku," lanjut Kaivan akhirnya, suaranya lebih tenang. "Jadi jangan dingin lagi sama aku, ya? Aku lebih suka Felicia yang biasa. Bahkan waktu kamu ngambek tadi… kamu tetap kelihatan cantik buat aku."
Felicia memalingkan wajah, tapi senyum tipis di bibirnya mengkhianati perasaannya. Perlahan, ia mengangguk. "Aku cuma… sedikit kesal aja. Gimana kalau kita ke game center? Biar benar-benar hilang."
Mereka masuk ke area arcade. Begitu melangkah masuk, tatapan Felicia langsung terpaku pada mesin pukul besar di sudut ruangan. Matanya menajam, seolah menemukan lawan yang sepadan. Ia menggulung lengan bajunya dan berdiri mantap di depannya.
"Felicia… kamu yakin?" tanya Kaivan, setengah bercanda, setengah khawatir.
Tanpa menjawab, Felicia melayangkan pukulan cepat dan kuat. Dentumannya menggema di seluruh ruangan, membuat mesin di sekitarnya bergetar. Angka di layar langsung menunjukkan 9999, maksimal.
Kaivan terdiam, antara kagum dan ngeri. "Kalau kamu mukul aku sekeras itu pas lagi marah… aku pasti masuk rumah sakit."
Felicia menghembuskan napas panjang, tersenyum lega. "Hah… enakan. Ayo, kita balik ke workshop." Ia meraih tangan Kaivan, kembali ceria.
Mereka melaju di jalanan yang mulai sepi dengan motor Kaivan. Angin sore menyapu rambut dan pakaian mereka, seolah dunia melambat hanya untuk mereka berdua. Matahari yang tenggelam melempar bayangan panjang di jalan.
Felicia duduk di belakang, sedikit condong ke depan. Tangannya memegang sisi jok, namun ujung jarinya seperti merasakan detak jantung Kaivan dari punggungnya. Matanya menatap langit senja, biru yang melebur menjadi jingga lalu ungu, cahayanya melembutkan ekspresinya.
Setelah lama diam, Felicia mendekat. Napasnya menyentuh leher Kaivan. "Aku bahkan nggak tahu kalau aku mewarisi efek Omnivalor. Kamu tahu dari mana?" bisiknya.
Kaivan tetap fokus ke jalan. "Waktu aku lawan William di ruang bawah tanah Radio Malabar, dia sempat bilang kalau efek itu bisa diwariskan. Dari situ aku mulai paham tentang kekuatanmu."
Felicia kembali diam. Aroma tanah dan daun basah terbawa angin senja. Tatapannya menjadi jauh.
Lalu pelan, ia bicara lagi. "Kaivan… berarti kekuatanku bangkit karena aku ingin melindungi kamu?"
Kaivan sedikit menoleh, cukup untuk melihat garis wajahnya. Ia tersenyum. "Iya. Kurang lebih begitu."
Felicia memeluknya dari belakang. Hangat. Tenang. Jemarinya mencengkeram pelan jaket Kaivan, seakan butuh memastikan keberadaannya. Dagunya bersandar di bahunya.
"Kaivan…" bisiknya jujur, rapuh, "di perjalanan ini… boleh nggak kalau aku juga ingin merasa aman dan dilindungi?"
Kaivan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum, napasnya terhembus bersama angin. Ada perasaan yang tak butuh bahasa, terutama yang terbungkus dalam pelukan Felicia, penuh kerinduan untuk dimengerti.
Mereka terus melaju di bawah cahaya senja yang lembut. Bayangan mereka memanjang menjadi satu, pepohonan bergoyang pelan seakan menyaksikan dua hati yang perlahan saling terikat.
Di balik kekuatan dan keberanian Felicia, tersimpan keinginan sederhana. Ia ingin merasa seperti perempuan pada umumnya. Ia ingin dilindungi, oleh seseorang yang ia percayai.
Bengkel terasa lebih sunyi saat Kaivan dan Felicia tiba. Cahaya neon redup menyinari ruangan dengan hangat, memantul pada mesin-mesin yang berdengung seperti rumah yang hidup dengan ritmenya sendiri. Di dekat pintu, Thivi berdiri dengan tangan terlipat, tatapannya tajam dan penuh rasa ingin tahu.
"Wah, serius? Kalian pergi berdua tanpa bilang siapa-siapa," godanya, matanya bergantian menatap Kaivan dan Felicia dengan nakal.
Kaivan menghela napas lelah, jelas tidak ingin meladeni. "Oh, Thivi. Kamu sudah datang? Aku masuk dulu. Mau install aplikasinya," katanya, lalu berjalan melewati mereka, meninggalkan Felicia di depan.
Thivi mendekat ke Felicia dengan senyum licik. "Jadi? Kalian ngapain aja?"
Felicia tersenyum santai. "Cuma ke BEC, terus mampir Timezone. Nggak ada yang spesial."
Thivi mengangkat alis. "Cuma itu? Maksudku… aku saja pernah makan es krim Kaivan langsung dari cone-nya. Kamu belum, kan?"
Felicia yang polos menjawab dengan bangga, "Tentu saja sudah. Aku bahkan menjilat es krim Kaivan sampai berantakan. Dia sampai harus ngelap tangan sama mulutku pakai tisu. Nih, masih ada." Ia mengeluarkan tisu bekas dari sakunya dengan senyum cerah.
Thivi membeku. Matanya melebar. "H-Hah?? Berantakan?! Yang putih itu?!"
"Iya, es krim vanila kan memang putih…" jawab Felicia tanpa curiga.
Thivi langsung panik. Wajahnya memerah. Tanpa berpikir, ia berlari masuk ke dalam bengkel dan berteriak sekuat tenaga, "KAIVAN! FELICIA NGELAKUIN ITU KE KAMU, KAN?!"
Seluruh bengkel mendadak sunyi. Mesin berhenti. Semua kepala menoleh. Kaivan berdiri kaku, wajahnya pucat, benar-benar kebingungan.
