Cherreads

Chapter 146 - Tidak Terjadi Apa-Apa, Dan Itulah Masalahnya

Felicia hanya berkedip, masih tidak mengerti apa yang telah ia lakukan salah.

Zinnia yang berdiri di samping Kaivan langsung meledak. "Keterlaluan!" Tamparannya mendarat keras di pipi Kaivan, suaranya menggema tajam di ruangan. Kaivan terhuyung, matanya melebar, sama sekali tak memahami situasinya.

Semua pekerjaan terhenti. Semua orang menatapnya dengan tak percaya. Ethan melangkah maju. Biasanya ceria, kini nadanya dingin penuh sindiran. "Wah, pamer hal seperti itu di tempat kerja? Berani juga kamu." Tepukan di bahu Kaivan terasa lebih seperti ejekan.

Isabel yang selalu tenang justru mendekati Felicia. "Felicia… rasanya enak?" bisiknya pelan, matanya jernih penuh rasa ingin tahu yang polos.

Felicia membeku. Wajahnya memerah dalam sekejap. Kata-katanya tadi berputar kembali di kepalanya, perlahan, menyakitkan. Ia akhirnya mengerti. Penjelasannya yang polos telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih intim.

Dadanya terasa sesak. Telapak tangannya mulai berkeringat. Kata-kata tak mau keluar.

Tapi semuanya sudah terlambat. Kesalahpahaman kecil itu telah meledak menjadi badai rumor.

Felicia menatap Kaivan, memohon dalam diam, berharap ia bisa merapikan kekacauan ini.

Kaivan berdiri kaku, pikirannya berputar keras. Rahangnya mengeras, senyum terpaksa muncul di wajahnya, antara tidak percaya dan putus asa.

Di sisi lain ruangan, Radit, Raphael, dan Frans hanya bisa menonton dengan ekspresi bingung, seolah terseret ke dalam drama yang tak mereka duga.

"Kaivan… itu cuma es krim," bisik Felicia akhirnya, suaranya gemetar menahan malu. "Beneran… cuma es krim."

Kaivan menarik napas dalam dan berteriak, "SEMUA! Felicia tadi cuma ngomongin es krim! Es krim vanila! Nggak ada yang lain!"

Hening.

Aneh. Canggung.

Beberapa orang saling melirik, masih ragu. Zinnia berkedip cepat, mencoba mencerna ulang. Ethan sedikit mengendurkan sikapnya, meski senyum tipisnya belum hilang.

Perlahan, ketegangan di bengkel mulai mereda, meski belum sepenuhnya hilang.

Kaivan menghela napas panjang, lelah bukan hanya karena kekacauan barusan, tapi juga karena pekerjaan besar yang menunggunya. Felicia menunduk, pipinya masih panas. Ia tak pernah menyangka sesuatu yang begitu sederhana bisa berubah seburuk ini.

Di sudut ruangan yang redup, bunyi alat-alat yang beradu terdengar pelan, menjadi ritme kecil di tengah keheningan yang berat. Radit fokus mencampur bahan ekstraksi, sementara Thivi di sampingnya mencoba menenangkan napasnya. Tangannya bergerak hati-hati saat menuangkan serbuk emas ke dalam larutan kimia, namun suasana di antara mereka masih menyisakan kecanggungan dari kejadian tadi.

Radit meliriknya, menarik napas pelan, lalu tersenyum kecil. "Jadi…" katanya hati-hati, "gimana kamu bisa mikir Felicia ngelakuin itu ke Kaivan? Cuma gara-gara es krim biasa?"

Thivi mengangkat alis, lalu tertawa kecil canggung. "Aku kira… Kaivan nolak aku di villa karena dia sudah punya orang lain." Ia ragu sejenak, suaranya melembut. "Dan waktu Felicia ngomongnya ambigu… aku pikir mereka benar-benar maksudnya beda." Ucapannya menggantung, pipinya memerah halus.

Radit hampir menjatuhkan alat di tangannya. "Hah? Tunggu, dia nolak kamu?" suaranya pecah karena tak percaya.

"Bukan, maksudnya…" Thivi gugup, suaranya makin pelan. "Waktu itu aku cuma kebawa suasana. Di ruang penyimpanan, cuma berdua… jadi aku penasaran. Tapi Kaivan… dia menjauh. Dan minta maaf." Suaranya hampir tak terdengar, tapi cukup membuat udara di antara mereka berubah. Kecanggungan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat, lebih rapuh.

Langkah kaki cepat terdengar di lorong bengkel, memotong momen itu. Zinnia muncul dari balik tumpukan peralatan, ekspresinya tegas.

"Emasnya sudah dilelehkan?" tanyanya singkat.

Radit tersentak, hampir menjatuhkan alat lagi. Ia berbalik cepat, wajahnya kaku seperti tertangkap basah. Thivi juga membeku, senyumnya kaku, berharap Zinnia tidak mendengar apa pun.

Zinnia menyipitkan mata, menatap keduanya bergantian. "Tadi kalian ngobrol apa?" tanyanya datar.

Radit membuka mulut, tapi tak ada jawaban. Thivi menunduk, berpegangan pada sisa keheningan yang rapuh. Apa pun yang Zinnia rasakan, ketegangan itu terlalu jelas untuk disembunyikan.

Di sisi lain bengkel, suasananya berbeda. Kaivan dan Isabel fokus menyelesaikan perangkat uji mereka. Kabel tersusun rapi di atas meja, komponen elektronik akhirnya mulai terhubung sempurna. Isabel mengaktifkan Tome Omnicent, buku hidup yang berisi data cuaca, peta, dan berbagai informasi penting, sementara Kaivan menghubungkan kabel terakhir ke sebuah pemindai kecil.

"Akhirnya," gumam Kaivan sambil mengusap keringat di dahinya. "Kita sampai di tahap pertama."

Isabel mengangguk, matanya berbinar.

"Letakkan Tome sekarang," ujar Kaivan.

Isabel menurut. Buku itu perlahan membuka halamannya sendiri, merespons perangkat baru yang mereka buat.

Kaivan memberi perintah pertama. "Kapan hujan turun?"

Sesaat hening.

Lalu halaman Tome bergetar pelan. Tulisan muncul di layar pemindai.

Tidak akan ada hujan di kota ini hari ini.

Tulisan itu terlihat jelas.

Perangkat OCR mereka akhirnya berhasil.

"Yes!" seru Kaivan, matanya bersinar. "Kita benar-benar berhasil!"

 

More Chapters