Isabel melompat kecil, tak mampu menahan kegembiraannya. "Kita berhasil, Kaivan!" serunya, lalu tanpa sadar memeluknya.
Pelukan hangat itu memancarkan rasa lega dari usaha panjang yang akhirnya terbayar. Namun suara itu menarik perhatian seluruh bengkel.
Felicia, Ethan, Radit, dan Frans serempak menoleh. Rasa penasaran membawa mereka mendekat.
Saat tiba, mereka melihat Kaivan dan Isabel masih saling berpelukan, tawa ringan masih tersisa di wajah mereka.
Ethan mengangkat alis, lalu terkekeh. "Wah, bro. Semua cewek di sini makin dekat sama kamu ya?" godanya, terdengar santai, tapi menyimpan sesuatu di baliknya.
Kaivan dan Isabel langsung kaku. Mereka buru-buru melepaskan diri, wajah keduanya memerah saat keheningan menggantikan euforia tadi.
Felicia segera mendekat. "Baru aku tinggal sebentar, sudah begini," katanya setengah kesal. Ia mencolek kepala Kaivan cukup keras hingga membuatnya meringis.
"Ow!" Kaivan memegangi kepalanya, rasa bersalah jelas terlihat.
"Kayaknya aku harus terus ngawasin kamu," gumam Felicia. Namun semburat merah di pipinya menunjukkan, nada itu lebih berisi khawatir daripada marah.
Isabel tertawa kecil di samping Kaivan, malu, namun tanpa penyesalan. Suasana bengkel perlahan kembali hangat. Percakapan dan bunyi logam pelan memenuhi udara. Semua berkumpul di sekitar komputer dan alat pemindai buatan Kaivan. Cahaya monitor memantulkan bayangan lembut di wajah mereka, menyinari alat-alat dan kabel yang berserakan.
Zinnia memperhatikan perangkat itu dengan rasa ingin tahu yang tajam. "Jadi ini yang kamu buat, Kaivan?" suaranya lembut, namun tegas.
Kaivan mengangguk, lalu menunjuk papan tulis penuh coretan di belakangnya. Ia mengetuk salah satu diagram utama.
"Mesin ini bisa membaca isi Tome Omnicent dan menampilkannya di layar. Aku juga menambahkan modul Text-to-Speech, jadi Tome bisa membacakan teksnya sendiri."
Ia menarik napas, matanya berkilat penuh semangat. "Dan bukan cuma itu. Aku hubungkan juga ke ponselku. Jadi walaupun Tome tidak ada di dekat kita, kita tetap bisa membuatnya merespons lewat speaker, bahkan lewat walkie-talkie."
Beberapa dari mereka mengangguk, mencoba memahami. Raphael mengangkat tangan, alisnya berkerut. "Tapi... Tome itu cuma aktif kalau disentuh, kan? Kamu bisa melewati itu bagaimana?"
Kaivan menatapnya tenang. "Secara teori, suara dari jarak jauh juga bisa memicu responsnya. Tidak harus kontak langsung. Kita bisa coba sekarang kalau mau."
Ia meletakkan ponselnya di dekat Tome Omnicent, lalu berjalan keluar bengkel. Di dalam, semua mata tertuju pada monitor yang menyala. Ruangan yang tadi ramai berubah menjadi hening penuh harap.
Dari luar, suara Kaivan terdengar melalui panggilan. "Seberapa jauh jarakku darimu sekarang, Tome Omnicent?"
Sesaat kemudian, halaman Tome bergerak pelan. Pemindai menangkapnya, dan teks muncul di layar.
"Jarakmu dariku adalah 19,3 meter."
Hening sejenak, lalu kekaguman pelan terdengar. Raphael mengangguk. "Baiklah… berarti lewat telepon juga bisa."
Radit yang sejak tadi duduk sendiri tiba-tiba berdiri dan berlari keluar mengikuti Kaivan. Ia meminjam ponsel itu, lalu berseru dengan nada bercanda, "Kalau gitu aku mau tanya yang penting!" Dengan senyum lebar ia bertanya, "Kapan tukang nasi goreng lewat depan rumahku?"
Zinnia tertawa kecil di dalam bengkel. "Nggak masuk akal. Dia beneran nanya itu."
Namun layar tetap kosong. Tome tidak bereaksi, seolah pertanyaan itu tidak layak dijawab.
Dalam keheningan itu, Ethan melangkah maju. Cahaya monitor menyapu wajahnya yang tenang. "Sudah jelas," katanya pelan, "sistem ini hanya merespons Kaivan."
Ucapannya membuat Isabel melirik sebentar, sebelum kembali menatap ponselnya.
Raphael yang melihat kemungkinan lain mendekatinya. Tatapannya serius, namun senyumnya lembut. "Coba kamu keluar. Pakai ponsel Kaivan. Siapa tahu kamu juga bisa komunikasi."
Isabel mengangkat bahu ringan. "Baiklah, aku coba." Ia melangkah keluar dengan percaya diri. Cahaya senja membungkusnya dengan warna jingga hangat. Ia berhenti di luar, lalu berbicara melalui ponsel yang terhubung ke Tome.
"Kapan orang yang aku suka akhirnya akan menyatakan perasaannya padaku?"
Namun layar tetap diam.
Raphael menghela napas pelan. "Tidak ada reaksi… berarti memang Isabel harus menyentuh Tome secara langsung."
Tak lama, Isabel kembali bersama Kaivan dan Radit. Wajahnya tenang, tanpa harapan maupun kekecewaan.
Kaivan melangkah maju. "Sepertinya aku satu-satunya yang bisa berbicara langsung dengan Tome Omnicent. Tapi kalau kalian dengarkan baik-baik, aku bisa tambahkan fitur TTS dan hubungkan ke ponsel."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Dari sudut, Frans bertanya datar, "Kalau dipakai terus lewat telepon, pulsanya habis berapa?"
