Thivi langsung menjawab, "Sekitar 192 rupiah tiap sepuluh detik. Lumayan cepat habis, apalagi tadi Kaivan sering telepon."
Kaivan terdiam sejenak, berpikir. "Masuk akal… mungkin kita harus pakai walkie-talkie saja. Atau aku bisa langsung tanya ke Tome."
Seketika layar menyala, menampilkan jawaban:
"Pengembangan sistem dapat dipercepat dengan menggunakan algoritma yang sudah ada, mengintegrasikan OCR dan TTS tanpa pengujian berulang. Untuk transmisi suara, gunakan pemancar FM atau AM atau walkie-talkie. Untuk jarak dekat, Bluetooth cukup. Untuk jarak jauh, gunakan jaringan seluler 2G atau 3G."
Felicia mengernyit, napasnya sedikit tidak stabil. "Dan kita mau bangun menara radio itu di mana tepatnya?"
Kaivan terlihat lelah. "Untuk sekarang, aku fokus ke TTS dulu. Yang lain nanti saja. Dana kita juga terbatas."
Bengkel kembali sunyi, hanya suara mesin yang pelan mengisi ruangan. Zinnia memecah keheningan, suaranya lembut namun tegas.
"Total emas kita sekarang berapa gram?"
Thivi mengangkat kepala dengan bangga. "Sudah 265 gram," jawabnya mantap.
Zinnia menoleh ke arah Frans yang berdiri dekat tumpukan ponsel. "Masih berapa unit yang belum dibongkar?"
Frans menunjuk ke sudut ruangan. "Sekitar 142 ponsel lagi."
Zinnia mengangguk pelan, menghitung cepat. "Raphael sudah jual 100 gram dari batch itu," gumamnya, lalu menatap Thivi. "Dua minggu lagi kamu harus bawa unit baru, ya."
Raphael menyela, suaranya tenang tapi tegas. "Masalahnya, sekarang jual emas dari komponen ponsel makin sulit."
Semua langsung menoleh padanya.
"Beberapa pembeli mulai curiga. Bisa saja sebentar lagi mereka menolak beli dari kita," lanjutnya.
Kaivan mengangguk perlahan, ekspresinya tetap tenang namun waspada.
"Betul. Dan kamu tahu dari mana?" tanya Raphael. Namun sebelum Kaivan menjawab, ia mengangkat tangan sambil tersenyum tipis. "Sudahlah. Aku sudah tahu sumbernya," katanya, melirik Tome Omnicent.
Kaivan membalas dengan senyum kecil. Di tengah tekanan dan risiko, ia tetap menjadi titik tenang bagi mereka.
Untuk mencairkan suasana, Kaivan berkata, "Gimana kalau kita makan bareng hari ini?"
Suasana langsung berubah. Senyum tipis mulai muncul. Di tengah beban yang mereka tanggung, ajakan sederhana itu terasa hangat, seperti pengingat bahwa mereka masih bersama.
Di seluruh wilayah, ekonomi mulai bergetar. Pemerintah baru saja mengeluarkan larangan keras terhadap perdagangan emas ilegal. Kebijakan itu muncul karena lonjakan penjualan emas dalam skala besar yang mulai mengganggu stabilitas pasar.
Di balik dinding megah gedung pemerintahan, sebuah pertemuan rahasia berlangsung. Gubernur sementara menerima tamu yang tidak biasa.
Ruang rapat itu luas dan tenang. Lukisan klasik menghiasi dinding, menambah kesan berat dan formal. Di meja besar, gubernur duduk dengan sikap tenang, meski matanya menyimpan kegelisahan halus.
Di hadapannya duduk seorang wanita elegan bernama Vella. Seorang pebisnis sukses, sekaligus pemilik Tome Omniphilos, artefak yang mengatur aliran energi. Di sampingnya, Rapi berdiri, tenang namun siaga.
"Terima kasih sudah melaporkan aktivitas ilegal ini," ujar gubernur pelan.
Vella tersenyum anggun, halus namun tajam. "Bukan hanya demi hukum, Pak. Saya hanya berharap kerja sama kita bisa berjalan baik ke depan." Ia mengeluarkan amplop cokelat dari tas kulitnya dan meletakkannya di meja.
Gubernur langsung mengerti. Ia tertawa kecil. "Tentu saja. Selama Anda bicara langsung dengan saya, semuanya bisa diatur."
Percakapan mereka berakhir dalam keheningan yang lebih berarti dari kata-kata. Vella membungkuk sopan, lalu pergi bersama Rapi.
Udara sore menyambut mereka. Langit perlahan menggelap di atas halaman.
Rapi akhirnya bertanya pelan, "Nona Vella… kenapa Anda menyerahkan informasi itu?"
Vella berhenti sejenak, lalu menoleh dengan senyum licik yang memikat.
"Untuk menangkap tikus, kita harus kirim asap ke sarangnya dulu, bukan?"
Jawabannya tenang, namun tajam. Ia tahu permainan ini bukan sekadar soal kekuatan, tapi pengaruh. Dengan setiap langkah, Vella merajut strategi yang nyaris tak terlihat.
Rapi hanya mengangguk, mulai memahami betapa dalam dan gelapnya dunia yang mereka hadapi.
Malam turun perlahan, membungkus kota dengan angin lembut yang membawa aroma debu dan kopi dari gang sempit.
Di atap sebuah rumah kos lama yang telah direnovasi, berdiri sebuah kafe kecil yang diterangi cahaya hangat. Lantai kayu gelapnya berkilau lembut, sementara lampu gantung bergaya vintage memancarkan cahaya keemasan di atas meja bundar besi yang dihiasi lilin dalam gelas, menciptakan suasana yang nyaman.
Lampu kota di bawah berkelip seperti lautan bintang terbalik. Suara kendaraan dari kejauhan menjadi latar yang membuat tempat itu terasa lebih sunyi.
Di meja utama, sekelompok teman berkumpul.
Kaivan duduk di tengah, tangan terlipat, sesekali tersenyum mendengar candaan Radit dan Ethan.
Di sampingnya, Felicia tampak tenang, namun matanya tetap tajam mengawasi Kaivan. Rambut hitamnya jatuh rapi di bahu, bersinar di bawah lampu hangat.
Tak jauh, Isabel duduk dengan kaki bersilang. Satu tangan menopang dagu, yang lain memainkan ponselnya. Rambut pink lembutnya berkilau di malam hari saat ia tertawa kecil.
Di seberang, Thivi duduk santai dengan jaket crop-top terbuka. Ia memutar sedotan, kakinya berayun ringan mengikuti irama yang tak terdengar.
Radit, seperti biasa, tertawa keras. "Serius? Aku baru tahu hal segoblok itu sekarang?" katanya, membuat semua ikut tertawa.
Di sudut yang lebih redup, Raphael duduk diam. Tatapannya mengarah ke kota. Satu tangan memegang gelas, yang lain menyentuh pelipis. Kehangatan ada dalam dirinya, tapi selalu ada ketegangan halus.
Tak lama, Ethan datang dari sisi kanan, membawa aroma tembakau. Ia duduk santai, menyalakan rokok, lalu bertanya pelan, "Ada asbak?"
Tiba-tiba pintu rooftop terbuka. Frans muncul tergesa, menarik seorang gadis cantik berambut sebahu.
"Maaf! Aku telat. Harus jemput pacarku dulu," katanya canggung.
Tira berdiri di belakangnya dengan malu, matanya menyapu seluruh kelompok. Tangannya menggenggam erat tangan Frans.
