Cherreads

Chapter 149 - Orang Kesepuluh

Kaivan mengangkat tangan menyambut. "Santai saja, Frans. Duduk sini. Makin ramai makin seru."

Frans segera menarik kursi untuk Tira. Ia duduk perlahan, matanya menelusuri wajah-wajah asing di meja. Ia mendekat ke Frans dan berbisik, "Mereka siapa? Aku belum pernah ketemu."

Frans tersenyum tipis. "Yang itu Raphael dari Purwakarta. Yang lagi merokok Ethan, dari Cimahi. Cewek yang main ponsel itu Isabel, dari Bandung."

Tira mengangguk, lalu mengangkat kepala dengan sopan. "Senang kenal kalian semua. Aku Tira, pacarnya Frans."

Raphael menoleh dan mengangguk. "Senang kenal, Tira."

Ethan, rokok di tangan, sedikit memutar badan. "Ethan. Senang kenal juga."

Isabel mengangkat kepala dari ponselnya. "Hai! Aku Tatjana Saphira," katanya datar, lalu langsung tertawa.

Meja pun pecah oleh tawa. Radit menepuk lututnya. "Jujur, kamu memang agak mirip!"

Isabel menjulurkan lidah ke arahnya, membuat suasana makin cair. Tira ikut tertawa, rasa canggungnya perlahan mencair.

Tak lama, makanan datang. Aroma nasi goreng dan pasta memenuhi udara. Obrolan mengalir ringan, dari cerita pribadi sampai rencana besar ke depan.

Saat yang tersisa hanya camilan kecil, Kaivan tiba-tiba berbicara. "Kita harus menghentikan bisnis ini."

Zinnia yang sejak tadi bersemangat langsung menoleh tajam. "Kenapa?"

"Raphael benar. Orang-orang mulai curiga. Kalau kita lanjut, kita bisa kena masalah."

Raphael mengangguk pelan sambil mengunyah kentang. "Lalu selanjutnya?"

Kaivan terdiam sejenak, lalu menoleh ke Frans. "Bawa Tira ke bar. Pesankan minum. Dari tadi cuma minum air."

Frans langsung mengerti. Ia berdiri bersama Tira. Sebelum pergi, Tira sempat melirik Kaivan, seolah merasakan sesuatu di balik ketenangannya.

Begitu mereka menjauh, Kaivan mengeluarkan Tome Omnicent dari tasnya. Ia membuka halamannya yang berkilau, bergerak seolah hidup. "Belum ada instruksi baru. Yang jelas, kita harus kumpulkan sebanyak mungkin emas… dan mencari orang kesepuluh."

Ethan yang sedari tadi diam bersandar santai. "Yang dari luar pulau itu, kan? Tome sempat bilang."

Suasana kafe rooftop berubah saat televisi di sudut ruangan menyala, menyiarkan berita malam. Kabut tebal menyelimuti Gunung Puntang di layar, lampu polisi berkedip samar di kegelapan.

"Siaran langsung dari wilayah Gunung Puntang…"

Ucapan penyiar terpotong oleh bisikan Raphael. Ia mencondongkan tubuh, mata menyipit menatap layar. "Aneh…"

Kaivan mengangkat pandangan. Cahaya lembut dari Tome memantul di wajahnya. Raphael melanjutkan dengan suara rendah, "Seharusnya polisi mengejar aku karena kejadian itu. Tapi… tidak ada laporan sama sekali."

Felicia yang duduk di kanan Kaivan perlahan mendekat. Rambutnya jatuh seperti tirai saat ia menyodorkan kentang goreng. "Mungkin… ada yang membersihkan semuanya. Tapi siapa?"

Gerakannya tenang. Kaivan menerima suapan itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Sesaat kemudian, Thivi dari sisi seberang ikut menyuapinya, senyumnya cerah namun matanya tajam. "Kenapa kejadian di Stasiun Radio Malabar tidak masuk berita?"

Kaivan menelan pelan dan membalik halaman Tome. "Mungkin pengguna Tome lain. Seseorang yang menghapus semuanya."

Radit yang melihat dua gadis di sisi Kaivan menyeringai lebar. Ia bersandar dan berseru, "Wah, hidupnya enak banget. Zinnia, suapin aku juga!"

Zinnia duduk di ujung meja, kaki bersilang, dagu bertumpu di tangan. Ia melirik malas dari balik poni ungunya. Matanya tajam. "Kenapa aku harus nyuapin kamu?" katanya dingin, lalu menggigit kentangnya tanpa ekspresi.

Tawa kecil terdengar dari sisi lain. Isabel, masih fokus pada ponselnya, memutar tubuh dramatis dan mengulurkan kentang ke arah Radit. "Sini, ganteng… bilang aaah~"

Radit membuka mulut dengan santai. Namun begitu kentang itu menyentuh lidahnya, wajahnya langsung berubah. Matanya melotot, keringat muncul di pelipis. "INI APA?! PEDES BANGET!"

Isabel tertawa lepas hampir menjatuhkan ponselnya. "Itu saus ghost pepper! Satu nggak cukup, tahu!"

Tawa pecah. Thivi menutup mulut menahan geli, Felicia hanya tersenyum kecil sambil meneguk minumannya. Kaivan menggeleng pelan, namun matanya masih menyimpan kekhawatiran.

Ethan yang duduk di dekat pagar menghembuskan asap ke langit malam. Suaranya memotong keramaian, tenang namun tegas. "Sudah, cukup bercanda. Kita harus pikir langkah selanjutnya."

Kaivan mengangguk. "Besok, aku harus mencari seseorang dari luar pulau itu," katanya sambil menatap Ethan lurus.

More Chapters