Cherreads

Chapter 150 - Hanya Berempat

Tak lama kemudian, Frans dan Tira kembali membawa minuman, sama sekali tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi.

Mereka kembali duduk di meja panjang yang kini dipenuhi piring kosong dan sisa camilan. Kehangatan perlahan kembali, meski ada lapisan hening yang belum sepenuhnya hilang. Lalu Isabel, yang biasanya paling cerah dan berisik, tiba-tiba tampak berbeda.

Ia meluruskan duduknya. Cahaya lembut menyentuh rambut merah mudanya. Wajahnya tetap tenang… namun matanya menyimpan beban. Ia menggenggam cangkir cokelat panasnya erat-erat, lalu berbicara pelan.

"Sebenarnya…"

Ruangan seketika membeku. Tawa mereda. Semua mata tertuju padanya. Kaivan tanpa sadar menoleh, senyum di wajahnya memudar.

"Aku sekarang sedang pacaran," kata Isabel, berkedip perlahan.

Keheningan jatuh seperti logam dingin. Felicia yang duduk di samping Kaivan langsung menoleh, matanya membesar.

"Kaivan! Jadi itu alasan kamu peluk Isabel…" katanya spontan. Dalam satu gerakan halus, tangannya melayang dan menampar pipi Kaivan, tidak keras, tapi cukup membuatnya tertegun.

Plak!

Kaivan berkedip cepat. Belum sempat bereaksi, tangan lain datang dari sisi berlawanan. Thivi, dengan senyum jahil, menampar pipi kanannya. "Jadi kamu pilih Isabel dibanding kami?"

Plak!

Suara kecil itu seperti pembuka kekacauan. Kepala Kaivan terayun ke kiri dan kanan seperti boneka bingung. "Hah, tunggu, apa…?" suaranya pecah di antara panik dan pasrah.

Namun belum selesai.

Zinnia yang duduk anggun di seberang meja mengangkat alis. Dengan satu jentikan ringan, ia menepuk kepala Kaivan.

Tok!

"Ini sebenarnya lagi terjadi apa?" katanya santai, hampir terhibur.

Rambut Kaivan berantakan, pipinya memerah, wajahnya kebingungan seperti tokoh komedi yang baru saja jadi korban lelucon. Semua ini hanya karena mereka mengira Isabel, yang baru saja mengaku punya pacar, sedang membicarakan dirinya. Kedekatan mereka memang mudah disalahartikan.

Isabel hanya tersenyum sambil bersandar, dagunya bertumpu di tangan. "Bukan Kaivan. Nanti aku kenalkan," katanya santai, sambil melirik Kaivan yang masih belum sepenuhnya pulih.

"Ohh, kirain kamu sama Kaivan!" goda Zinnia sambil mengedip nakal.

Tawa meledak di meja. Kaivan, masih mengangkat tangan setengah protes, hanya bisa tertawa pahit. "Bukan! Kenapa aku terus yang disalahin? Ada Radit, ada Raphael juga!"

Radit tertawa sampai membungkuk. "Wah, ekspresi muka Kaivan nggak ada obat!"

Frans bersandar sambil tertawa. Ethan mengangkat alis, senyum kecil muncul di bibirnya, rokok tetap di antara jari. Bahkan Raphael yang biasanya serius ikut mengusap mata karena tertawa.

Kaivan akhirnya ikut tersenyum. "Nggak adil," gumamnya pelan. Tapi jauh di dalam, ia tahu, di kelompok ini, ia memang selalu jadi korban utama candaan.

Waktu berlalu. Malam semakin larut. Angin yang tadinya lembut kini terasa lebih dingin, mendorong mereka untuk mulai berpikir pulang. Dengan suara lelah setelah banyak tertawa, Ethan akhirnya bicara.

"Sudah malam banget. Kita mau nginep di sini atau pulang?"

Seseorang menimpali dengan nada tegas, "Dia benar. Kenapa kita tidak ikut? Kalau terjadi sesuatu, kita bisa bantu."

Kaivan menatap mereka semua. Ia mengerti kekhawatiran itu, namun tekadnya tidak goyah. "Tidak. Kali ini tidak. Omnicent bilang hanya berempat. Yang pergi cuma aku, Ethan, Raphael, dan Radit. Kalian berdua tetap di bengkel. Itu keputusan final."

Thivi mendengus pelan, tapi tidak membantah. Logika Kaivan sulit dilawan. Felicia menunduk, mencoba meredakan gelombang dalam dadanya.

"…Baiklah," bisiknya akhirnya, suaranya lembut namun terpaksa.

Tiba-tiba Felicia batuk keras. "Ukhuk!" Ia mengibaskan tangan di depan wajah, mencoba mengusir asap rokok yang terbawa angin dari arah Thivi. Wajahnya menegang kesal saat ia melirik tajam. "Kamu ini…"

Thivi tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Salahkan angin, bukan aku," katanya dengan senyum jahil.

Ethan yang duduk sedikit menjauh mencoba menengahi. "Sudah, jangan berdebat."

Namun usahanya gagal seketika.

More Chapters