"Kaivan... tetap kuat," katanya pelan. "Kami ada di sini bersamamu. Kamu tidak sendirian."
Kaivan menatap Ethan sementara air mata terus mengalir di pipinya. "Terima kasih..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Setelah beberapa saat hening, Kaivan menarik napas gemetar. "Sejak aku lahir... Ayah dinyatakan hilang dalam kecelakaan pesawat. Ibu bekerja keras membesarkanku. Saat Teh Kira mulai bekerja, Ibu berhenti bekerja untuk mengurus rumah..." Suaranya perlahan memudar, matanya tetap tertuju ke lantai. "Aku selalu membantu Ibu di rumah... tapi sekarang..." Kalimatnya hancur ditelan duka.
Ia berdiri dengan tubuh gemetar. "A-aku perlu ke toilet sebentar," gumamnya, meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa menatapnya penuh kesedihan.
Raphael melirik Isabel. "Kalian yang pertama menemukan mereka, kan? Ada sesuatu yang aneh di rumah itu?"
Isabel mengembuskan napas panjang. "Ada pecahan kaca di mana-mana... dan nampan di tangan Teh Kira berlubang," jawabnya dengan suara bergetar. "Seperti dipakai untuk menahan sesuatu yang sangat tajam..."
Zinnia menoleh pada Felicia dengan tatapan tajam. "Kamu memikirkan hal yang sama denganku, kan?"
Felicia terdiam sesaat lalu mengangguk. "Kemungkinan besar... itu Vella," katanya lirih namun tegas. Nama itu langsung menenggelamkan ruangan dalam kesunyian yang menyesakkan.
Di dalam toilet, Kaivan duduk di atas kloset tertutup dengan tangan gemetar. Ia membuka Tome Omnicent, hatinya kacau, matanya bengkak karena tangis yang tak berhenti. Hanya satu pertanyaan yang terus bergema dalam dirinya: Kenapa ini terjadi?
Sebuah suara muncul dari buku itu, bergema di dalam pikirannya. "Aku sudah memperingatkanmu sejak awal. Semua ini terjadi karena kau berhenti mengikuti petunjukku," ujar suara itu tenang namun terasa dingin.
Kaivan mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kukunya hampir menembus telapak. "Apa maksudmu?! Semua ini salahku? Karena aku tidak menuruti perintahmu?!"
Tome itu terdiam sesaat sebelum menjawab, "Hidup dibangun dari pilihan, Kaivan. Setiap langkah membawa konsekuensi. Kau memilih menentangku... dan inilah hasilnya."
Kata-kata itu menusuk tepat ke jantungnya. Kaivan menundukkan kepala sementara bahunya bergetar. Ia memukul dinding hingga kulit tangannya robek dan darah mengalir di buku-buku jarinya. "Kenapa mereka yang harus menderita?! Kenapa bukan aku?! Ibu... Teh Kira... mereka tidak tahu apa-apa!" teriaknya, hancur dalam keputusasaan.
Kamar mandi sempit itu menjadi saksi bisu hati seorang anak laki-laki yang remuk berkeping-keping. Isaknya bercampur dengan suara hujan samar di luar, setiap napasnya tak beraturan, setiap air matanya menggores kegelapan kosong di dalam dirinya semakin dalam. Rasanya seperti cahaya terakhir dalam hidupnya baru saja padam.
Hanya suara tetesan keran dan bisikan hujan yang memenuhi keheningan. Duduk di atas lantai dingin, Kaivan menggenggam Tome itu dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh di atas halaman yang terbuka di pangkuannya. Ia mendongak dengan mata yang dipenuhi duka dan amarah.
"Kalau kau benar-benar tahu segalanya, kenapa kau tidak memperingatkanku lebih cepat? Kenapa kau diam saat aku masih punya kesempatan untuk mengubah semuanya?!"
Tome itu bergetar. Halamannya bergerak seperti tertiup angin yang seharusnya tidak ada. Huruf-huruf mulai terbentuk, menari samar di atas kertas.
"Aku harus menghemat energi. Aku hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan. Menggunakan suara menguras terlalu banyak tenaga," tulis Tome Omnicent.
Kaivan menatapnya penuh kebencian lalu melempar buku itu ke dinding. Buku itu menghantam dengan suara tumpul.
"Kau cuma peduli pada dirimu sendiri! Kau bahkan tidak mencoba menyelamatkan keluargaku!" teriaknya.
Halaman-halamannya kembali terbuka, tenang namun tanpa belas kasihan.
"Prioritasku adalah melindungi penggunaku. Aku membimbingmu hanya dengan kata-kata. Tetapi kaulah yang menolak mengikutinya, Kaivan."
Kaivan terdiam, dadanya naik turun tajam. "Karena perintahmu mulai aneh!" bentaknya dengan mata menyala. "Aku bukan pion yang bisa kau gerakkan sesuka hati! Apa kau pikir kalau aku menuruti semuanya, semua ini tidak akan terjadi?! Hah?!"
Tome itu bergetar, seolah merespons kemarahannya. Huruf-huruf muncul cepat, tajam dan jelas, seperti teguran keras.
"Jika sejak awal kau berdamai dengan Tania, ia tidak akan pernah bertemu Vella. Saat kau memutus hubungan dengannya, kau memicu awal dari seluruh kekacauan ini. Dan jika dulu kau menghancurkan mafia itu, sumber dana mereka akan runtuh. Vella akan terlalu sibuk menyelamatkan keuangannya untuk memburu keluargamu."
Suara tetesan keran terdengar menyakitkan di telinga Kaivan. Pantulannya terlihat samar di lantai dingin, mata merah, napas gemetar. Tome itu kembali berada di pangkuannya dengan halaman terbuka di bawah tetesan air mata.
Dengan suara serak ia bertanya, "Lalu... apa yang harus kulakukan sekarang?"
Sunyi.
Lalu tinta kembali bergerak. Huruf-huruf terbentuk perlahan seperti bisikan yang meresap ke dalam pikirannya.
"Aku punya rencana," tulis Tome itu. "Tetapi energiku hampir habis. Setelah ini, mungkin aku tidak bisa berbicara lagi. Dengarkan baik-baik... ini mungkin petunjuk terakhir dariku."
Kaivan membaca kata-kata itu dengan bibir gemetar. Rasa takut, penyesalan, dan secercah harapan yang hampir padam bercampur di dalam dirinya.
"Kembalilah ke rumah tua itu," lanjut Tome tersebut. "Di sana ada kristal, sumber energi yang kurasakan saat kunjungan terakhirmu. Aku membutuhkannya untuk pulih. Kau tidak bisa menghadapi Vella sekarang. Kakakmu akan hidup... tetapi dalam keadaan koma. Ini satu-satunya jalan yang tersisa."
Kaivan menundukkan pandangan. Kepastian dalam kata-kata itu menghancurkannya, namun ia tahu, jika berhenti sekarang, semuanya akan benar-benar hilang.
Satu kalimat terakhir muncul, lembut dan dalam.
"Aku akan selalu berada di sisimu... selalu."
Lalu halaman itu kembali diam. Tak ada cahaya, tak ada gerakan.
Kaivan memeluk Tome itu ke dadanya, menggigit bibir sebelum menghapus air matanya. Tubuhnya gemetar karena kelelahan, namun perlahan dan menyakitkan, ia memaksa dirinya berdiri. Tekad rapuh namun kuat mulai menerangi langkahnya saat ia bergerak menuju pintu, meninggalkan suara tetesan air yang lirih seperti gema kesedihan yang belum berakhir.
