Cherreads

Chapter 188 - Aku Akan Pergi Sendiri, Tapi Aku Akan Kembali

Kaivan menerobos keluar dari kamar mandi, meninggalkan sisa-sisa keputusasaan yang masih membekas di dalam dirinya. Langkah kakinya menggema di lorong panjang yang hanya diterangi lampu redup dan lelah. Di luar, hujan menghantam jendela seperti irama muram yang memantul di sepanjang dinding. Di ujung lorong, teman-temannya menunggu dengan cemas di depan ruang operasi.

Radit, yang sejak tadi mondar-mandir tanpa henti, melirik Isabel dengan wajah penuh kekhawatiran. "Kenapa Kaivan tidak meminta petunjuk Tome lagi?"

Isabel mengembuskan napas pelan, suaranya tenang namun tegas. "Dia bilang merasa seperti sedang dikendalikan oleh Tome itu. Dia tidak mau menjadi boneka."

Dari sudut ruangan, Zinnia berbicara lirih dengan ragu. "Tapi tanpa Tome itu, bagaimana kita tahu harus melakukan apa? Bagaimana kita melawan Vella dan menyelamatkan Teh Kira?"

Keheningan turun begitu saja. Masing-masing dari mereka tenggelam semakin dalam ke dalam ketidakpastian. Tanpa Tome itu, jalan mereka terasa seperti ditelan kegelapan.

Tiba-tiba, Kaivan muncul di ujung lorong dengan napas memburu, kemejanya menempel di tubuh karena keringat. Namun matanya kini berbeda, penuh tekad yang tak goyah.

"Siapa yang bawa motor? Aku mau pinjam. Sekarang."

Ethan yang terkejut buru-buru merogoh jaketnya dan mengeluarkan sebuah kunci. "Kau mau ke mana? Di luar hujan deras, dan kakakmu masih dioperasi!"

Kaivan berjalan cepat ke arahnya sambil mengulurkan tangan. "Kuncinya," desaknya. Ethan sempat ragu, tetapi akhirnya menyerahkannya.

"Kau yakin soal ini?"

Kaivan menarik napas gemetar. "Teh Kira akan selamat… tapi dia akan koma." Suaranya terdengar datar, namun begitu berat hingga menusuk dada.

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, ia langsung berbalik dan berlari menuju pintu keluar. Panggilan teman-temannya tenggelam oleh deru hujan. Ia terus berlari, menerjang angin dan dingin hingga mencapai area parkir.

Raphael menatap siluet Kaivan yang semakin menjauh. "Dia membaca Tome itu lagi… ya?" gumamnya pelan.

Tak seorang pun menjawab. Mereka hanya terdiam memandangi sosok Kaivan yang menghilang di balik tirai hujan. Malam itu seolah ikut menangis di halaman rumah sakit, lampu-lampu memantul di genangan air yang memenuhi aspal.

Kaivan menaiki motor Ethan dan menggenggam erat setangnya. Helm masih longgar di tangannya. Ia siap pergi, mengikuti petunjuk terakhir yang diberikan Tome itu.

Lalu sebuah suara memecah badai.

"Kaivan, tunggu!"

Teriakan Felicia terdengar tajam di tengah udara yang dipenuhi hujan.

Kaivan menoleh. Dari balik visor helm yang terbuka, tatapannya bertemu dengan mata Felicia. Rambut panjang gadis itu menempel di wajahnya, basah kuyup oleh hujan deras. Napasnya memburu, seolah ia berlari melewati setiap lorong hanya untuk mengejar Kaivan.

Felicia meraih lengan Kaivan, menahan motornya agar tidak bergerak. "Kau mau ke mana?" tanyanya dengan suara bergetar oleh takut, marah, dan putus asa. "Tolong… jangan pergi sendirian. Aku ikut denganmu!"

Tatapan mereka bertemu di tengah hujan badai. Kaivan bisa melihat kilau air mata di mata Felicia, meski ia tak tahu apakah itu air hujan atau kesedihan.

Felicia mempererat genggamannya, seakan menolak membiarkannya menghilang.

Kaivan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kacau. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Felicia dengan lembut, hati-hati seolah takut menghancurkan sesuatu yang rapuh. Wajah gadis itu, bahkan dalam keadaan basah oleh hujan, tetap tampak bercahaya di tengah malam.

"Dengarkan aku, Felicia…" Suaranya pecah, berat oleh tangis yang ditahan. "Aku akan pergi. Dan aku akan kembali. Tapi kali ini… aku harus melakukannya sendirian."

Felicia menggeleng kuat-kuat, air mata jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian, Kaivan! Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi aku juga tidak mau kehilanganmu!"

Kaivan menggenggam tangan Felicia lalu menempelkannya ke pipinya, merasakan dingin gemetar di jemari gadis itu. Matanya memerah, tersembunyi di balik derasnya hujan.

"Felicia… tolong. Aku tidak mau kehilangan orang yang kucintai lagi. Aku tidak sanggup melewati apa yang terjadi pada Ibu… sekali lagi."

Kata-kata itu menghantam dada Felicia begitu keras hingga membuatnya membeku. Tangannya bergetar hebat. Ia tahu seberapa dalam luka Kaivan. Kehilangan ibunya adalah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, selalu terbuka kembali setiap kali kenangan muncul. Dan melihat Kaivan berada di ambang keputusasaan yang sama membuat rasa sakit itu terasa kembali.

Felicia menundukkan kepala, membiarkan air matanya jatuh tanpa henti. "Kaivan… kau membaca Tome Omnicent itu lagi?" bisiknya lirih.

Kaivan mengangguk pelan tanpa mampu berkata apa-apa lagi. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, tersembunyi di balik gemuruh hujan. Ia tahu membuka Tome Omnicent berarti bahaya. Ia tahu Felicia takut kehilangan dirinya. Namun kali ini, ia harus mempercayai instingnya dan petunjuk terakhir Tome itu.

Perlahan, Kaivan melepaskan genggaman Felicia. Ia menyentuh pipi gadis itu sekali lagi, menghapus air mata dan hujan yang bercampur di wajahnya. "Aku harus pergi sekarang," gumamnya pelan. "Tolong… jaga yang lain. Tunggu aku. Aku akan kembali. Aku janji."

Napas Felicia tersendat, tetapi akhirnya ia mengangguk. Ia melepaskan Kaivan, meski hatinya berteriak ingin menahannya. Kaivan mengenakan helmnya, menyalakan motor Ethan, lalu melaju pergi tanpa menoleh lagi.

Motor itu membelah jalanan yang dipenuhi genangan air. Kaivan memutar gas sekuat tenaga, seolah berusaha meninggalkan beban di dadanya. Hujan menghantam visor helmnya hingga pandangannya kabur, tetapi ia tidak peduli. Hanya satu tujuan yang memenuhi pikirannya: rumah wanita tua itu, tempat di mana secercah harapan mungkin masih menunggunya.

Di belakangnya, Felicia berdiri terpaku. Tubuhnya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena takut. Air mata bercampur hujan terus mengalir di wajahnya. Ia tidak tahu apakah Kaivan benar-benar akan kembali. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu dan berdoa di dalam keheningan yang menyakitkan.

Hujan deras menelan kota malam itu, meraung seperti peringatan dari langit. Felicia berlari menuju pintu ruang operasi dengan napas memburu dan pakaian basah kuyup. Rambut panjangnya menempel di wajah pucatnya sementara air terus menetes dari dagunya. Frans, yang sejak tadi berjalan gelisah, segera menghampirinya.

Felicia berusaha menenangkan dirinya sendiri, memaksa suaranya tetap tenang meski kepanikan mencabik dadanya. Frans menatap ekspresinya, melihat ketakutan yang begitu jelas terukir di wajahnya.

More Chapters