Cherreads

Chapter 189 - Pintu yang Seharusnya Tidak Ada

"Jadi… Kaivan pergi ke mana?" tanyanya bingung. Ia tahu semuanya mulai kacau sejak Kaivan menghilang tanpa mengatakan apa pun.

Felicia mengangkat wajahnya perlahan, matanya bergetar penuh kegelisahan. "Dia membaca Tome Omnicent lagi," katanya datar sambil menahan luapan emosi yang hampir pecah kembali. "Dia mungkin sedang mengikuti petunjuk dari Tome itu lagi."

Frans menggeleng pelan, ketidakpercayaan terlihat jelas di wajahnya. "Kaivan… masih belum belajar juga, ya? Setelah semua yang terjadi…" Suaranya memudar. Pikiran tentang bahaya yang sedang dihadapi Kaivan terasa begitu membebani dadanya.

Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan ekspresi serius. Bahkan di balik masker medisnya, mereka bisa melihat kelelahan dan sedikit kelegaan di wajahnya.

"Operasinya berhasil," katanya dengan suara tenang namun tanpa nada lega. "Namun, kerusakan pada otaknya cukup parah. Dia akan tetap tidak sadarkan diri untuk waktu yang lama. Kami tidak bisa memastikan kapan dia akan bangun."

Felicia menutup mulutnya dengan kedua tangan saat air mata kembali mengalir deras. Frans menggenggam tangan gadis itu yang gemetar, mencoba memberinya kekuatan meski hatinya sendiri terasa seperti akan hancur.

Dokter itu merogoh sakunya lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil. Di dalamnya terdapat serpihan logam.

"Kami menemukan benda ini tertanam di tengkoraknya. Logam ini… biasanya digunakan untuk paku. Saya belum pernah melihat peluru dibuat dari material seperti ini."

Mata Felicia membelalak. "Ini pasti ulah Vella," bisiknya dengan suara gemetar.

Frans mengernyitkan dahinya, berpikir keras. Radit, Ethan, Raphael, dan Isabel hanya terdiam, perlahan memahami betapa serius keadaan mereka sekarang.

"Vella… pengguna Tome of Omniphilos," gumam Ethan pelan. Serangan ini jelas bukan kebetulan.

Jauh di luar dinding rumah sakit, Kaivan melaju menembus badai, menuju jawaban, menuju bahaya, dan menuju misteri yang baru saja mulai terbuka.

Malam itu, hujan menghantam kota tanpa henti, suaranya bergemuruh seperti peringatan dari langit. Kaivan tiba di rumah tua sang nenek, tempat pertama kali ia menerima Tome Omnicent. Rambutnya basah kuyup, jaketnya meneteskan air hingga meninggalkan jejak di atas ubin berdebu. Rumah itu tampak seperti bangunan yang telah dilupakan waktu. Debu tebal dan sarang laba-laba memenuhi setiap sudut, menyembunyikan kenangan yang pernah hidup di sana.

Mengikuti petunjuk terakhir Tome itu, Kaivan menuju ruang bawah tanah. Ia mendorong pintu kayu tua yang berderit lalu menuruni tangga rapuh perlahan. Di ujung ruangan gelap itu berdiri sebuah lemari tua yang sedikit bergeser, seolah ada sesuatu di baliknya yang pernah mencoba memperlihatkan diri.

Napas Kaivan menegang. Ia menggenggam lemari itu lalu mendorongnya sekuat tenaga. Sedikit demi sedikit lemari itu bergeser… memperlihatkan sesuatu yang mustahil: sebuah lift modern dengan panel digital bercahaya.

"Apa… ini?" bisiknya pelan.

Ia menekan panel itu, namun layar kode sandi delapan digit langsung muncul. Kaivan mencoba kode biasa nenek itu, 2131, tetapi sistem menolaknya.

Tome Omnicent di tangannya tetap diam, kehilangan cahaya. Tidak ada tulisan, tidak ada kilau. Benda itu terasa seperti mati.

Kaivan kembali mengamati ruangan itu, lalu matanya tertuju pada sebuah dinding yang dipenuhi kata-kata dari berbagai bahasa: Kra, Lege, Soma, Po, Oku, Doc, Lees, Read, Baca, Iqro, Karanta, Anbib, Ik'ikthe. Semua kata itu memiliki arti yang sama.

"Bacalah…" gumamnya.

Ia mulai menghitung hurufnya: B(2), A(1), C(3), A(1), menjadi 2131.

Namun sistem itu membutuhkan delapan digit.

Ia melanjutkan: L(12), A(1), H(8), menjadi 1218.

Digabungkan menjadi: 21311218.

Dengan jari gemetar, Kaivan memasukkan kode itu.

Hening.

Lalu layar berubah hijau. Dengungan mesin lembut terdengar saat pintu lift terbuka perlahan, memperlihatkan ruangan yang dipenuhi cahaya biru.

Kaivan melangkah masuk. Rasa takut dan penasaran bercampur di dalam dadanya. Pintu lift menutup, lalu mulai turun dengan sangat halus, nyaris tanpa suara, seperti jatuh ke dalam mimpi. Tidak ada jalan untuk kembali.

Sekitar satu menit kemudian, pintu lift terbuka.

Di hadapannya terbentang sebuah laboratorium futuristik, ruangan berbentuk kubus sempurna sepanjang sepuluh meter yang bercahaya neon biru. Layar hologram melayang di udara, sementara alat-alat ilmiah asing berjajar di sepanjang dinding. Pada salah satu dinding tergambar sketsa tiga belas tome kuno. Salah satunya langsung ia kenali: Tome Omnicent.

Kaivan berjalan menuju tengah ruangan dengan rasa kagum sekaligus tegang. Di sana, di dalam wadah kaca, bersinar sebuah kristal ungu yang berdenyut lembut seperti jantung hidup.

"Kristal itu…" napasnya tercekat.

Ia membuka wadah itu lalu menempelkan kristal tersebut ke sampul Tome. Saat keduanya bersentuhan, cahaya biru memenuhi ruangan. Huruf-huruf kuno bermunculan di halaman Tome, lalu sebuah suara lembut yang kini terdengar lebih jelas, hampir seperti manusia, terdengar.

"Sepertinya kau berhasil sampai di sini, Kaivan," ujar suara itu tenang. "Oh ya… pakaianmu basah kuyup. Kenapa tidak ganti baju dulu? Ada lemari pakaian di sudut ruangan."

Kaivan menoleh. Sebuah lemari logam modern berdiri di tempat yang ditunjukkan Tome itu. Di dalamnya terdapat beberapa pakaian bersih. Ia melepaskan jaket dan kemejanya yang basah, sedikit menggigil saat udara dingin menyentuh kulitnya. Setelah berganti pakaian, ia kembali menuju meja tempat Tome itu berada.

 

More Chapters