"Kenapa sekarang kau bisa bicara dengan begitu lancar?" tanyanya bingung. Tome itu biasanya selalu berbicara dengan kalimat yang terputus-putus dan tidak jelas.
"Kesadaranku pulih setelah kau memasang kristal itu," jawab Tome tersebut. "Sekarang aku bisa memberimu instruksi yang lebih jelas. Tapi pertama, kau harus kembali ke rumah dan membawa alat pemindaimu. Kita akan membutuhkannya untuk analisis nanti."
Kaivan mengepalkan tangannya erat. "Aku tidak ingin menunggu. Aku ingin membunuh Vella," ucapnya dengan suara rendah yang dipenuhi kebencian. Tatapannya menajam ke arah buku itu. "Kau bilang kau bisa merencanakan semuanya. Jadi katakan padaku, apa rencana kita?"
Tome itu terdiam beberapa saat.
Lalu, dengan tegas, "Belum sekarang, Kaivan. Kau belum siap. Kau hanyalah manusia dengan kekuatan terbatas. Menghadapi Vella tanpa persiapan sama saja bunuh diri."
Kaivan menghantam meja dengan tinjunya, amarah membara di matanya. "Kalau begitu kenapa membawaku ke sini kalau tidak ada yang bisa kulakukan?!"
"Aku bilang belum sekarang, bukan tidak akan pernah," jawab Tome itu. "Kau butuh waktu. Aku akan membantumu bersiap. Jika kau gegabah sekarang, kau akan berakhir seperti Teh Kira, atau bahkan lebih buruk lagi."
Kaivan berdiri membeku di dalam laboratorium dingin itu. Kemarahannya perlahan mereda, digantikan kesadaran pahit bahwa Tome itu benar. Ia memang belum cukup kuat. Namun rasa tak berdaya itu tetap menusuk dadanya. Tatapannya mengembara ke seluruh ruangan yang dipenuhi alat-alat asing, sampai berhenti pada deretan kapsul besar di sudut ruangan.
Kapsul-kapsul itu memancarkan cahaya biru lembut. Sebuah layar digital di depannya menghitung mundur, angka-angkanya terus berkurang satu demi satu seperti peringatan sunyi.
"Apa ini...?" bisiknya pelan. Ia melangkah mendekat, menatap angka-angka yang terus menurun.
Tiba-tiba sebuah benturan keras mengguncang seluruh ruangan.
"BOOM!"
Suara itu menggema di dinding, lantai bergetar di bawah kakinya. Kaivan langsung berbalik dengan panik. "Apa yang terjadi di atas?"
Tome di atas meja bergetar hebat, cahaya biru memancar dari sela-sela halamannya.
"Kaivan, cabut kristalku sekarang!" suaranya terdengar tajam dan mendesak.
Tanpa ragu, Kaivan segera mencabut kristal dari sampul Tome itu. Cahaya biru langsung menghilang, menyisakan hanya sorot lampu laboratorium yang dingin dan steril. Ia menatap kristal di tangannya, lalu melirik ke arah monitor di dinding.
Rekaman CCTV memperlihatkan lantai atas rumah itu.
Napas Kaivan tertahan.
Seorang anak kecil, mungkin berusia sekitar enam tahun, berjalan tenang melewati lorong rumah. Ia mengenakan piyama putih, dengan rambut hitam pekat, kulit pucat, dan mata lebar tanpa ekspresi. Gerakannya terasa seperti boneka hidup.
"Siapa... itu?" gumam Kaivan.
Anak itu terus berjalan di sepanjang lorong dengan wajah kosong tanpa emosi.
Tiba-tiba Tome kembali bergetar. Kata-kata baru muncul di halaman terbukanya:
"Dia adalah pemegang Tome Omnihorror."
"Pemegang... Omnihorror? Anak sekecil itu?" Kaivan menatap monitor itu dengan rasa tidak nyaman yang merambat di tulang belakangnya. Anak itu terlihat tidak berbahaya, tetapi nalurinya berteriak sebaliknya.
Tulisan lain kembali muncul:
"Sebelum Nabi Adam diturunkan, telah ada dua makhluk bernama Hinn dan Binn. Sebagian dari mereka bertahan hidup. Sebagian lagi memiliki keturunan. Anak itu adalah salah satunya. Usia aslinya melebihi seratus ribu tahun."
Kaivan hampir menjatuhkan kristal itu.
"Seratus ribu tahun, apa?! Bagaimana itu bisa mungkin?" suaranya bergetar saat menatap monitor.
Namun sebelum ia sempat memahami semuanya, anak itu tiba-tiba menghilang, ditelan kegelapan dalam sekejap.
"Dia ke mana?" rasa panik Kaivan meningkat. "Barusan dia masih ada di sana!"
Tulisan baru terukir cepat di permukaan Tome:
"Tujuannya adalah aku. Saat kristalku diaktifkan, sebagian kecil kekuatanku ikut terbangun, dan itulah yang menariknya datang ke sini."
Kaivan mengernyit. "Tunggu. Kalau aku mencabut kristalmu, bukankah energimu seharusnya habis? Kenapa kau masih bisa menulis?"
Tome itu terdiam sejenak. Lalu tulisan lain muncul lebih lambat:
"Aku memindahkan sebagian energiku ke dalam kristal Omnidream. Cukup untuk bertahan selama sepuluh tahun tanpa inti utamaku."
Mendengar itu, Kaivan berjalan menuju lift yang mengarah ke permukaan lalu keluar dari rumah tersebut. "Baiklah, kalau begitu... sepertinya aku harus pulang dulu dan mengambil beberapa barang."
