Di luar, hujan deras menghantam tanah, menciptakan irama panjang yang membelah malam. Kaivan berdiri di bawahnya, tubuhnya basah kuyup hingga ke tulang, namun ia tak peduli. Pikirannya dipenuhi amarah dan kebingungan. Di tangannya, Tome Omnicent berdenyut pelan, seolah hidup, seolah bernapas bersamanya.
Suara Tome itu bergema di dalam pikirannya, tenang namun tegas. "Kaivan, tenangkan emosimu. Fokus pada rencana utama, menghancurkan bisnis Vella."
Kaivan mengepalkan tangannya erat. "Cuma menghancurkannya? Aku ingin membunuhnya."
"Dengarkan." Tulisan Tome itu muncul perlahan, sabar. "Kapasitas otakmu baru dua puluh persen. Tubuhmu belum siap untuk bertarung. Menyerang sekarang sama saja bunuh diri."
Kaivan mengembuskan napas berat. "Kau terlalu pesimis. Kita bisa melakukan sesuatu yang lebih besar."
"Bukan pesimis, realistis. Kita butuh fondasi: kekuatan, strategi, dan sumber daya. Lihat ini."
Halaman Tome itu bercahaya, memperlihatkan siluet sosok bayangan.
"Omnihorror telah bangkit. Kita bahkan belum mendekati siap untuk menghadapinya."
Rasa dingin langsung mencengkeram dada Kaivan. "Lalu... apa yang harus kulakukan?"
"Rencana jangka panjang. Langkah pertama: kembali ke bengkel. Ambil alat pemindainya. Kita butuh data."
Hujan mulai mereda. Kaivan kembali ke bengkel, memasukkan monitor dan alat pemindai ke dalam tas lamanya, lalu berjalan menuju rumah neneknya, tempat asal Tome Omnicent.
Namun di tengah jalan, ia ragu. "Aku sebaiknya pulang dulu," gumamnya. Ia menyalakan motor Ethan dan melaju cepat melewati jalanan basah.
Saat tiba di rumah, dadanya terasa sesak. Garis polisi masih terpasang di depan rumah. Darah yang mengering dan noda gelap di lantai membangkitkan kembali luka lama. Setiap langkah terasa berat, menggema seperti kehilangan yang tak pernah sempat diucapkan.
Di kamarnya, Kaivan mengambil jurnal tempat ia menuliskan pikiran dan mimpinya. Saat menuruni tangga, matanya tertuju pada noda darah yang telah menghitam di lantai. Ia membeku, kembali merasakan detik saat nyawa ibunya menghilang.
"Kaivan."
Suara Tome itu memecah keheningan.
Kaivan menarik napas panjang. "Dulu kau pernah meningkatkan kapasitas otakku, kan? Bisa kau tingkatkan lagi?"
Tome itu terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Manusia hanya bisa ditingkatkan sampai tiga puluh persen paling tinggi. Lebih dari itu, otakmu tidak akan mampu menahannya. Bisa mengalami kerusakan permanen... atau hancur sepenuhnya."
Kaivan menatap tulisan itu, kesedihan samar terlihat di matanya. "Kalau begitu buat jadi seratus persen."
"Tidak. Itu akan membunuhmu. Semua informasi akan langsung masuk ke pikiranmu sekaligus dan menghancurkan kesadaranmu. Bahkan jika kau selamat, kewarasanmu akan hilang. Kau tetap manusia, Kaivan."
Senyum pahit muncul di bibirnya. "Kau terus mengulang hidup ini berulang kali, kan? Sudah berapa kali kau bertemu denganku, gagal, lalu mengulang semuanya demi mengubah masa depan?"
Tome itu mendadak diam.
"...Aku tidak pernah memberitahumu itu. Dari mana kau tahu?"
"Mungkin karena pikiranku sudah berada di dua puluh persen. Aku bisa merasakan sedikit sinkronisasi denganmu. Ada kenangan samar yang masuk ke kepalaku. Sudah 214.144 kali, kan? Daripada membuat perubahan kecil... kenapa tidak mencoba sesuatu yang besar? Apa kau mau bertaruh padaku?"
Tome itu kembali terdiam cukup lama.
Lalu perlahan, tulisan muncul.
"Jika aku melakukan perubahan besar, risikonya sangat besar... Baiklah. Aku akan meningkatkan kapasitasmu sejauh mungkin. Tapi jika kau mencapai batasnya, aku akan berhenti. Terakhir kali, kau koma selama berhari-hari... dan aku ikut lumpuh tanpa daya."
Kaivan mengangguk pelan. "Aku bisa menahan rasa sakit. Melihat ibuku mati... itu saja sudah membuatku cukup kuat untuk bertahan dari apa pun."
Angin malam yang dingin berembus pelan, membawa sisa aroma hujan. Keheningan malam menjadi saksi keputusan yang dibagikan dua makhluk yang terikat bersama, satu manusia biasa, satunya lagi entitas misterius yang jauh melampaui akal manusia. Di bawah bulan yang tertutup awan badai, Kaivan dan Tome Omnicent bersiap menantang takdir yang telah berulang tak terhitung kali, berharap pada terobosan yang belum pernah tercapai.
Langit malam tampak gelap pekat. Awan tebal menelan bulan sepenuhnya. Hujan telah berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan kilatan petir dari kejauhan. Di dalam rumah yang sunyi, Kaivan berdiri diam dengan tatapan kosong. Tangannya menggenggam Tome itu erat, seolah buku itu adalah satu-satunya hal yang masih menahannya agar tidak runtuh. Darah yang mengering di lantai tetap menjadi saksi bisu tragedi yang menghancurkan keluarganya.
Kaivan menunduk menatap Tome itu. Di halaman terbukanya, huruf-huruf bercahaya muncul perlahan, menyampaikan pesan yang membuatnya terdiam:
"Ingat ini, Kaivan. Sampai sekarang, aku hanya meningkatkan kapasitas otakmu sampai tiga puluh persen. Lebih dari itu, tubuh manusia tidak akan mampu menahan banjir informasi yang masuk. Kau akan hancur."
Kaivan tersenyum miring, senyum yang lahir dari kebencian dan keputusasaan. "Hancur? Kenapa aku harus peduli?" gumamnya dengan suara bergetar. "Aku sudah hancur sejak lama... sejak Vella membunuh ibuku, hidupku tidak lebih dari puing-puing."
Ia mengangkat pandangannya ke langit-langit gelap, lalu menunduk lagi. Napasnya terdengar kasar, dipenuhi amarah yang selama ini ia kubur terlalu dalam. "Tingkatkan saja. Tingkatkan kapasitas otakku. Aku ingin melihat semuanya... aku ingin merasakan rasa sakit itu lagi dan lagi!" teriaknya dengan suara pecah.
Tome Omnicent terbuka di hadapannya, seolah sedang menimbang permintaannya. Tulisan di halamannya berkedip-kedip, bergoyang seperti api yang diterpa badai.
