"Baiklah… aku akan melakukannya. Tapi ingat, melewati batas ini hanya akan membawamu menuju kehancuran."
Saat Tome itu memberikan persetujuannya, rasa sakit yang melampaui imajinasi langsung menusuk kepala Kaivan. Rasanya seperti ribuan jarum menembus setiap saraf di otaknya secara bersamaan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada tangan tak kasatmata yang sedang meremas, menghancurkan, mencoba menggiling pikirannya menjadi debu. Seluruh tubuhnya gemetar. Kaivan menggigit bibir bawahnya sampai robek, darah mengalir turun saat ia menahan jeritan yang berusaha keluar dari tenggorokannya.
"Dua puluh delapan persen," bisik Tome Omnicent dengan dingin, seakan angka itu hanyalah statistik tanpa makna.
Darah mulai mengalir dari hidung dan telinga Kaivan, pertanda tekanan di dalam tengkoraknya telah mencapai batas. Pandangannya kabur, dunia berputar seperti pusaran rusak. Ia jatuh berlutut, jari-jarinya mencengkeram rambut sendiri mati-matian, mencoba menahan rasa sakit yang terus bertambah tajam dan dalam.
"Sialan… NAIKKAN LAGI!" raung Kaivan. Matanya dipenuhi air mata, merah karena darah yang ikut memenuhi bola matanya.
"Tiga puluh satu persen," ujar Tome Omnicent, kini terdengar ragu. "Kapasitasmu meningkat, tapi tubuhmu berada di ambang kehancuran."
Kaivan menjerit. Otot-ototnya kejang hebat, seolah seluruh serat tubuhnya memberontak sekaligus. Rasanya seperti tenggelam, ditarik ke dasar laut gelap di tengah malam. Rasa sakit menyambar seperti petir yang merobek setiap saraf. Tulang-tulangnya terasa retak. Tekanan memenuhi tubuhnya, seolah ia akan pecah dari dalam.
"TERUS NAIKKAN! AKU HARUS MELIHATNYA!" teriaknya histeris, air mata bercampur darah mengalir di pipinya.
Bayangan-bayangan mulai muncul di kepalanya, potongan kenangan yang selama ini berusaha ia lupakan. Ruang tamu yang kini kosong dan sunyi. Senyum dingin Vella yang muncul sekilas. Tubuh ibunya yang terbelah oleh pecahan kaca tajam… darah menyembur dan mewarnai dinding.
"Tiga puluh tujuh persen," gumam Tome Omnicent, suaranya mulai bergetar. "Kapasitas otakmu telah melewati ambang manusia. Ini akan membunuhmu, Kaivan."
"AKU TIDAK PEDULI! NAIKKAN!" jeritnya dengan suara serak. Tubuhnya ambruk ke lantai, kejang seperti disambar petir ilahi. Darah mengalir deras dari hidung, mata, dan telinganya. Genangan merah mulai terbentuk di bawah tubuhnya. Panas membakar dirinya, mengerikan, tak tertahankan, seolah setiap inci kulitnya terbakar dari dalam.
Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, berubah menjadi kegilaan. Rasanya seperti api sedang melahap otaknya. Tulang belakangnya terasa meleleh, tulang rusuknya seperti retak satu per satu. Tekanan menghancurkannya layaknya dasar palung laut terdalam, tiga ribu meter di bawah permukaan, tempat tekanan samudra memusnahkan setiap napas kehidupan.
"Empat puluh satu persen. Ini hampir batas maksimum, Kaivan," kata Tome Omnicent dengan nada putus asa. "Tubuhmu tidak akan bertahan. Kau akan mati dalam hitungan detik."
Kaivan tertawa. Tawa kosong dan rusak, darah mengalir dari bibirnya. "AKU TIDAK PEDULI! NAIKKAN SAMPAI AKU MELIHAT SEMUANYA!" teriaknya seperti orang kehilangan akal.
Dan kemudian… sesuatu yang tak bisa dijelaskan menyapu dirinya.
Ia melihatnya.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Potongan-potongan kabur itu berubah menjadi kenyataan yang hidup. Vella, tersenyum dengan kegembiraan kejam, melempar pecahan kaca setajam pisau ke arah ibunya. Tubuh wanita itu terbelah saat kaca tersebut merobeknya, darah meledak seperti badai merah. Jeritan ibunya menggema di dalam kepala Kaivan, mengguncang seluruh jiwanya.
Kaivan menggigit lidahnya sendiri begitu keras hingga hampir putus. Darah muncrat dari mulutnya.
Dan ia melihat semuanya.
"Empat puluh sembilan persen," ujar Tome Omnicent, suaranya yang dingin kini dipenuhi ketakutan. "Ini batas terakhir, Kaivan. Aku tidak bisa menaikkannya lebih jauh lagi. Jika dipaksa lagi, kau akan hancur sepenuhnya."
Tubuh Kaivan jatuh ke lantai dengan suara berat. Matanya terbuka lebar namun kosong, darah mengalir di wajahnya dan membentuk lingkaran merah gelap di bawah kepala. Tubuhnya terkulai seperti boneka yang talinya diputus, hanya napas lemah dan tersendat yang menandakan ia masih hidup.
Tome Omnicent memandangi pemuda yang hampir tak bernyawa itu, menyadari eksperimen ini membawa dampak jauh lebih besar dari yang diperkirakan. "Mustahil… ini pertama kalinya aku mencapai lima puluh persen," gumamnya kelelahan. "Aku harus menutup luka-luka ini. Jika tidak, dia akan mati seketika."
Cahaya merah tua memancar dari halaman Tome dan menyelimuti tubuh Kaivan yang hancur. Luka-lukanya perlahan menutup, darah seolah ditarik kembali oleh sihir Tome. Namun cahaya itu cepat meredup, bukti betapa besar energi yang telah terkuras.
"Aku harus beristirahat…" bisik Omnicent. "Tujuh tahun kekuatan hidupku hilang hanya dalam satu percobaan. Tapi kau… kau harus hidup, Kaivan. Penderitaanmu baru saja dimulai."
Malam berakhir dalam kesunyian mutlak. Hanya suara tetesan darah yang samar menggema di ruangan itu. Kaivan terbaring tak sadarkan diri, tubuhnya diselimuti cahaya redup terakhir dari Tome yang perlahan sekarat.
Menjelang sore, sinar oranye pucat menyelinap melalui tirai dan memenuhi ruangan sunyi itu. Kaivan perlahan terbangun, matanya kosong dan tidak fokus. Ia berbaring di atas ranjang empuk yang tidak dikenalnya. Saat kesadarannya kembali, ia memaksa tubuhnya bangkit sambil memegangi kepala yang berdenyut. Pupil matanya melebar saat mencari sesuatu yang familiar, namun tak ada jawaban.
Lalu kenangan itu menghantamnya.
Tubuh ibunya yang terbelah. Jeritannya. Darah. Keputusasaan.
Semuanya terulang di kepalanya tanpa henti.
Ia mencengkeram kepalanya, berusaha mengusir bayangan-bayangan itu, tapi trauma tersebut justru semakin kuat, menyeretnya lebih dalam ke teror.
Suara langkah kaki mendekat. Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan gadis kecil berambut pirang, Livia. "Ah! Dia sudah bangun!" serunya ceria, tanpa sadar membangunkan kepanikan yang mengerikan. Ia langsung berlari keluar kamar. "Kaivan sudah bangun! Cepat ke sini!"
Namun suara itu membuat jantung Kaivan seakan meledak karena takut.
Napasnya memburu. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia melompat turun dari ranjang dan langsung mengunci pintu. Keringat mengalir di wajah pucatnya saat ia mundur perlahan, matanya bergerak liar seperti hewan yang terpojok.
"Aku harus menyelamatkan Ibu… aku harus menyelamatkannya…" bisiknya serak.
Ia melirik jendela yang sedikit terbuka, lalu berjalan sempoyongan ke arahnya. Dari balik pintu, suara ketukan mulai terdengar semakin keras.
