Cherreads

Chapter 193 - Ketika Semua Suara Terdengar Seperti Dirinya

"Kaivan! Buka pintunya! Apa yang kau lakukan?" suara Radit terdengar tegas, namun dipenuhi kecemasan.

Kaivan tersentak. Setiap ketukan di pintu terdengar seperti jeritan terakhir ibunya.

Suara lembut Felicia menyusul. "Kaivan… kau aman. Tolong buka pintunya."

Namun di telinganya, suara itu terdengar seperti ejekan.

Mata Kaivan membelalak dipenuhi ketakutan yang mentah. "Tidak! Kalian semua bohong padaku!"

Dan kemudian,

PRANG!

Kaca jendela pecah saat Kaivan melemparkan dirinya keluar. Pecahan kaca berhamburan di tanah ketika tubuhnya menghantam permukaan keras di bawah, menggores telapak tangan dan lututnya. Mengabaikan rasa sakit, ia segera bangkit dan berlari.

Matahari mulai tenggelam, menciptakan bayangan panjang sementara angin malam yang dingin menerpa kulitnya yang penuh luka. Setiap langkah dipenuhi kepanikan, setiap napasnya kacau. Setiap kali menoleh ke belakang, ia merasa melihat bayangan Vella terus mengikutinya.

Wajah orang-orang yang dilewatinya tampak buram. Mereka terlihat tenang dan biasa saja, namun di mata Kaivan, setiap wajah berubah menjadi tatapan penuh tuduhan.

Ia berlari semakin cepat.

Hanya ada satu tempat yang dituju oleh kedua kakinya,

Rumahnya.

Di rumah Livia, kepanikan langsung pecah.

"Kaivan kabur!" teriak Radit dengan wajah pucat penuh ketakutan. "Kita harus menemukannya sebelum dia melakukan sesuatu yang nekat!"

Isabel berdiri sedikit menjauh. Matanya membesar saat ia meraih Tome Omnicent dari atas meja. Dengan tangan gemetar, ia membuka buku itu.

"Apa yang terjadi padanya? Bukankah seharusnya dia sedang pulih?"

Tome itu bergetar pelan. Cahaya merah samar mulai membentuk tulisan di atas halaman-halamannya:

"Kaivan memaksaku meningkatkan kapasitas mentalnya. Ia melihat hal-hal yang seharusnya tidak diketahui manusia. Jiwanya rusak. Bawa aku menemuinya. Aku tahu ke mana dia pergi."

Napas Isabel tertahan. "Ini buruk…" bisiknya, lalu segera berlari keluar sambil membawa Tome itu.

Ia harus menemukan Kaivan sebelum semuanya terlambat.

Saat itu, Kaivan telah tiba di sebuah taman sepi yang hanya diterangi lampu jalan yang berkedip samar. Ia jatuh terduduk di bawah cahaya yang bergoyang pelan itu, memeluk lututnya erat. Wajahnya dipenuhi jejak air mata dan darah yang mulai mengering.

Isaknya terdengar serak dan kasar.

Suara dari jiwa yang sedang hancur di tengah malam.

"Ibu… aku harus menyelamatkan Ibu…" bisiknya berulang kali. Matanya kosong, hanya melihat wajah ibunya yang terluka, dan senyum dingin Vella yang bengkok penuh kebencian.

Dunia di sekelilingnya perlahan tenggelam dalam keheningan. Angin malam berembus pelan, membawa bisikan yang terdengar seperti suara ibunya… namun perlahan berubah menjadi tawa Vella.

Langkah kaki mendekat. Isabel muncul dengan tatapan cemas, memeluk Tome Omnicent erat di dadanya. "Kaivan…" panggilnya lembut, takut membuatnya semakin terkejut. Namun Kaivan hanya tetap meringkuk sambil memeluk lututnya, menatap kosong dengan mata gemetar.

"Kami datang untuk menolongmu," ucap Isabel pelan. Namun di telinga Kaivan, suara itu terdengar seperti permohonan putus asa milik ibunya. Bahunya bergetar, napasnya pendek dan tidak teratur.

Tome di pelukan Isabel bergetar pelan, memancarkan cahaya samar ke arah Kaivan. Tulisan perlahan muncul di atas halamannya:

"Aku tahu ini terlalu berat, Kaivan. Tapi aku ada di sini bersamamu. Kau masih punya janji yang harus ditepati, bukan?"

Perlahan, Kaivan menurunkan kedua tangannya dari kepala. Pandangannya tertarik pada cahaya itu. Di tengah reruntuhan pikirannya, secercah harapan kecil mulai menyala, seperti tangan yang mencoba menariknya keluar dari kegelapan yang perlahan menelannya utuh.

Malam itu, di taman yang sunyi, mereka menemukan dirinya gemetar dan tenggelam dalam air mata tanpa suara. Tidak ada kata-kata yang mampu menenangkannya. Hanya doa yang tersisa, berharap ia bisa menemukan kembali dirinya yang telah hilang.

Melihat kondisinya, Isabel memutuskan membawa Kaivan pulang. Di sebuah kamar yang dipenuhi aroma lavender, Kaivan duduk di atas ranjang dengan mata lelah, memeluk Tome Omnicent seolah benda itu adalah satu-satunya hal yang masih menahannya tetap waras.

Ruangan itu sunyi. Lampu redup yang hangat memantulkan bayangan panjang di dinding. Isabel masuk perlahan sambil membawa dua cangkir teh. Wajahnya tampak tenang, namun matanya bergetar dipenuhi kekhawatiran.

Saat Kaivan menatapnya, kebingungan perlahan muncul di matanya. Pikirannya terasa retak. Ia merasa seolah pernah melihat wajah Isabel di kehidupan lain. Isabel menyadarinya dan langsung bertanya tanpa ragu, "Kau memaksa dirimu memperluas kapasitas otakmu, bukan?"

Kaivan yang masih linglung hanya menatap kosong. Kata-katanya nyaris tidak sampai ke pikirannya. Di dalam benaknya, ribuan penglihatan saling bertabrakan, berbagai kemungkinan nasib ibunya yang diperlihatkan Tome. Semua jalan dipenuhi kematian, kehilangan, dan penyesalan.

Air mata menetes dari sudut matanya. Tangannya gemetar saat jemarinya mencengkeram rambut sendiri, sementara rasa frustrasi menyesakkan dadanya. Tome Omnicent terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi pelan yang berat.

More Chapters