Cherreads

Chapter 194 - Malam yang Tak Memperbaiki Apa Pun

Melihat itu, Isabel segera mendekat, meletakkan kedua cangkir teh di atas meja, lalu berlutut di hadapannya. Tangannya memegang bahu Kaivan dengan lembut, namun tetap tegas.

"Kaivan, tarik napas… semuanya sudah berakhir. Ini salah Vella. Bukan salahmu," bisiknya, mencoba menenangkan badai yang mengamuk di dalam hati Kaivan.

Nama itu, Vella, membuat napas Kaivan tersendat. Rahangnya mengeras, sementara matanya menajam dipenuhi amarah membara.

"Kau benar… semua ini terjadi karena Vella! Aku harus membunuhnya!" teriaknya dengan suara bergetar penuh kemarahan mentah.

Isabel terdiam sesaat, terkejut melihat intensitas di matanya. "Dan setelah itu?" tanyanya pelan. "Apa yang akan kau lakukan setelah semuanya hancur?"

"Aku akan merenggut semuanya darinya! Aku akan menghancurkan hidupnya, membuatnya menderita karena pernah ada dan memohon ampun padaku!" balas Kaivan dengan penuh kebencian, setiap katanya terasa seperti bara api.

Isabel mengembuskan napas perlahan, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Dengan bunyi klik kecil, ia mengunci kamar itu.

"Itu tidak akan menyembuhkanmu, Kaivan," ucapnya tenang, suaranya membelah udara seperti pisau yang sunyi. "Sekalipun balas dendammu selesai, hatimu tidak akan menemukan kedamaian. Apa yang hilang tidak akan kembali. Dan luka yang ada… akan terus berdarah."

Kaivan menatap tajam ke arahnya. "Kau pikir bisa menahanku di sini? Aku tidak butuh nasihatmu, Isabel. Apa pun yang kau tawarkan, aku tidak peduli."

Di luar jendela, langit tampak berat dan dingin. Lampu tua di sudut ruangan memantulkan cahaya emas redup di dinding, membuat bayangan bergoyang seperti arwah tanpa suara. Di kamar kecil yang terasa sesak itu, hanya ada mereka berdua, dua jiwa yang sama-sama hancur, mencoba menyelamatkan satu sama lain dengan cara terburuk yang mungkin.

Isabel memandang Kaivan tanpa berkata apa-apa. Tatapannya menggantung di antara mereka seperti hujan yang tak pernah jatuh, berat oleh luka dan kerinduan. Napas mereka yang tidak teratur menjadi satu-satunya suara hidup di dalam ruangan.

Perlahan, Isabel menurunkan seluruh pakaianya yang ia miliki, bukan untuk menggodanya, melainkan seperti seseorang yang melepaskan beban yang terlalu berat untuk dipikul. Setiap gerakannya tampak ragu, gemetar, namun pasrah. Di bawah cahaya redup, kulitnya terlihat pucat dan dingin.

"Apa kau pikir aku takut, Kaivan?" suaranya bergetar, namun tekad di baliknya begitu nyata. Ia melangkah mendekat, setiap langkah terasa seperti pertarungan melawan dirinya sendiri. "Kalau ini satu-satunya cara untuk menghentikanmu… maka akan kulakukan."

Kaivan mengepalkan tangan. Matanya menajam, ekspresinya terpecah antara amarah dan rasa iba.

"Berikan kuncinya, Isabel. Aku tidak ingin melanjutkan permainan ini," ucapnya pelan, lembut namun cukup tajam untuk melukai.

Isabel tersenyum tipis, senyum yang tampak lebih seperti luka daripada kebahagiaan. Ia berdiri begitu dekat hingga embusan napasnya menyentuh kulit Kaivan. "Aku melihatmu," bisiknya dengan suara hampir pecah. "Di gudang kayu itu… mencium Thivi. Aku melihat semuanya. Tapi tidak ada cinta di sana, Kaivan. Hanya kehampaan. Bahkan kau sendiri tidak peduli."

Kaivan membalas tatapannya dengan mata kosong. "Dan setelah mengetahui itu… lalu apa, Isabel?" suaranya datar tanpa emosi. Ia berbalik menuju pintu.

Namun Isabel memeluknya dari belakang. Kehangatan tubuhnya menempel di punggung Kaivan yang dingin, seperti dua keping logam yang tak akan pernah menyatu. Pelukan itu bukan untuk menggoda. Itu adalah permohonan yang lahir dari keputusasaan.

Lengannya bergetar saat melingkari tubuh Kaivan. "Kenapa, Kaivan? Kenapa kau tidak tertarik padaku?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar, namun dipenuhi rasa sakit yang berteriak dalam diam. "Kenapa, Kaivan… kenapa kau tidak mau melihatku?" suaranya pecah pelan. "Apa karena dadaku tidak sebesar milik Thivi? Atau karena pinggulku tidak seindah Zinnia? Atau karena wajahku… tidak secantik Felicia?"

Setiap kata keluar dari bibirnya seperti anak panah yang dilepaskan oleh tangan gemetar, rapuh namun tetap menusuk dalam. Pelukannya semakin erat, seolah ia sedang berusaha mempertahankan bayangan yang sebentar lagi akan menghilang.

Kaivan membeku. Aroma mawar. Suara Isabel yang gemetar. Kehangatan hati yang terluka di belakangnya. Semua itu menghantam dinding besar yang selama ini ia bangun di dalam dirinya. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menyentuh jemari Isabel yang masih memeluknya.

Dengan lembut namun tegas, Kaivan melepaskan pelukan itu. Lalu ia berbalik. Matanya bertemu dengan mata Isabel, setajam bilah pisau, dipenuhi luka yang tak lagi mampu ia sembunyikan, kebingungan yang tak bisa ia hindari, dan sesuatu yang lebih dalam lagi… sesuatu yang bahkan tak memiliki nama.

"Kalau ini yang kau inginkan, Isabel… kalau kau sedang mencoba membuktikan sesuatu… maka aku akan mengikuti keinginanmu," ucapnya pelan. Suaranya yang tenang justru terasa jauh lebih menakutkan ketika tangannya perlahan menjauh dari gagang pintu. "Rumahmu kosong, kan? Tidak ada siapa pun malam ini?"

Wajah Isabel langsung kehilangan warna. Matanya membesar, gemetar oleh rasa takut dan tak percaya. "K-Kaivan?" bisiknya lirih dengan suara nyaris pecah.

Beberapa saat kemudian, Isabel terbaring di atas ranjangnya, setengah tersembunyi di balik selimut. Napasnya terdengar pelan, namun detak jantungnya menggema keras di dalam dada. Tatapan mereka saling bertemu dalam keheningan panjang yang berat, seolah dunia di luar sana telah lenyap. Saat Kaivan akhirnya berbicara, suaranya terdengar rendah dan samar.

"Apa kau siap menghadapi apa yang akan kulakukan?" bisiknya, bukan nada menggoda atau romantis, melainkan gelap dan berat, seperti bisikan dari kedalaman yang menyamar sebagai kenyamanan.

Isabel hanya mengangguk pelan. Matanya terpejam rapat, menutup dunia di sekelilingnya… dan di dalam keheningan itu, ia menerima kejatuhannya.

Di sisi lain kota yang sunyi beberapa menit sebelumnya, di bawah lampu jalan berwarna jingga yang berdengung pelan di malam hari, tujuh sahabat berkumpul dalam kecemasan yang tak tenang. Frans bersandar di tiang lampu dengan kedua tangan tersembunyi di saku jaketnya. Radit duduk di bangku taman sambil menggoyangkan kakinya gelisah. Felicia menyilangkan tangan, menatap tajam ke arah jalan gelap di depan mereka, sementara Zinnia terus mencoba menghubungi ponsel Kaivan berulang kali.

Livia berdiri di sampingnya dengan wajah pucat penuh kekhawatiran, menggenggam tangan Zinnia seolah mencari tempat berlindung. Raphael berjalan mondar-mandir dengan napas tidak tenang.

"Kita sudah mencarinya ke mana-mana. Tapi tetap tidak ada jejak," gumam Ethan frustrasi. Ia menjatuhkan dirinya duduk di pinggir jalan, rokok di antara jemarinya ikut bergetar sebelum akhirnya ia membuangnya.

Livia berbisik pelan, "Menurut kalian… apa dia pergi jauh?"

Keheningan langsung turun. Raphael berhenti berjalan, rahangnya menegang penuh keraguan. "Tunggu… Isabel. Di mana Isabel sekarang?"

Ketegangan berat langsung menyelimuti mereka. Frans mengepalkan tangan. "Kau benar. Kita harus mencarinya. Sekarang juga."

Di kamar yang sunyi itu, Kaivan memandangi Isabel yang tertidur menyamping. Napasnya sudah mulai tenang, tidak menyadari badai yang baru saja berlalu beberapa saat lalu. Rambutnya terurai lembut di atas bantal, tampak rapuh, hampir tanpa beban. Wajahnya terlihat damai… namun kedamaian itu justru terasa seperti pisau yang memutar di dada Kaivan.

Perlahan, Kaivan mendekatinya. Jemarinya gemetar saat menyingkirkan rambut Isabel dari wajahnya. "Maafkan aku, Bela…" bisiknya lirih. "Tapi aku harus pergi."

More Chapters