Cherreads

Chapter 195 - Ia Menghapus Dirinya Sendiri

Kaivan kembali mengenakan pakaiannya. Setiap gerakannya terasa berat, seolah dipenuhi beban rasa bersalah. Setelah selesai, ia menatap Isabel untuk terakhir kalinya, sementara penyesalan meredupkan matanya. Dengan lembut, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu, seperti seorang pendosa yang merawat seseorang yang seharusnya tidak pernah ia sentuh.

"Kenapa jantungku berdebar saat melihatnya?" gumamnya pelan, tak tahu apakah itu kerinduan… atau penyesalan.

Ia membuka pintu kamar dan menatap lorong gelap di depannya. Tanpa menoleh kembali, Kaivan melangkah masuk ke dalam kesunyian dan meninggalkan Isabel sendirian.

Isabel terbangun beberapa menit kemudian. Ia membuka matanya perlahan, menatap kamar yang sunyi.

"Kaivan?" panggilnya dengan suara serak.

Tidak ada jawaban, hanya suara detik jam yang monoton. Dengan tubuh lelah, ia mencoba duduk, namun rasa tidak nyaman samar menyebar di tubuhnya hingga membuatnya mengerang pelan.

"Ahh…?" bisiknya lirih. Pandangannya jatuh pada sepotong pakaian di tepi ranjang. Wajahnya langsung memucat. Kenangan samar mulai kembali, pecahan-pecahan memori yang retak dan menakutkan.

"Jadi… aku benar-benar melakukannya," gumamnya kosong, nyaris tanpa napas. Tangannya gemetar saat meraih pakaian itu, dan sesuatu di dalam dirinya terasa seperti hancur berkeping-keping. Ia perlahan jatuh terduduk di lantai, memeluk lutut erat sambil bersandar pada pintu. Air matanya jatuh tanpa henti.

"Kenapa aku melakukan ini…? Apa Kaivan bahkan melihatku sebagai seorang wanita…?"

Isaknya pecah begitu saja, tangisan seorang gadis yang telah kehilangan dirinya sendiri. Dan di sela napasnya yang gemetar, satu kalimat terus terngiang di dalam kepalanya.

"Aku akan kembali kepadamu."

Kata-kata Kaivan yang dulu terdengar seperti janji… kini terasa seperti kutukan.

Kaivan berjalan di bawah langit malam yang gelap tanpa tahu harus pergi ke mana. Langkahnya akhirnya membawanya ke rumah lamanya, tempat di mana semua lukanya bermula.

Ia berdiri di depan bangunan itu sambil menggenggam erat sebotol bensin. Rumah itu kini hanyalah kerangka penuh kenangan, saksi dari masa lalu yang ingin ia hapuskan. Tanpa ragu, ia menuangkan bensin ke setiap ruangan. Setiap tetes yang jatuh ke lantai terasa seperti membasuh luka lama yang tak pernah sembuh.

Aroma tajam bensin memenuhi udara. Tangan Kaivan gemetar, namun langkahnya tetap mantap. Ia mengeluarkan batang korek kayu dari sakunya, nyala kecilnya berkedip terang di tengah kegelapan.

"Aku sudah tidak punya rumah untuk kembali lagi," ucapnya dingin.

Ia menjatuhkan korek itu. Api langsung menyambar, merayap cepat ke dinding dan langit-langit rumah. Kaivan memandangi kobaran api itu dengan mata kosong, lalu berbalik pergi. Rumah itu, kenangannya, dan masa lalunya terbakar bersama malam.

Sepuluh hari telah berlalu sejak Kaivan menghilang tanpa jejak.

Di taman sekolah, Radit dan Felicia duduk di sebuah bangku dengan wajah dipenuhi kecemasan.

"Percuma… kita sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tetap tidak ada kabarnya," ujar Radit frustrasi.

Felicia mengembuskan napas panjang lalu menatapnya. "Yang tidak kumengerti adalah kenapa Isabel juga menghilang. Apa mereka pergi bersama ke suatu tempat?" tanyanya pelan.

Di gerbang sekolah, Raphael, Ethan, Livia, Thivi, Frans, dan Zinnia menunggu Radit dan Felicia selesai kelas. Raphael yang biasanya tenang tampak jauh lebih tegang dari biasanya.

"Kita sudah mencari Kaivan ke mana-mana, tapi tidak ada yang tahu apa pun. Bahkan rumahnya juga sudah terbakar," kata Ethan dengan nada penuh kekhawatiran.

Livia menggenggam tangan Zinnia erat. "Aku juga tidak bisa menghubungi Isabel. Ponselnya mati…" bisiknya dengan suara bergetar.

Tiba-tiba, tiga sosok mendekati mereka, Tania, Dandi, dan Rina. Ekspresi mereka terlihat serius, tidak seperti biasanya. Frans menatap mereka bingung sementara langit senja berubah jingga, membingkai pertemuan tegang itu. Kelompok sahabat itu berdiri membentuk lingkaran kecil, dengan kecemasan yang tergambar jelas di setiap wajah.

Tania langsung berbicara tanpa ragu. "Di mana Kaivan? Kenapa dia tidak masuk sekolah sama sekali?" Nada suaranya terdengar cemas, berbeda dari biasanya.

Zinnia menatap tajam ke arahnya. "Jangan ikut campur urusan kami!" suaranya dingin dan tegas, membuat Tania langsung terdiam. Ada luka lama di balik nada itu, Zinnia masih mengingat dengan jelas bagaimana Tania pernah mengejek Kaivan.

Dandi yang berdiri di samping Tania mendecih sinis lalu menarik gadis itu mundur. "Sudahlah, Tania. Untuk apa repot-repot mencari pecundang itu? Anak lemah seperti dia memang tidak pantas dicari," katanya penuh hinaan.

Suasana langsung berubah tegang. Raphael melangkah maju, wajahnya menegang menahan emosi. Ia sedikit mencondongkan tubuh ke arah Radit sambil berbisik pelan, berusaha menahan dirinya sendiri.

"Boleh kutinju orang ini?" Matanya dipenuhi amarah.

Namun sebelum Radit sempat menjawab, Tania buru-buru melangkah maju. Suaranya gemetar penuh panik.

"Tunggu! Aku benar-benar sedang mencari Kaivan. Aku bahkan pergi ke rumahnya bersama dua wanita yang kukenal… tapi dia tidak ada di sana!"

Mata Zinnia langsung menyipit. "Dua wanita?"

"Iya," jawab Tania cepat, nyaris tanpa jeda. "Nama mereka Rapi dan Vella." Ia mengatakannya tanpa rasa bersalah, sama sekali tidak sadar badai apa yang baru saja ia bangkitkan.

Udara terasa membeku. Semua orang menatapnya.

Zinnia mengertakkan gigi. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyala seperti bara api yang siap meledak.

Dan sebelum siapa pun sempat menghentikannya, Thivi melangkah maju lalu meninju wajah Tania tepat di depan. Suara pukulan itu menggema, membuat Tania terjatuh ke tanah.

 

 

More Chapters