Cherreads

Chapter 196 - Saat Mereka Menangis, Ia Sedang Bersiap

Dandi buru-buru maju, namun Raphael langsung mencengkeram bahunya dengan kekuatan seperti besi.

"Tetap di bawah," ucapnya pelan, namun dengan tekanan yang begitu besar.

Sementara itu, Rina yang mencoba membantu Tania juga dihentikan oleh Felicia. Tangan Felicia menekan bahu Rina dengan kuat, tatapannya sedingin es. "Jangan ikut campur," bisiknya tajam tanpa keraguan.

Thivi berdiri di atas Tania dengan seluruh tubuh gemetar oleh amarah. Matanya berkaca-kaca hingga air mata akhirnya jatuh. "Jadi memang kau penyebab semua ini, ya?!" teriaknya sambil kembali memukul Tania yang baru saja mencoba bangkit. Tania kembali terjatuh dengan napas tersendat.

"Ibu Kaivan meninggal seperti itu… dan semua itu karena kau! Kau tahu betapa aku menyayanginya… tapi sekarang dia sudah pergi! Dan Kaivan… dia hancur karena ulahmu!" suara Thivi pecah, lalu ia benar-benar runtuh dalam tangis hingga isaknya mengguncang udara. Keterkejutan dan kesedihan membuat semua orang terdiam.

Masih terbaring di tanah, Tania menatap Thivi dengan bingung. Air mata akhirnya memenuhi matanya, bukan karena rasa sakit, melainkan karena ketidakpercayaan yang begitu besar. "Itu tidak mungkin! Kenapa harus jadi salahku?! Aku tidak tahu apa-apa soal ini! Kalau itu benar, pasti sudah diberitakan! Mungkin Kaivan hanya… menjauh dari kalian!" bantahnya dengan suara serak, berusaha bertahan dalam penyangkalan.

Felicia yang sejak tadi menahan Rina akhirnya melangkah maju. Tatapannya menajam, suaranya dingin namun tepat sasaran. "Karena Vella cukup kaya untuk membungkam media. Kau tidak tahu seberapa mengerikannya wanita itu," ucapnya pelan. "Dia bisa membeli berita, menghapus apa pun yang dia inginkan. Selama ini kau hanya melihat apa yang dia izinkan untuk kau lihat."

Kata-kata Felicia membuat Tania membeku di tempat. Rina dan Dandi hanya bisa saling bertukar pandang dengan wajah syok saat mereka mulai menyadari bahwa semua ini jauh lebih serius dari yang mereka bayangkan. Livia, yang paling muda di antara mereka, menutupi wajahnya karena tak sanggup mendengar lebih lama lagi. Ethan menarik gadis itu mendekat, mencoba menenangkannya di tengah badai kesedihan dan amarah.

Radit mengembuskan napas berat, lalu menatap Tania dengan mata penuh kesedihan. "Kami sudah kehilangan terlalu banyak. Kaivan menghilang, dan kami tidak bisa menghubungi Isabel. Dan sekarang… kau datang menanyakan dirinya seolah tidak ada apa-apa yang terjadi," gumamnya dengan suara serak.

Tania menatap mereka semua sementara air matanya akhirnya mengalir tanpa henti. Baru sekarang ia mulai memahami besarnya kehilangan yang mereka rasakan. Ia merasa seperti orang asing yang berdiri di tengah tragedi yang bahkan tak pernah ia ketahui keberadaannya. Kepalanya menunduk saat ia menangis dalam diam, tenggelam dalam rasa bersalah yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.

Keheningan berat menyelimuti mereka. Hanya suara isak pelan Zinnia yang terdengar di udara senja yang dingin. Semua orang tahu ini bukan sekadar pertengkaran biasa, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, sebuah misteri yang harus mereka hadapi bersama, tak peduli seberapa menyakitkan kebenarannya nanti.

Jauh di dalam ruangan bawah tanah tersembunyi milik kompleks itu, Kaivan duduk sendirian di kursi logam yang dingin. Cahaya redup dari monitor dan mesin-mesin rumit menjadi satu-satunya penerangan di ruangan itu. Kertas-kertas penuh catatan dan diagram tersebar di atas meja besar. Keheningan terasa pekat, hanya dipecahkan oleh dengungan mesin dan suara jam dinding yang terus berdetak.

Kaivan menatap kedua tangannya yang gemetar dengan mata kosong. Ia menundukkan kepala, mengulang kembali semua kejadian yang memaksanya bersembunyi. Kesedihan dan kemarahan berputar liar di dalam dirinya.

Tiba-tiba, ting! Sebuah bunyi mekanis lembut menggema. Kapsul di sudut ruangan perlahan terbuka.

Kaivan mengangkat kepala lalu berjalan mendekat. Di dalamnya terbaring sepasang senjata mematikan, pisau karambit dengan desain yang elegan sekaligus mengerikan. Pegangannya yang melengkung terlihat sempurna, terhubung oleh rantai tipis yang berkilau samar. Bilah pisaunya memantulkan cahaya redup ruangan, cukup tajam untuk membelah baja.

Ia mengambil salah satu karambit itu, merasakan beratnya menetap di telapak tangannya. "Berat… mungkin sekitar satu setengah kilogram,total panjang dua puluh lima sentimeter," gumamnya.

Pandangannya beralih ke Tome Omnicent di sudut ruangan, buku misterius yang kini bisa berbicara melalui perangkat yang baru saja ia selesaikan. "Apa kau tahu sesuatu tentang karambit ini, Tome Omnicent?" tanyanya.

Suara lembut keluar dari mesin itu, diiringi tulisan bercahaya pada layar. "Senjata itu ditempa dari lima logam langka yang digabungkan, Tungtichriosm. Perpaduan titanium, tungsten, chromium, iridium, dan osmium," jawab Tome Omnicent dengan tenang. "Bilahnya dilapisi berlian. Senjata ini diciptakan olehmu… dari masa depan yang kembali ke masalalu."

Kaivan membeku. "Diciptakan oleh… diriku? Dari masa depan?" bisiknya lirih. Ia mengusap bilah pisau itu perlahan, merasakan dinginnya logam. "Jadi… di masa depan aku akan menjadi seseorang yang mampu membuat senjata seperti ini…?"

Komputer di dekatnya kembali berbunyi. Sebuah notifikasi dari forum Bitcoin Talk muncul di layar. Kaivan segera menoleh, meletakkan karambit itu kembali ke meja lalu memusatkan perhatian pada monitor. Ekspresi bingungnya perlahan berubah menjadi senyum puas yang samar.

"Akhirnya," gumamnya. "Semua danaku sudah dipindahkan dan dihapus."

Tome Omnicent kembali berbicara dengan nada lembut. "Kenapa kau memilih menyimpan uangmu di sana, Kaivan?"

Kaivan tersenyum kecil penuh keyakinan, matanya berkilau samar. "Sesuatu seperti Bitcoin terlihat tidak berharga, cuma benda virtual yang bahkan tidak bisa disentuh," katanya dengan suara hidup penuh keyakinan. "Tapi justru itu yang membuatnya istimewa karna akan menghilangkan nilai uang ku." Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, membuka grafik-grafik liar yang menunjukkan harga Bitcoin berfluktuasi antara 27 hingga 475 rupiah per BTC. Saat kebanyakan orang mengabaikannya, Kaivan justru melihat peluang yang menunggu untuk meledak.

Ia memasang penawaran di forum dengan harga jauh di atas pasar: 500 rupiah per BTC.

"Aku harus membuat mereka percaya lalu penambangan di mulai… membuat mereka tergoda untuk menjual," katanya sambil tertawa kecil. Untuk meyakinkan para penjual, ia menjamin transaksi aman melalui transfer bank atau PayPal, bahkan menambahkan bonus sepuluh persen bagi siapa pun yang menjual lebih dari seribu BTC.

Dengan 650 juta rupiah, ia membeli sekitar 1.368.421 BTC.

Senyumnya semakin lebar. Setiap private key dienkripsi, setiap cadangan data disimpan secara offline di dalam brankas baja di lokasi tersembunyi. Menatap angka-angka yang bersinar di layar, ia berbisik, "Dengan ini… aku memegang aset yang tidak akan terdeteksi oleh orang lain."

Tome Omnicent berdengung pelan. "Kau memang selalu bisa melihat hal-hal yang gagal disadari orang lain, Kaivan."

Kaivan mengembuskan napas perlahan, pandangannya beralih pada karambit dan rantai tipisnya, alat yang suatu hari nanti akan ia tempa dengan tangannya sendiri. Jika di masa depan aku mampu menciptakan sesuatu seperti ini… maka aku tidak boleh berhenti sekarang. Ia menutup mata, bayangan ibunya muncul di tengah kegelapan, kehilangan itu masih menjadi luka terbuka di dalam dirinya. Namun kini tekadnya sekeras baja. Ia tidak akan hancur lagi. Ia akan membalas semua hal yang telah merenggut ibunya darinya.

01:32 dini hari.

Kaivan tersentak bangun dari tidur yang gelisah. Ruangan bawah tanah itu masih redup, hanya diterangi cahaya samar monitor yang memantulkan wajah lelahnya. Di atas meja tergeletak alat penerima frekuensi radio buatannya di samping dua karambit Tungtichriosm yang berkilau. Ia meraih keduanya dengan mantap, lalu melangkah masuk ke lift menuju permukaan.

Udara dingin langsung menyambutnya. Di balik hoodie hitamnya, mata Kaivan tampak kosong, tenang namun kehilangan kehangatan. Dalam keheningan malam yang menusuk, ia mengaktifkan perangkat di tangannya, mencoba menghubungi Tome Omnicent.

"Apa kau bisa mendengarku?" bisik Kaivan pelan namun mantap. "Ke mana aku harus pergi sekarang?"

Awalnya hanya angin yang menjawab. Namun kemudian perangkat itu berkedip menyala, menampilkan tulisan dari aplikasi radio buatannya. Suara Omnicent terdengar dari speaker kecil.

"Tentu saja aku bisa mendengarmu," ucap Tome itu dengan tenang. "Kalau kau mencari makanan, pergilah ke kiri. Kau akan menghindari keramaian di sana. Tapi berhatilah, akan ada perampokan terjadi di arah itu."

More Chapters