Kaivan mengernyitkan dahi, namun ia tidak ragu. Ia berlari menembus malam sementara berbagai pertanyaan mengguncang pikirannya. Omnicent selalu benar, namun tidak pernah menjelaskan bagaimana caranya. Yang bisa dilakukan Kaivan hanyalah mengikuti, lalu mempersiapkan dirinya menghadapi apa pun yang menunggu.
Dan seperti yang telah diramalkan, di ujung jalan yang sepi, dua pria sedang menyudutkan seorang lelaki tua. Salah satu dari mereka mengacungkan pisau sambil menyeringai kejam.
"Hah! Cepat serahkan semu..."
Suaranya langsung terputus saat sebuah karambit menembus tengkoraknya tanpa ampun. Tubuhnya roboh begitu saja tanpa nyawa.
Sekitar lima belas meter dari sana, Kaivan berdiri sambil menggenggam rantai Tungtichriosm. Dengan satu tarikan singkat, bilah pisau itu melesat kembali ke tangannya. Darah menempel di ujung tajamnya. Ekspresinya sama sekali tidak berubah.
"Tajam… terlalu tajam," gumamnya pelan, bukan mengagumi kekuatannya, melainkan menyadari kebrutalan yang mulai tumbuh di dalam dirinya. Kaivan perlahan berubah menjadi seseorang yang dingin, seseorang yang tanpa belas kasihan.
Perampok yang tersisa langsung melarikan diri ketakutan. Lelaki tua itu pun ikut kabur sambil berteriak meminta tolong. Kaivan tidak mengejar keduanya. Ia hanya menatap mayat di tanah itu sejenak sebelum berbalik pergi.
"Aku ingin tahu… bagaimana cara menghancurkan bisnis Vella?" tanyanya.
Suara Omnicent terdengar lebih tajam. "Sabotase semuanya. Hancurkan dokumen dan aset pentingnya. Tapi jangan pernah menghadapi Vella secara langsung. Kau belum siap."
Malam itu, Kaivan berdiri di depan gedung koperasi milik Vella. Langit tanpa bintang menggantung di atasnya, menjadi saksi dari tekad yang perlahan tumbuh di dalam dirinya. Angin dingin membawa kesepian dan amarah. Dengan pakaian serba hitam dan dua karambit yang berkilau samar di sisinya, ia tampak seperti bayangan yang lahir dari kegelapan.
Ia menyelinap masuk tanpa suara. Langkahnya menggema pelan di lorong-lorong kosong. Saat tiba di area resepsionis, suaranya terdengar rendah namun tegas.
"Semuanya keluar. Sekarang. Aku tidak ingin ada yang terluka."
Mata mereka langsung membesar ketakutan. Beberapa orang segera berlari menuju pintu keluar, namun dua petugas keamanan mendekat dengan keberanian yang dipaksakan.
"Hei! Siapa kau?!" bentak salah satu dari mereka, meski suaranya bergetar. "Lepaskan topengmu sekarang juga!"
Kaivan tidak menjawab.
Dengan gerakan cepat dan presisi, ia melangkah maju, memutar tubuh, lalu menghantam leher kedua pria itu menggunakan cincin karambitnya. Mereka langsung roboh tak sadarkan diri sebelum sempat memahami apa yang terjadi. Kaivan menendang tubuh mereka keluar gedung dan membiarkannya tergeletak di depan pintu.
Ia melangkah lebih dalam lalu melirik kamera CCTV di sudut ruangan.
Satu lemparan karambitnya.
Karambit itu menghancurkan lensa kamera. Monitor di ruang keamanan langsung mati.
Vella membeku di depan monitor yang kini hanya menampilkan tulisan besar "No Signal." Giginya terkatup rapat, jemarinya mencengkeram kursi hingga buku-buku jarinya memucat. "Sebenarnya… siapa dirimu?" gumamnya dengan suara gemetar penuh amarah.
Pagi di kota diselimuti kabut dan abu yang beterbangan. Sisa-sisa gedung koperasi itu berdiri seperti kerangka hangus, sementara asap tipis masih mengepul membawa aroma pahit kayu terbakar. Potongan garis polisi berwarna kuning berkibar lemah diterpa angin sementara orang-orang memandangi reruntuhan itu dengan rasa takut.
Dari balik kabut, Vella muncul. Jas hitamnya ternoda abu, rambut sebahunya diterpa angin liar. Sepatu heels-nya menghantam tanah dengan langkah tajam dan penuh tekanan, setiap langkah dipenuhi amarah yang tertahan. Matanya yang tajam menyapu seluruh reruntuhan.
Ia berhenti di depan sepotong kayu hangus yang mencuat dari puing-puing. Dengan gerakan dingin dan cepat, ia menginjaknya keras.
Kayu itu pecah dengan suara retakan tajam.
"Siapa yang melakukan ini?" suaranya terdengar serak, namun setiap katanya jatuh seperti bilah pisau.
Seorang bawahan muda mendekat dengan tubuh gemetar. "N-Nyonya Vella, kami tidak menemukan tanda pembobolan paksa. Dua petugas keamanan ditemukan tak sadarkan diri di luar… mereka bilang seorang anak laki-laki menyerang mereka menggunakan karambit… lalu kebakaran terjadi."
Vella menarik napas perlahan, seolah kata "karambit" menggores luka lama di dalam dirinya. Jemarinya mengepal kuat. "Kaivan," bisiknya penuh racun. "Kau bahkan tidak berusaha menyembunyikan jejakmu."
Ia menatap tajam bawahannya. "Cari semuanya. Rekaman CCTV, data yang tersisa, sidik jari di logam atau kaca. Aku ingin setiap detik keberadaannya dilacak. Dan kalau ada yang membantunya atau mencoba melindunginya… bakar mereka juga."
Di ruang bawah tanah sempit yang hanya diterangi cahaya monitor biru, seorang anak laki-laki duduk sendirian, Kaivan. Wajahnya masih muda, namun matanya menyimpan kehampaan yang terasa kuno. Kulit pucat, tubuh kurus, dan postur yang terlalu diam hingga terasa mengganggu.
Monitor itu menampilkan berita: "Sebuah kantor koperasi di pusat kota terbakar. Tidak ada korban jiwa, namun dua petugas keamanan ditemukan tak sadarkan diri. Mereka mengaku diserang seorang anak laki-laki bersenjata karambit sebelum kebakaran terjadi."
Tatapan Kaivan tetap kosong. Jemarinya mencengkeram sandaran kursi, sementara salah satu kakinya mengetuk lantai pelan, seolah sedang menghitung detik menuju sesuatu yang tak terhindarkan. Ia mematikan monitor itu, dan kegelapan langsung menelan ruangan. Hanya dengungan lembut kipas ventilasi yang tersisa.
Ia berbisik, "Aku hanya mengembalikan… sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibiarkan tumbuh."
Di rumah Livia, ketegangan memenuhi ruang tamu yang luas. Bahkan lampu kristal di atas mereka tidak mampu mengusir hawa dingin yang perlahan menyelimuti suasana.
Radit berdiri dengan kedua tangan di pinggang, menatap satu per satu wajah di depannya. "Apa ini ulah Kaivan? Kenapa dia menghancurkan gedung koperasi itu?"
Frans duduk di ujung sofa dengan bahu merunduk. Jemarinya terus bergerak gelisah seolah mencari kata-kata yang tepat… namun tidak ada yang keluar.
Zinnia bersandar di dinding sambil menyilangkan tangan. Tatapannya mengarah keluar jendela, namun pikirannya jauh melampaui itu. Ia tetap diam, sementara kecurigaan membayangi wajahnya.
Thivi memeluk dirinya sendiri di dekat pintu. "Kaivan… dia tidak akan bertindak tanpa alasan. Aku tahu dia tidak akan begitu," ucapnya dengan suara gemetar.
Felicia duduk di dekat jendela, rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Bahunya sedikit bergetar sebelum akhirnya berbicara. "Dia tahu persis apa yang sedang dia lakukan. Seaneh apa pun kelihatannya… aku yakin dia punya rencana. Dan dia tidak ingin kita ikut terlibat."
Livia berdiri di dekat perapian sambil memegang cangkir teh yang sudah lama dingin. Matanya memerah. "Mungkin bukan dia yang berubah… mungkin selama ini kita memang tidak pernah benar-benar memahami dirinya."
Dari sudut ruangan, Raphael akhirnya berbicara. Suaranya yang dalam memecah keheningan.
"Kalau dia benar-benar melakukan semua ini… maka kita harus memilih: menghentikannya, atau membiarkan diri kita ikut terbakar bersamanya."
