Cherreads

Chapter 198 - Senyum yang Tak Pernah Sampai ke Matanya

Langit pagi tampak muram, seolah bumi sendiri sedang menahan napas. Awan kelabu yang berat menggantung rendah, menekan atap rumah tua yang berdiri diam di tengah kesunyian. Angin membawa aroma lembap yang terasa begitu familiar, hujan yang menunggu jatuh, atau mungkin sesuatu yang perlahan membusuk. Seperti mimpi buruk yang terlalu akrab untuk diabaikan, udara menyelimuti segalanya dengan rasa gelisah.

Di dalam rumah klasik itu, ruang tamunya dipenuhi furnitur bergaya kolonial. Nuansa krem lembut mendominasi ruangan, namun hari ini warna itu terasa kusam, seperti senyum sopan di sebuah pemakaman. Tirai tipis bergoyang perlahan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka, suara gesekannya samar dan halus, seperti bisikan orang mati.

Di sudut ruangan, Isabel duduk di sofa besar sambil mencondongkan tubuh ke depan dengan siku bertumpu di pahanya. Mata ungu terpaku pada televisi yang terus memutar ulang berita tentang kebakaran koperasi.

"...insiden yang masih belum terpecahkan ini terus membingungkan pihak berwenang karena belum ditemukan motif yang jelas..."

Jemarinya mengetuk sandaran sofa, awalnya pelan dan teratur, lalu semakin cepat dan gelisah setiap detiknya. Tatapannya terasa berat, bukan karena kantuk, melainkan oleh bayangan yang menolak pergi. Ekspresinya tetap tenang, namun matanya seperti kolam dangkal yang menyembunyikan badai di bawah permukaannya.

"Kaivan… pasti ini ulahmu," gumamnya pelan. Suaranya begitu lembut, nyaris seperti helaan napas terakhir. Tidak ada tuduhan dalam kata-kata itu, hanya pengakuan, serpihan rasa bersalah yang perlahan membusuk di dalam dadanya.

Pikirannya pecah saat suara ibunya memanggil dari dapur.

"Bela, gelas siapa ini yang ada di kamar mandi? Kalau tidak dipakai, Mama cuci ya."

Tidak ada kecurigaan dalam suara itu, hanya kehangatan. Terlalu hangat bagi seorang gadis yang sedang menyembunyikan dosa. Kebaikan itu terasa seperti pelukan dari seseorang yang tidak sadar sedang memeluk mayat hidup.

Isabel meluruskan punggungnya. Gerakan kecil, namun tampak seolah tubuhnya sedang menahan berat seluruh dunia. Ia berdiri terlalu cepat hingga hampir terpeleset, namun tetap memaksa langkahnya terlihat tenang.

"Biar aku saja yang urus, Ma," jawabnya terburu-buru. Nadanya terdengar ringan, namun pantulannya di jendela berkata sebaliknya. Sebuah retakan telah terbentuk, dan retakan itu semakin melebar.

Suaranya mengalir melewati rumah, namun tidak membawa ketenangan apa pun.

Ia berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya cepat namun sunyi. Jemarinya membuka pintu perlahan lalu menutupnya hati-hati di belakangnya, seolah suara sekecil apa pun bisa membiarkan dunia luar masuk.

Saat pintu itu tertutup, dunia terasa menyusut, meninggalkannya sendirian bersama ubin dingin, aroma sabun yang tajam, dan kenyataan yang tak mampu ia hindari.

Di ruangan sempit itu, Isabel berdiri menghadap cermin. Rambut lurusnya yang berkilau jatuh rapi di bahu, namun terlihat tidak bernyawa. Ia menyapu poni dengan jemarinya perlahan, seperti seseorang yang sedang membeli waktu. Setiap helai rambut terasa seperti benang dari masa lalu yang tidak akan pernah bisa ia putuskan.

Tatapannya jatuh pada benda kecil di wastafel: alat tes kehamilan, dengan hasil yang sudah jelas terlihat, satu garis tunggal. Negatif.

Ia tidak bergerak dalam waktu yang lama. Napasnya tertahan di dada, seolah ia sedang tenggelam namun belum siap naik ke permukaan. Jemarinya perlahan meraih alat itu, menggenggamnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Satu tarikan napas panjang dan gemetar. Bahunya perlahan turun.

Hal yang paling ia takuti tidak terjadi, namun rasa lega juga tidak datang. Hanya kehampaan. Ruang kosong di dalam dirinya yang tidak bisa diisi oleh apa pun.

Pantulannya menatap balik, dan sesaat ia merasa sedang melihat orang asing, dirinya yang telah mengambil keputusan dan kini harus hidup bersama konsekuensinya.

"Sepertinya… Kaivan tidak akan bertanggung jawab," bisiknya pada cermin.

Tidak ada kemarahan atau harapan dalam kata-kata itu, hanya kenyataan yang cukup tajam untuk melukai. Suaranya pecah di akhir kalimat sebelum larut ke udara dingin di antara dirinya dan bayangannya.

Garis samar di bawah matanya terlihat semakin dalam. Sudut bibirnya sedikit bergetar. Ia melonggarkan genggaman pada alat tes itu lalu meletakkannya kembali di wastafel dalam posisi miring dan tidak stabil, seperti hidupnya yang tak lagi berjalan lurus.

Kepalanya menunduk, bahunya bergetar pelan. Namun tidak ada air mata yang jatuh, hanya keheningan, dan di dalam keheningan itu tersimpan bagian paling menyakitkan dari penderitaannya.

Isabel telah melewati malam-malam yang jauh lebih sepi dari ini. Namun pagi itu, di kamar mandi dingin dengan suara berita samar dari balik dinding, ia merasa lebih sendirian daripada sebelumnya. Bukan kesepian karena tidak memiliki siapa-siapa, melainkan kesepian yang lahir dari keyakinan bahwa semesta telah memilih meninggalkannya di ruangan penuh luka.

Kenangannya kembali berkelebat, sebelas malam yang lalu: Kaivan, tubuh kurus namun kuat; sentuhan itu, kedekatan yang membuat napas sesak, suara lirih yang tak akan pernah bisa ia ulangi kembali. Lalu keheningan. Tidak ada pesan. Tidak ada kunjungan. Hanya sebuah nama yang kini muncul di berita sebagai buronan.

Mencintainya terasa seperti mencintai hantu, sosok yang meninggalkan luka alih-alih jejak.

Isabel kembali menatap cermin, kali ini lebih dalam. Ia membentuk senyum tipis, senyum yang tak pernah sampai ke matanya. Senyum seorang gadis yang tahu dirinya telah melangkah ke jalan tanpa jalan pulang. Kehampaan di matanya berkilat samar, mungkin amarah, mungkin keputusasaan.

Waktu mengalir diam-diam, mengukir lukanya semakin dalam dan menumbuhkan sesuatu yang lebih gelap dari kesedihan, penyesalan yang bahkan belum berubah menjadi air mata. Ruangan kecil itu terasa seperti altar kesepian, dan Isabel berdiri di sana sebagai saksi sekaligus korban.

Ia melangkah keluar dari kamar mandi perlahan. Bahunya tegak, matanya tenang, namun setiap langkah membawa bayangan, Kaivan, api, dan potongan dirinya yang perlahan runtuh.

Di dapur, ibunya masih mencuci piring. Suara air yang mengalir terdengar jauh, seperti berasal dari kehidupan yang tak lagi bisa ia sentuh.

Isabel berjalan melewatinya dalam diam. Beberapa luka memang tidak bisa diucapkan. Ia membuka pintu belakang dan membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya. Matahari bersembunyi di balik awan, dan aroma hujan akhirnya datang.

Pagi itu, halaman sekolah tenggelam di bawah awan kelabu yang berat, seolah sedang menahan kesedihan yang tak terucap. Hujan belum turun, namun dunia terasa menahan napas. Di tengah suara ramai para siswa yang memenuhi koridor, langkah Isabel terdengar pelan dan berat. Sepatunya mengetuk lantai dalam ritme lambat, seperti detak jantung yang ragu.

Ia berjalan melewati gerbang tanpa menoleh ke belakang. Rambut lurusnya sedikit tergerai tertiup angin pagi. Wajahnya kosong, nyaris tanpa ekspresi. Matanya yang biasanya cerah kini redup, menyimpan lautan emosi yang terkunci rapat.

Saat ia memasuki kelas, suasana langsung berubah. Percakapan terhenti. Kepala-kepala menoleh. Tatapan mata langsung tertuju padanya. Kehadiran Isabel menarik perhatian, bukan karena kecantikannya, melainkan karena kehampaan samar yang ia bawa.

Seorang gadis dengan dua kuncir segera menghampirinya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

"Isabel! Kau ke mana saja? Kau lama sekali menghilang!" tanyanya sambil mengangkat tangan, hampir menyentuh Isabel sebelum akhirnya ragu.

Isabel memaksakan senyum kecil, kaku, seperti topeng yang dipasang terburu-buru.

"Hehe… aku kena tifus," jawabnya pelan.

Sebuah kebohongan. Kebohongan yang aman.

Bagaimana mungkin ia menjelaskan malam-malam penuh air mata, bayangan Kaivan, dan kegelapan yang perlahan menelannya utuh?

Teman-teman sekelasnya mengembuskan napas lega.

"Ohh, pantas saja! Syukurlah sekarang kau sudah baik-baik saja!" ujar salah satu dari mereka cerah.

Namun mata Isabel tidak membalas tatapan mereka. Pandangannya mengarah ke jendela, pada langit yang semakin gelap. Ia melihat pantulannya sendiri di balik kaca, seolah sedang berdiri di dunia lain. Suara-suara di sekitarnya perlahan memudar, sementara di dalam pikirannya, bisikan Kaivan terus bergema seperti hantu.

Di lorong sekolah, seorang pemuda bersandar di dinding dengan satu kaki terangkat di belakangnya. Frans. Bahunya lebar, posturnya tegap, wajah tenangnya dipertajam oleh mata yang selalu waspada. Rambutnya yang tersisir rapi membingkai sosok yang mudah menarik perhatian.

Saat mendengar kabar bahwa Isabel kembali ke sekolah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, bukan senyum bahagia, melainkan lega.

Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengetik cepat:

"Isabel sudah kembali ke sekolah."

 

More Chapters