Cherreads

Chapter 234 - Saat Waktu Menolak Dirinya

Levan mengangguk.

"Biasanya, ya. Tapi dalam kasus Kaivan, integrasi antara sistem saraf dan tubuh biologisnya tampaknya telah melampaui batas normal. Proses regenerasi selnya mungkin dipengaruhi oleh sesuatu yang... tidak alami."

"Sesuatu seperti eksperimen?" tanya Raphael dengan suara rendah.

Tatapan Levan menjadi lebih tajam.

"Lebih tepatnya, sesuatu yang terjadi setelah interaksinya dengan Tome Omnicent. Otaknya berevolusi. Berdasarkan data kami, usia biologisnya tetap berada di angka enam belas tahun, seolah waktu itu sendiri telah berhenti untuknya. Seperti ubur-ubur abadi... dia tidak menua."

Kata-kata itu menggantung di udara.

Penyebutan Tome Omnicent langsung mengubah suasana.

Artefak kuno itu lebih dari sekadar benda. Ia adalah legenda yang berada di luar penjelasan ilmiah. Semua orang tahu bahwa Kaivan termasuk sedikit orang yang mampu menggunakannya.

Felicia menatap Levan dengan tubuh tegak. Suaranya tenang, namun ada getaran samar di ujungnya.

"Kalau memang karena Tome itu... apakah setiap kali dia menggunakannya, tubuhnya berubah? Atau... rusak?"

Levan mengembuskan napas panjang.

"Tidak selalu rusak. Tapi ya, berubah. Mungkin bukan secara fisik... melainkan pada tingkat eksistensi. Sesuatu yang sampai sekarang masih belum kami pahami."

Zinnia berdiri dengan cepat. Langkahnya ringan namun tegas.

Ia menatap gambar Kaivan yang membeku di layar biru. Matanya berkilau.

"Bagiku, Kaivan tetaplah Kaivan..." bisiknya dengan suara bergetar. "Kalau perubahan ini tidak bisa dihentikan... dia bisa menghilang, kan? Kaivan yang dulu kita kenal."

Ruangan kembali membeku.

Tak seorang pun berbicara.

Levan sedikit menundukkan kepala.

"Kami belum tahu. Tapi satu hal yang pasti... perubahan itu sudah dimulai. Dan itu tidak dimulai saat dia datang ke sini.

Perubahan itu dimulai sejak pertama kali dia menyentuh Tome Omnicent."

Suasana di laboratorium Fabrizio benar-benar berbeda dari tempat mana pun.

Dengungan mesin yang stabil memenuhi udara, sementara aroma tajam logam yang dipanaskan memenuhi setiap sudut ruangan. Fabrizio, pengguna Tome Omnicraft yang baru berusia empat belas tahun, bergerak lincah di antara tumpukan peralatan yang berserakan. Kacamata pelindung menempel di wajahnya, noda oli menghiasi pipinya, namun senyum lebarnya memancarkan kebanggaan yang tak dapat disembunyikan.

"Kaivan! Lihat ini!" teriaknya sambil menunjuk antusias ke ujung ruangan.

Kaivan yang baru saja masuk menatap sekeliling dengan rasa penasaran. Pandangannya berhenti pada sebuah rangka robot raksasa yang berdiri di tengah laboratorium. Tingginya hampir seratus sembilan puluh sentimeter, dengan sambungan logam yang berkilau memantulkan cahaya di sekitarnya.

Ia melangkah mendekat dan menyentuhkan jarinya pada permukaan yang dingin itu.

"Kau... sudah menyelesaikan semua rangka yang kita rancang?" tanyanya pelan, tak mampu menyembunyikan rasa tak percaya dalam suaranya.

Fabrizio mengangguk cepat. Matanya berbinar penuh semangat.

"Ya! Semua persendiannya berfungsi sempurna. Lihat ini!"

Dengan satu jentikan jari, rangka itu mulai bergerak, meniru gerakan manusia dengan keluwesan yang mengagumkan.

Kaivan menatapnya dengan kagum.

"Ini... hampir sempurna," gumamnya.

Fabrizio berdiri di dekat meja kerjanya, sementara cahaya mesin menari di matanya.

"Belum. Aku masih bingung soal lima indera. Aku belum menemukan cara untuk menciptakannya."

Ia berhenti sejenak lalu menatap Kaivan dengan semangat baru.

"Ngomong-ngomong, senjata seperti apa yang biasanya kau gunakan?"

Kaivan berpikir sesaat sebelum menjawab dengan nada tenang.

"Kujang. Aku memasang rantai pada ujung lengkungnya supaya bisa kutarik kembali. Belakangan ini aku terus menyempurnakannya."

"Menarik!" seru Fabrizio.

Ia meraih Tome Omnicraft yang melayang di dekatnya lalu membuka halaman-halaman yang bercahaya lembut. Cahaya putih membanjiri ruangan dan membentuk sebuah kujang berkilau di udara. Dengan bangga, ia menyerahkannya kepada Kaivan.

Kaivan memutar senjata itu di antara jari-jarinya. Logamnya terasa dingin, namun ia perlahan menggeleng.

"Bukan seperti ini. Yang pernah kugunakan dulu terbuat dari Tungtichriosm."

Fabrizio memiringkan kepala dengan rasa penasaran.

"Tungtichriosm? Aku belum pernah mendengarnya. Terbuat dari apa itu?"

"Titanium, tungsten, chromium, iridium, dan osmium," jawab Kaivan. "Tapi aku belum pernah benar-benar membuatnya. Itu masih sebatas teori."

Fabrizio langsung mencondongkan tubuh ke depan. Matanya bersinar semakin terang.

"Kalau begitu, gambarkan untukku. Aku ingin mencoba membuatnya."

Kaivan mengambil selembar kertas lalu mulai menggambar. Goresannya cepat dan presisi. Bentuk kujang itu tampak hampir hidup, sementara rantainya berkelok seperti urat logam yang bernyawa. Di tepi kertas, ia menuliskan rasio setiap material dengan hati-hati.

Di sekitar mereka, mesin-mesin terus berdengung lembut, seolah ikut mendengarkan dua anak jenius yang sedang membentuk masa depan.

Fabrizio memperhatikan setiap garis dengan penuh ketertarikan. Ketika Kaivan selesai, ia menerima kertas itu dengan hati-hati dan membacanya seperti seorang ilmuwan yang baru saja menemukan rumus baru.

"Ini luar biasa," katanya penuh kagum. "Aku akan mencobanya."

Ia kembali membuka Tome Omnicraft.

Dalam sekejap, cahaya putih yang menyilaukan memenuhi ruangan. Kali ini prosesnya jauh lebih rumit. Cahaya itu berputar membentuk pusaran, menarik serpihan logam dari seluruh penjuru laboratorium. Di dalam kilauan yang berputar itu, bentuk sebuah kujang perlahan mulai tercipta.

Logam-logam tersebut meleleh lalu menyatu, membentuk bilah abu-abu gelap yang berkilau seolah memiliki kehidupan sendiri.

Saat cahaya akhirnya memudar, Fabrizio mengusap keringat di dahinya. Ia menimbang senjata itu di tangannya sebelum menyodorkannya kepada Kaivan dengan senyum penuh percaya diri.

"Nih." Kaivan menerimanya dengan hati-hati. Ujung bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum lembut yang jarang terlihat.

More Chapters