""Ya..." gumamnya sambil memutar kujang di tangannya. "Beratnya pas."
Ia melangkah ke tengah ruangan.
Dengan gerakan cepat, ia melemparkan senjata itu ke udara. Bilahnya melesat ke depan dan menancap pada boneka latihan di sudut ruangan. Tepat sebelum menyentuh lantai, Kaivan menarik rantainya.
Kujang itu melesat kembali ke tangannya secepat kilat.
Fabrizio terkekeh kecil dengan puas.
Kemudian sebuah suara lembut terdengar dari pengeras suara.
"Kaivan, hati-hati. Kalau itu terekam kamera, aku tidak akan bisa menyamarkan jejakmu," kata Lyra, AI yang selalu mengawasi mereka.
Kaivan mengangguk tanpa berkata apa pun. Ia melanjutkan latihannya. Gerakannya semakin cepat dan tajam. Setiap lemparan terasa seperti simfoni sunyi antara logam dan udara.
Fabrizio memperhatikannya dengan kagum sebelum menepuk bahunya dengan mantap.
"Nanti aku akan membuatkanmu senjata pendukung," katanya. "Sesuatu yang benar-benar unik."
Kaivan membalas tatapannya. Ia tetap diam, tetapi penuh kepercayaan. Senyum tipis yang muncul sudah cukup untuk menunjukkan rasa hormatnya.
Hari itu berakhir dengan semangat yang kembali menyala. Dua anak jenius berdiri di bawah cahaya mesin-mesin yang berkilau, menyadari bahwa mereka baru saja menyalakan awal dari sesuatu yang luar biasa.
Malam itu, di sisi lain kompleks markas, sebuah laboratorium tenang beristirahat dalam ketenangan futuristis. Lampu LED biru lembut memantul pada dinding logam, sementara aroma antiseptik yang samar menandakan kebersihan yang nyaris sempurna. Namun di balik pintu titanium pada sayap timur, suasananya benar-benar berbeda. Ruang mandi pribadi untuk tim wanita elit diselimuti uap hangat yang terus melayang.
Cahaya redup dari langit-langit perlahan membentuk siluet lima gadis: Thivi, Livia, Felicia, Zinnia, dan Isabel. Uap tebal menyembunyikan tubuh mereka, hanya menyisakan bayangan yang bergerak di balik pancuran air. Gemericik air yang tak henti-hentinya menjadi irama yang perlahan menghapus ketegangan sepanjang hari.
Livia, dengan rambut pirang dan mata birunya yang jernih, berdiri di bawah pancuran sebelah kanan. Air mengalir melewati rambutnya, membawa busa turun hingga ke bahunya yang ramping.
"Aku lega Kak Kaivan baik-baik saja," katanya pelan.
Kata-katanya menggantung di udara, hangat dan tulus.
Isabel berdiri di sudut paling jauh, setengah tersembunyi oleh kabut uap. Rambut merah mudanya menjuntai hingga punggung, tertutup busa sampo. Ia tampak tenang, mungkin terlalu tenang. Namun matanya yang terpejam menunjukkan bahwa ia mendengarkan.
Thivi, dengan rambut pendek yang menempel di pipinya, menyeringai nakal di bawah pancuran lain. Sambil menggosok lengannya, ia berkata dengan bangga,
"Untung saja aku sempat memeluknya sebelum kami dipisahkan."
Felicia yang tinggi dan anggun bersandar pada dinding. Air menetes dari rambut hitamnya ke lantai. Ekspresinya datar, tetapi tatapannya tajam.
"Kau beruntung tidak melakukan sesuatu yang bodoh," katanya dingin.
Thivi hanya tertawa kecil. Bahunya naik turun santai. Ia melirik ke arah Zinnia yang sedang memeras air dari rambutnya.
"Bodoh?" serunya setengah bercanda. "Yang aneh itu Zinnia! Ingat pemandian air panas di vila? Dia sampai duduk tepat di wajah Kaivan!"
Zinnia langsung tersentak. Wajahnya memerah seketika. Bahkan uap panas pun tidak mampu menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.
"Itu cuma kecelakaan!" bantahnya gugup. "Aku tidak sengaja!"
Isabel perlahan membuka mata.
Suaranya tenang, tetapi menusuk.
"Tapi, Thivi," katanya pelan tanpa menoleh, "bukankah kau yang mencium Kaivan di gudang waktu itu?"
Kata-katanya jatuh ke dalam ruangan seperti batu yang dilempar ke permukaan air yang tenang.
Keheningan langsung turun.
Semua gadis menoleh bersamaan.
Mata Zinnia membelalak.
"Hah?! Apa?!"
Felicia yang sebelumnya bersandar santai langsung berdiri tegak dan melangkah perlahan ke arah Thivi. Gerakannya halus namun berbahaya, seperti singa betina yang sedang bersiap menerkam. Matanya menyipit, napasnya tetap tenang namun terasa berat.
"Jelaskan padaku, Thivi," kata Felicia datar. Suaranya sedingin bilah es. "Apa sebenarnya yang kau lakukan dengan Kaivan waktu itu?"
Thivi tersentak. Ia mundur selangkah dan mengangkat kedua tangannya setengah menyerah.
"H-Hey, tunggu dulu! Tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku cuma... berusaha menghiburnya saat itu!"
Isabel tetap diam, seolah kata-kata Thivi tidak lebih dari gema yang menghilang di dalam uap hangat. Zinnia menatap dengan bingung, sementara Felicia tidak mengalihkan pandangan bahkan sedetik pun.
Livia tiba-tiba berbicara sambil mengusap matanya yang terkena busa sampo.
"Tapi... waktu pertama kali kita tiba di Georgia, aku melihat Kak Kaivan sering memandang Isabel. Lalu pura-pura tidak melihat saat Isabel menoleh."
Dalam sekejap, semua tatapan beralih kepada Isabel.
Ia berdiri di bawah pancuran. Air mengalir dari ujung rambutnya hingga ke ujung kaki.
Diam.
Tak bergerak.
Namun udara di sekitarnya berubah.
Lebih berat.
Lebih padat.
Lebih sulit untuk dihirup.
Zinnia melangkah maju sedikit. Suaranya lembut, tetapi rasa penasarannya tajam.
"Oh iya... aku ingat. Kalian berdua juga sempat sendirian, kan? Saat kalian menghilang dan tidak bisa dihubungi?"
Isabel perlahan membuka mata.
Tatapannya menembus mereka semua. Bukan dengan kemarahan, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Keraguan, rasa bersalah, dan perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Uap hangat memenuhi ruangan, mengaburkan cahaya pucat dari lampu langit-langit. Dinding keramik yang lembap berkilau samar, memantulkan siluet-siluet yang bergerak di balik tirai air. Suara pancuran membentuk irama lembut, seolah tempat ini adalah dunia kecil yang hanya dimiliki oleh mereka berlima.
Felicia berdiri kaku. Air mengalir di sepanjang rambut hitamnya yang terurai. Kulitnya yang pucat berkilau di bawah cahaya. Matanya yang tajam terus menatap Isabel.
"Isabel...?" tanyanya.
Suaranya datar, tetapi sarat tekanan.
Thivi yang beberapa saat lalu terpojok langsung merasakan kesempatan untuk membalik keadaan. Ia melangkah maju, busa sabun masih menempel pada kulit keemasannya.
"Benar itu, Isabel," katanya dengan nada setengah mengejek. "Kau juga menghilang saat Kaivan hilang. Jadi sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian berdua?"
Dikelilingi tekanan dari segala arah, Isabel merasakan ketenangannya mulai retak. Air hangat menetes dari rambut merah mudanya, mengikuti garis tubuhnya yang tegang. Ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Terlalu tenang. Sementara pikirannya berputar liar.
"Bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku tidak mungkin mengatakan, 'Ya, aku tidur bersama Kaivan.' Kalau aku mengaku, Felicia dan Thivi pasti akan membunuhku..."
Namun wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sesaat, lalu menatap mereka kembali.
"Aku baik-baik saja," katanya pelan. "Waktu itu aku... terkena tifus. Kebetulan saja waktunya buruk."
Zinnia melangkah keluar dari balik kabut uap. Rambut ungunya yang basah menempel di bahu, membentuk siluet lembut di bawah cahaya redup.
"Yakin?" tanyanya. "Kau terlihat pucat."
Isabel mengangguk kecil.
"Cuma sedikit pusing. Mungkin airnya terlalu hangat."
Felicia terus memperhatikannya cukup lama. Matanya yang tajam menelusuri setiap gerakan kecil, mencari celah dari kebohongan itu. Namun sebelum ketegangan kembali meledak, suara polos Livia memecah suasana.
"Aku penasaran," katanya sambil duduk di bangku mandi dan mengayunkan kakinya. "Sebenarnya Kak Kaivan suka siapa di antara kalian? Mungkin kita bisa bertanya pada Tome Omnicent?"
Ruangan langsung terdiam.
Uap terasa semakin tebal.
Lalu Thivi yang akhirnya menemukan jalan keluar tertawa keras dan langsung memeluk Livia erat-erat.
"Kau jenius, Livia!"
Thivi langsung memeluk menekan wajah Livia diantara kedua dadanya.
"Kak! Aku tidak bisa bernapas!" protes Livia sambil memukul dada Thivi pelan.
Zinnia dan Felicia ikut tertawa kecil.
Untuk sesaat, suasana menjadi hangat.
Namun Isabel tetap diam. Pikirannya melayang jauh.
"Tome Omnicent... tentu saja. aku bisa membacanya sendiri, aku akan tahu siapa yang akan dipilih Kaivan... bahkan sebelum yang lain menyadarinya."
Matanya menajam sesaat sebelum kembali menunduk.
Air dari pancuran membasuh air mata kecil yang lolos dari matanya, menyatukannya dengan tetesan hangat yang mengalir di kulitnya.
Malam menyelimuti fasilitas pelatihan dengan salju yang turun perlahan. Butiran putih jatuh dari langit kelabu yang sunyi seperti serpihan cahaya yang tak terhitung jumlahnya. Lapisan salju semakin tebal menutupi tanah, meredam setiap langkah hingga bahkan gerakan terasa menghilang. Yang tersisa hanyalah bisikan angin dan hembusan napas berat di udara yang membeku.
Sebuah bunker tua berdiri di jantung hutan yang tertutup salju. Dinding logamnya memantulkan cahaya pucat bulan yang tersembunyi di balik awan tipis.
Di luar bunker, empat pria berdiri diam di tengah dingin yang menggigit.
Radit bersandar pada dinding baja. Punggungnya mati rasa karena hawa beku. Asap keluar dari bibirnya yang kering dan bercampur dengan kabut malam. Matanya terlihat lelah, tetapi tetap waspada, menatap hutan gelap seolah menunggu sesuatu muncul dari balik tirai salju.
"Sudah setahun," gumamnya serak. "Tubuhku rasanya hancur karena semua latihan itu. Aku seperti hewan percobaan."
Frans duduk di atas peti kayu yang hampir tertimbun salju. Jaket tebalnya tetap tidak mampu mengusir dingin. Sambil memeluk lutut, ia menatap kosong ke dalam kegelapan yang jauh.
