Cherreads

Chapter 236 - Saat Tembok Mulai Bergerak

"Ya," bisiknya. Suaranya hampir tertelan angin. "Sampai kapan kita harus hidup seperti ini? Kita tidak bisa pergi ke mana-mana… semuanya terasa sia-sia."

Ethan berdiri tegak, tetapi senyum yang biasa menghiasi wajahnya sudah menghilang. Kedua tangannya terselip dalam saku, tubuhnya sedikit gemetar, bukan hanya karena dingin, tetapi juga karena kegelisahan yang menggantung di udara. Ia memperhatikan Radit dan Frans dengan saksama, menimbang setiap kata mereka dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan.

"Kalau kita benar-benar tidak tahu harus berbuat apa," katanya pelan, suaranya lebih tegas dari biasanya, "kenapa kita tidak mencari Kaivan saja? Biarkan dia membaca Tome Omnicent. Setidaknya kita akan tahu kenapa sebenarnya kita ada di sini."

Raphael berdiri di dekat gerbang bunker seperti penjaga yang membisu, kedua tangan terlipat di dada. Salju menumpuk di bahunya, tetapi ia tidak bergerak sedikit pun. Tatapan matanya yang tajam tetap tertuju ke hutan, seolah ingin menembus kegelapan di balik pepohonan.

"Itu tidak akan mudah," jawabnya datar. Suaranya kokoh seperti batu. "Pertama, kita bahkan tidak tahu Kaivan ada di mana. Kedua, kita selalu diawasi. Seperti hewan percobaan."

Ia melirik yang lain, lalu mengangkat pandangannya ke langit yang gelap.

"Kalian tidak sadar? Bahkan makanan kita dikendalikan. Dan mereka terus menyuntikkan serum itu ke tubuh kita. Tidak ada yang normal dari semua ini."

Kata-katanya membeku di udara, tenggelam bersama salju yang terus turun. Keheningan menelan keempat pria itu, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga dunia seolah ikut membeku dan diam.

Lalu, keheningan itu pecah.

Sebuah raungan menggema dari kejauhan. Dalam, kuat, dan tidak alami. Getarannya merambat hingga ke dada mereka. Itu bukan suara makhluk biasa. Suara itu tidak berasal dari dunia ini.

Ethan menegakkan tubuh. Matanya melebar saat mencoba menembus gelap.

"Itu… suara apa?" bisiknya.

Mereka semua menoleh bersamaan ke arah suara itu. Tubuh mereka menegang. Langkah kaki terdengar mendekat dari sisi kanan, para penjaga. Empat pria berseragam gelap berlari ke arah mereka dengan wajah penuh kepanikan.

"Masuk ke dalam, sekarang! Ini keadaan darurat!" teriak salah satu dari mereka.

Namun sebelum siapa pun bergerak, mereka membeku.

Di atas mereka, sesuatu turun dari langit.

Bayangan raksasa melayang di tengah badai salju, tidak, ia jatuh dari langit itu sendiri. Siluet hitam dengan mata merah menyala menembus tirai salju. Ukurannya sangat besar, lebih besar dari truk militer, dan gerakannya sama sekali tidak menyerupai makhluk hidup.

Frans berbisik tak percaya, "Itu… monster? Atau mesin?"

Radit menjatuhkan rokoknya ke salju. Tubuhnya langsung bersiaga, tangan kanannya meraih senjata yang tersembunyi di balik jaket.

"itu titan...," katanya pelan. Suaranya tak lagi santai.

Ethan menoleh ke Raphael. "Apa ini juga bagian dari eksperimen mereka?"

Raphael mengangguk perlahan.

"Kalau kita selamat malam ini… mungkin akhirnya kita akan mendapatkan jawabannya."

Malam di dalam bunker pelatihan terasa sunyi dan kosong, hanya beberapa jam sebelum dunia di luar akan diguncang ledakan dan raungan misterius dari balik pegunungan.

Kaivan berbaring di ranjangnya, terbungkus selimut abu-abu kusam di sudut kamar sempit berdinding logam. Lampu neon di atasnya berkedip lemah, menumpahkan cahaya putih pucat yang membawa rasa muram yang tenang. Udara dipenuhi aroma besi tua, oli mesin, disinfektan, dan sisa keringat yang menempel di ruangan itu.

Ia mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya menolak untuk beristirahat. Wajah-wajah melintas di benaknya: Felicia, Isabel, Thivi, Raphael, Radit, Ethan, Frans, Livia, Zinnia. Masing-masing membawa kenangan dan pertanyaan yang belum terjawab. Ia mengembuskan napas perlahan, berusaha menenangkan diri.

Tiba-tiba, komunikator di samping tempat tidurnya berderak pelan. Sebuah suara lembut namun tegas memecah keheningan.

"Kaivan, bisa datang ke laboratorium Fabrizio sekarang?"

Itu suara Lyra. Tenang, tetapi menyimpan urgensi yang samar.

Kaivan langsung membuka mata. Tanpa ragu, ia mengusap wajahnya, berdiri, lalu mengambil jaket abu-abunya dari gantungan. Langkah kakinya bergema di koridor sempit yang dipenuhi pipa-pipa hangat beruap. Lampu kuning redup berkedip malas, menciptakan bayangan panjang di sepanjang dinding.

Setelah melewati dua titik pemeriksaan keamanan otomatis, ia tiba di laboratorium Fabrizio. Pintunya bergeser terbuka dengan desisan hidraulik.

Di dalam, ruangan luas itu dipenuhi cahaya biru-ungu dari layar holografik, kabel, dan perangkat yang berpendar lembut. Di tengah ruangan, Fabrizio duduk di depan konsol besar, jarinya bergerak cepat di atas keyboard virtual.

"Ada apa?" tanya Kaivan sambil berdiri tegak di ambang pintu.

Fabrizio menoleh, menatapnya dengan mata tajam sebelum menunjuk layar besar di belakangnya. Peta interaktif Pegunungan Kaukasus bersinar, dengan garis-garis merah yang berdenyut di bagian tengah.

"Kaivan," katanya pelan, suaranya berat oleh tekanan, "hari ini adalah inspeksi lima tahunan Tembok Besi Yajuj dan Majuj."

Kaivan menatap layar itu, alisnya sedikit terangkat. Ia masih belum sepenuhnya memahami urgensinya.

Fabrizio berdiri. Jas laboratorium putih kebesarannya bergoyang saat ia melangkah mantap. Ia menelusuri jalur merah menuju timur laut dengan jarinya.

"Inspeksi ini sangat penting. Satelit melaporkan cuaca ekstrem dalam empat puluh delapan jam ke depan: badai salju, tekanan rendah, dan gempa mikro. Semua jalur darat akan tertutup. Setelah itu, akses ke Celah Darial akan ditutup selama berbulan-bulan. Ini satu-satunya kesempatan kita."

Kaivan mendengarkan dalam diam. Tatapannya tetap tertuju pada layar.

"Dan… kau akan pergi sendiri ke sana?" tanyanya pelan namun tegas.

"Aku harus," jawab Fabrizio tanpa ragu. "Bukan hanya sebagai kepala tim penelitian, tapi juga sebagai satu-satunya orang yang mengendalikan Tome Omnicraft, Tome yang membentuk Tembok itu sendiri. Aku butuh pengawal. Aku ingin kau ikut denganku.

Kau bukan sekadar prajurit, Kaivan. Kau berpikir cepat. Kau bisa melindungi sesuatu yang bahkan tidak bisa kulindungi."

Keheningan jatuh di antara mereka. Hanya dengungan mesin dan kilatan data holografik yang memantul di wajah mereka.

Kaivan menatapnya cukup lama, seolah mencoba membaca isi pikirannya.

Akhirnya, ia mengangguk perlahan. "Baik. Kapan kita berangkat?"

Fabrizio kembali ke konsol lalu mengetuk sebuah panel. Layar berubah menjadi hitung mundur digital.

00:29:57

"Kita berangkat dengan helikopter tepat pukul dua puluh nol nol," katanya. "Pakailah perlengkapan salju. Bawa semua senjata. Siapkan alat pengawasan. Dan bawa Tome Omnicent bersamamu, untuk berjaga-jaga."

Kaivan berbalik hendak pergi, lalu berhenti.

"Ada lagi yang harus kuketahui?"

Fabrizio menatap layar sebelum menjawab pelan.

"Ada. Sebuah anomali energi baru muncul. Fluktuasinya tidak stabil, seperti sesuatu yang baru sedang keluar dari gunung… dan terus bertambah."

Kaivan tidak bereaksi. Ia hanya menarik napas panjang.

Dalam keheningan itu, ia mengerti. Misi ini lebih dari sekadar inspeksi.

Ini adalah panggilan dari sejarah.

Atau awal dari sebuah bencana.

More Chapters