Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melangkah keluar. Koridor bunker menelan suara langkah kakinya, diterangi lampu-lampu pucat yang menyinari wajahnya yang kini dingin, fokus, dan penuh tekad.
Langit malam membentang luas dan gelap, dipenuhi bintang-bintang beku yang berkilau samar di atas Celah Darial. Angin pegunungan meraung tajam, berputar mengelilingi helikopter militer yang terbang dalam formasi V sempurna. Lima pesawat hitam tanpa tanda pengenal membelah badai es, baling-balingnya mengaum seperti genderang perang.
Di dalam salah satunya, Kaivan duduk dalam diam. Rompi pelindung membungkus tubuh rampingnya, sementara sebuah kujang berkilau berada dalam genggamannya. Di hadapannya, Fabrizio mempelajari peta elektronik di tablet militernya.
"Tenang saja," katanya. Suaranya terdengar santai, meski sedikit dipaksakan. "Sudah bertahun-tahun tidak terjadi apa-apa di sini. Kita hanya memeriksa stabilitas Tembok. Semuanya akan cepat selesai."
Kaivan tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada peta, pada titik merah kecil yang menandai posisi mereka. Ada sesuatu yang terasa salah di dadanya. Gerbang Darial, pikirnya, adalah segel yang dibuat untuk menjaga sesuatu yang terlarang tetap tertidur.
Tiba-tiba, guncangan hebat mengguncang kabin.
Ledakan mengoyak langit. Salah satu helikopter di depan mereka meledak menjadi bola api yang menjilat udara beku. Gelombang kejutnya menghantam dinding logam pesawat mereka.
"Apa yang terjadi?!" teriak Kaivan sambil mencengkeram sabuk pengamannya.
Fabrizio menoleh tajam, matanya mencari-cari melalui jendela.
"Jangan panik!" bentaknya. "Mungkin cuma longsoran batu..."
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah raungan dahsyat menghancurkan malam.
Itu bukan suara mesin.
Bukan pula suara hewan mana pun.
Raungan itu muncul dari kedalaman bumi, melesat ke udara, lalu menghantam langsung dada mereka. Setiap naluri dalam tubuh mereka meneriakkan peringatan yang sama: lari, sembunyi, atau mati.
"Raungan itu!" teriak salah satu pilot melalui komunikasi radio. Matanya membelalak, pupilnya mengecil saat menatap ke bawah, ke arah bayangan raksasa yang bergerak di balik badai. "Itu bukan sesuatu yang normal! Itu... makhluk!..."
Langit yang semula tenang berubah menjadi neraka terbuka.
Helikopter kedua dihantam bongkahan batu raksasa, seperti meteor yang dilemparkan oleh amarah kuno. Ledakan itu merobek kegelapan, mewarnai langit dengan api oranye dan menghujani salju dengan pecahan logam yang terbakar.
"Bersiap untuk pendaratan darurat!" teriak pilot mereka. Jarinya bergerak panik di atas panel kendali, berusaha menstabilkan pesawat yang berputar liar.
Guncangan semakin parah. Tubuh mereka terlempar ke kiri dan kanan. Sabuk pengaman menegang. Senjata-senjata terlepas dari tempatnya. Salah satu prajurit menghantam dinding dengan keras hingga darah menyembur dari pelipisnya.
"Pegangan!" Fabrizio meraih Kaivan dan menarik mereka berdua ke dekat balok logam.
Kaivan mencoba mengangguk, tetapi napasnya terputus-putus akibat getaran brutal itu.
Lalu dunia terbalik.
Helikopter itu menukik dan menghantam salju dengan suara logam yang menggelegar ke seluruh lembah. Tanah bergetar. Salju meledak ke udara. Logam hancur berkeping-keping. Kaca berhamburan ke dalam malam.
Lalu...
Hening.
Hanya erangan mesin yang sekarat dan bisikan angin yang tersisa, menelan nyala api terakhir. Kabin pesawat remuk dan terpelintir. Udara dingin menerobos masuk seperti bilah-bilah pisau.
Kaivan perlahan membuka mata.
Rasa sakit memenuhi tubuhnya, tetapi pikirannya tetap jernih. Ia merangkak melewati puing-puing, menyingkirkan reruntuhan, mencari satu nama.
"Fabrizio...?"
Angin malam menyapu logam yang hancur dan salju yang beterbangan, memantulkan cahaya merah dari bangkai helikopter yang terbakar. Asap hitam membubung ke langit yang dipenuhi bintang, menutupi lembah Celah Darial dengan aroma besi dan darah.
Kaivan berdiri sempoyongan. Sabuk pengaman menekan dadanya dengan menyakitkan. Napasnya berubah menjadi kabut putih di udara.
Ia mengamati sekelilingnya.
Dan menemukannya.
Fabrizio terbaring di dekat kursi pilot. Rompi tempurnya robek, darah yang membeku menempel di pelipisnya.
Namun dadanya masih naik turun.
Ia masih hidup.
Kaivan segera berlutut dan merangkak di atas logam dingin yang terpelintir, mengabaikan rasa perih di siku dan kakinya. Tangannya yang gemetar meraih bahu sahabatnya.
"Hey! Fabrizio! Bangun!" teriaknya panik. Ia menepuk pipi Fabrizio pelan, lembut namun putus asa. Jantungnya berdegup liar, bukan hanya karena takut, tetapi juga karena raungan jauh yang kembali menggema dari pegunungan, membuat bulu kuduknya berdiri.
Kelopak mata Fabrizio bergerak pelan, lalu terbuka sedikit demi sedikit. Tatapannya kosong dan dipenuhi kebingungan.
"K-Kaivan... di mana... kita? Apa aku... masih hidup?"
"Ya," jawab Kaivan tegas. Suaranya tetap mantap meski tubuhnya gemetar. "Helikopter jatuh. Kita diserang. Batu-batu raksasa dan tombak... datang dari bawah."
Fabrizio mencoba duduk sambil mengerang ketika rasa sakit menjalar ke punggungnya. Napasnya tidak teratur. Telinganya masih berdenging, tetapi suara Kaivan berhasil menembus kabut dalam pikirannya.
Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, rentetan tembakan memecah kesunyian di luar. Kilatan moncong senjata memantul pada es dan logam yang hancur. Teriakan dan perintah panik bercampur dengan gemuruh senjata.
"Mereka cepat! Dan mereka besar sekali!" teriak seorang prajurit dari luar. Suaranya hampir tertelan angin dan suara tembakan. Senapan otomatis terus memuntahkan api di balik reruntuhan, disusul jeritan dan pekikan kesakitan.
Lalu raungan itu terdengar lagi.
Bukan suara hewan apa pun.
Itu adalah jeritan purba, seolah sesuatu yang seharusnya tidak pernah bangun kini kembali terjaga. Udara bergetar. Salju berguguran dari cabang-cabang yang membeku. Getarannya terasa hingga ke dalam jiwa.
Tiba-tiba...
"SHRRRK!"
Sebuah tombak raksasa menembus dinding logam helikopter dan berhenti hanya beberapa sentimeter dari kepala Kaivan. Tombak itu panjang, berat, dan bergerigi di ujungnya. Jelas bukan buatan tangan manusia modern. Tombak itu masih bergetar hebat, bukti kekuatan mengerikan yang melemparkannya.
Kaivan dan Fabrizio membeku.
Lalu mereka saling menatap dengan mata yang dipenuhi ketakutan.
Masih gemetar, Fabrizio memaksa dirinya berdiri sambil menatap tombak yang bergetar itu.
"M-Mereka... Yajuj dan Majuj? Apa mereka... berhasil menembus Tembok?!"
Kaivan tidak menjawab. Tatapannya mengeras. Ia meraih tasnya, membuka pengunci ganda, lalu mengeluarkan Tome Omnicent, buku kuno yang dibungkus sampul kayu berukir.
Saat buku itu dibuka, huruf-huruf bercahaya muncul di halaman kosongnya, seolah hidup.
"Temboknya retak. Sebuah celah telah terbuka. Diameter satu meter. Lokasi dua ratus tujuh puluh empat meter dari sini, arah barat laut," bisik Kaivan saat membaca.
Ia memutar buku itu ke arah Fabrizio.
"Hanya kau yang bisa menutupnya. Kau tahu ini adalah tanggung jawabmu."
Fabrizio menelan ludah. Wajahnya memucat. Tangan kirinya mengepal, berusaha menghentikan gemetarnya. Ia menatap Kaivan sambil bernapas cepat, lalu mengangguk perlahan.
"B-Baik... aku akan pergi. Aku... akan mencoba."
Tanpa menunggu lagi, mereka memanjat keluar dari reruntuhan yang membeku. Salju turun semakin deras, mengubah medan perang menjadi pemandangan yang terasa tidak nyata. Cahaya api berwarna oranye melemparkan bayangan panjang para prajurit yang masih bertarung di kejauhan, sementara suara mereka perlahan memudar ketika musuh yang tak terlihat semakin mendekat.
Kaivan dan Fabrizio berlari menembus salju.
Setiap langkah terasa berat, meninggalkan jejak dalam yang segera tertutup oleh salju baru. Di belakang mereka, suara tembakan dan raungan mengikuti seperti kutukan, seolah waktu sendiri mendorong mereka untuk terus maju.
Sesekali Kaivan menoleh ke belakang, mengawasi sekeliling sambil menggenggam Tome Omnicent erat-erat. Di belakangnya, Fabrizio terus mengikuti. Napasnya membentuk kabut putih tebal di udara yang membeku, tetapi api kecil mulai menyala di dalam matanya.
Di sisi lain dunia, di dalam aula megah yang diterangi lampu gantung kristal, sebuah pesta mewah sedang berlangsung. Gelas-gelas anggur beradu pelan, sementara musik klasik mengalun lembut di udara. Seorang pria muda berambut pirang berdiri di salah satu sudut ruangan, mengamati semuanya dengan senyum tipis yang seolah mengetahui sesuatu.
