Cherreads

Chapter 238 - Saat Pintu-Pintu Mulai Terbuka

"Kalau aku membukanya sedikit saja... apa dia bisa menahannya?" gumamnya pelan. Suaranya dipenuhi misteri yang tenang. Ia menyesap minumannya perlahan, sementara matanya berkilau penuh rasa ingin tahu.

Tiba-tiba, seorang wanita dengan suara lembut namun menggoda mendekatinya. Rambut panjang bergelombangnya berkilau di bawah cahaya lampu, dan matanya memancarkan pesona yang sulit ditolak.

"Ayolah, Johan. Mari lakukan lagi seperti kemarin. Aku menikmatinya," bisiknya sambil mengusap ringan lengan pria itu dengan ujung jarinya.

Johan tersenyum tipis. Enam tahun lalu, ia hanyalah seorang anak kecil. Kini, di usia sembilan belas tahun, ia telah menjadi seorang pemuda yang diselimuti rahasia. Di balik wajah tampannya, sebuah permainan besar dan berbahaya sedang berlangsung. Namun untuk saat ini, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam godaan, sementara di tempat yang jauh, medan perang lain semakin membara.

Kaivan mempererat genggamannya pada sepasang kujang berantai yang melilit kedua lengannya. Ia menahan napas menghadapi angin pegunungan yang menggigit. Salju turun perlahan dari langit, sementara udara dipenuhi aroma mesiu dan darah. Dari kejauhan, jeritan tajam menggema di antara pegunungan, getarannya meresap hingga ke tulang. Di bawah cahaya bulan pucat yang tertutup awan tipis, Celah Darial tampak seperti medan perang kuno yang hidup kembali.

Fabrizio berlari menuruni lereng bersalju, napasnya membeku di udara malam. Di belakangnya, para prajurit yang tersisa berjuang mengikuti langkahnya. Langkah mereka berat, wajah mereka dipenuhi luka dan ketakutan, tetapi tekad mereka belum pudar. Salju menempel pada helm baja mereka, bercampur dengan darah rekan-rekan yang telah gugur.

Namun ancaman itu masih jauh dari selesai.

Di hadapan mereka, pada jalur sempit yang mengarah ke jurang dalam, tiga puluh dua sosok raksasa menyerbu bagaikan badai yang mengamuk.

Yajuj dan Majuj.

Mereka hanya mengenakan kain compang-camping yang berkibar diterpa angin. Tubuh besar mereka diselimuti kulit abu-abu kusam, sementara mata merah mereka menyala seperti bara lapar. Setiap langkah yang mereka pijakkan ke salju terdengar seperti guntur dari neraka.

"Siapkan senjata!" teriak salah satu prajurit. Suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tegas.

Pelatuk ditarik.

Larasan senjata terangkat.

Mereka membentuk barikade di jalur sempit itu, mengetahui bahwa jika makhluk-makhluk tersebut berhasil menembusnya, tak seorang pun akan selamat.

Kaivan menoleh ke arah Fabrizio yang berdiri gemetar. Tome Omnicraft berada di tangan kanannya, sementara tas perlengkapan tergantung di tangan kirinya.

"Fabrizio! Ini bukan waktunya ragu!" seru Kaivan. Suaranya tegas namun hangat. "Kau tahu apa yang harus dilakukan. Ciptakan sesuatu yang bisa menyelamatkan kita!"

Fabrizio menelan ludah dan membuka Tome itu. Jari-jarinya yang gemetar menyentuh halaman bercahaya, lalu diagram-diagram rumit melayang ke udara seperti hologram. Mesin perang, senjata, kendaraan tempur. Semuanya menunggu diwujudkan oleh tekadnya.

Tanpa ragu, Kaivan melesat menuju gerombolan yang mendekat.

Tubuhnya kecil, bahkan hanya setinggi pinggang para raksasa itu, tetapi setiap langkahnya dipenuhi keberanian dan tekad. Ia menjadi bayangan cepat yang menari di antara salju dan cahaya bulan.

Tombak pertama meluncur ke arahnya.

Ia menunduk, meluncur di atas salju, lalu bangkit kembali dalam satu gerakan mulus.

Tombak kedua menghantam tanah dan memicu ledakan kecil.

Kaivan berguling lalu menendang salju ke udara, menciptakan tirai putih yang menghalangi pandangan musuh.

Raungan para monster menjawab seruan perangnya.

Salah satu dari mereka melompat maju sambil mengayunkan senjata kayu raksasa.

Kaivan meloncat tinggi, menghindari serangan itu, lalu melempar salah satu kujang berantainya.

Bilah itu berputar seperti bumerang kematian dan menghantam kepala makhluk tersebut. Darah muncrat ke udara, namun monster itu hanya terhuyung sesaat sebelum kembali berdiri.

"Monster macam apa ini?!" geram Kaivan sambil menarik kembali senjatanya yang berlumuran darah melalui rantai.

Ia menyelinap di antara dua makhluk dan menebas urat di belakang lutut mereka.

Mereka mengerang kesakitan.

Namun tidak langsung tumbang.

Ledakan besar mengguncang lembah. Suara menggelegarnya memantul ke seluruh pegunungan saat salju runtuh dari tebing-tebing tinggi.

"TEMBAK!"

Kilatan api muncul di kejauhan. Peluru baja menghantam sisi kanan barisan Yajuj dan Majuj. Lima tubuh raksasa terlempar ke udara dan hancur diterjang ledakan yang menyala terang. Asap hitam menelan cahaya bulan.

Kaivan menoleh tajam, matanya membelalak.

"Apa-apaan itu?!"

Di belakangnya, Fabrizio berdiri gemetar.

Namun tatapannya telah berubah.

Kedua tangannya masih terbentang di atas Tome Omnicraft yang terbuka. Di hadapannya berdiri sebuah tank baja raksasa yang kokoh dan mengintimidasi. Rantai besinya menghancurkan tanah yang membeku, sementara laras meriamnya masih mengepulkan asap dari tembakan sebelumnya.

"A-Aku... aku membuat ini!" teriak Fabrizio. Wajahnya dipenuhi keringat, tetapi bersinar oleh tekad.

Tank itu mengaum dan menembak lagi.

Ledakan kedua mengguncang langit malam, menghancurkan dua Yajuj dan Majuj yang melompat ke arah Kaivan. Potongan tubuh mereka berhamburan di atas salju.

Kaivan memanfaatkan celah itu.

Ia melompat ke atas tubuh monster yang tumbang, berlari di atas punggungnya, lalu menerjang musuh berikutnya. Kedua kujang berantainya berputar cepat, memotong urat tangan dan kaki dengan ketepatan mematikan. Beberapa makhluk tumbang sambil meronta kesakitan, tetapi masih menyerang dengan kegilaan yang mengerikan.

Salju terus turun.

Di bawah langit gelap pekat, gemuruh pertempuran berubah menjadi simfoni kematian yang menggema di Pegunungan Darial. Kaivan tidak berhenti. Fabrizio terus menciptakan senjata melalui Tome Omnicraft. Granat otomatis, drone bersenjata, dan berbagai mesin perang muncul satu demi satu untuk membantu pasukan bertahan.

Angin gunung meraung liar, membawa aroma mesiu dan kematian. Salju menari di udara, terkoyak oleh hembusan yang tajam. Hamparan putih kini ternoda darah, bercampur puing-puing dan jasad Yajuj dan Majuj yang tak bernyawa. Retakan dan kawah membentuk peta luka di atas tanah yang membeku.

Di tengah kekacauan itu, Kaivan berdiri diam.

Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena dingin dan kelelahan. Napasnya berat, mengembuskan kabut tebal. Darah menetes dari bilah berantai di tangannya, sementara rantainya berdenting pelan seolah masih menginginkan korban berikutnya. Seragamnya robek dan penuh noda, tetapi matanya tetap menyala tajam.

Tak jauh darinya terdengar suara logam yang retak.

Fabrizio bersandar pada sisi mesin perang raksasa ciptaannya. Keringat membasahi wajah pucatnya, rambutnya yang basah menempel di dahi. Tangannya gemetar hebat, sisa kekuatan Tome masih mengalir dalam tubuhnya, tetapi matanya memancarkan kepuasan yang tenang.

"Kau luar biasa, Fabrizio," kata Kaivan serak sambil berjalan menembus salju setinggi lutut.

Fabrizio mengangkat kepalanya perlahan lalu tersenyum lemah.

"Kita berhasil... Celahnya... sudah kututup, Kaivan!" serunya sambil mengangkat tangan meski tubuhnya nyaris roboh.

Kaivan menepuk bahunya di atas pelat baja seragamnya.

"Bagus. Tapi kita belum bisa santai. Kita harus mencapai tembok utama dan memastikan mereka tidak bisa menerobos lagi. Ayo."

Langkah mereka terasa berat saat meninggalkan medan perang yang kini sunyi. Salju turun semakin lebat, menutupi darah dan puing-puing seperti tirai belas kasihan yang menyembunyikan tragedi. Angin meraung di antara tebing-tebing, terdengar seperti ratapan makhluk kuno bagi mereka yang telah gugur.

Sementara itu, jauh di bawah tanah, di dalam bunker rahasia, suasananya sangat berbeda.

Dinding baja yang dingin dan cahaya holografik kebiruan membuat ruangan itu terasa seperti pusat komando masa depan. Di tengahnya berdiri Levan, sang ahli strategi berhati dingin. Tatapannya terpaku pada layar raksasa yang menampilkan dua titik kecil di tengah lautan putih, Kaivan dan Fabrizio.

Para teknisi bergerak hilir mudik. Jari-jari mereka menari di atas keyboard, menyesuaikan koordinat, mengukur tekanan salju, dan memantau sinyal lapangan. Dengungan mesin yang terus-menerus membentuk simfoni tegang di dalam ruangan baja yang bergetar itu.

Levan meraih radio dari dudukan logam di meja utama. Suaranya tegas, tetapi sedikit bergetar di akhir setiap kalimat.

"Fabrizio, bertahan tiga puluh menit lagi. Setelah itu, bergerak ke puncak. Unit udara akan menjemput kalian."

Beberapa detik berlalu sebelum suara Fabrizio terdengar dari pengeras suara. Tawa lelah menyelip di antara napasnya yang berat.

"Tiga puluh menit, ya... Baik, Komandan."

Levan menoleh ke arah Kaivan yang sedang berlutut di dekat tembok. Jari-jarinya bersinar biru saat Tome Omnicent aktif. Aliran pola-pola magis menyebar di atas batu dan logam, memperkuat struktur yang hampir runtuh.

"Kaivan, kita harus bergerak ke puncak sekarang. Mereka akan tiba dalam tiga puluh menit," bisik Levan, suaranya hampir tersapu badai.

Kaivan mengangguk.

"Baik. Ayo pergi."

Namun langkah mereka tiba-tiba terhenti.

Tubuh Fabrizio bergoyang.

Ia jatuh berlutut ke salju. Wajahnya pucat dan mulai membiru.

Secara refleks, Kaivan meraih kedua bahunya dan menahannya sebelum ia benar-benar tumbang.

More Chapters