Cherreads

Chapter 239 - Satu Melawan Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan

"Hei! Jangan pingsan sekarang!" teriak Kaivan. Kepanikan mulai merembes ke dalam suaranya meski ia berusaha keras tetap tenang.

Fabrizio tersenyum lemah. "Tenang saja... aku hanya... sedikit lelah..."

Tiba-tiba, halaman-halaman Tome Omnicent bergetar di tangan Kaivan. Huruf-huruf bercahaya muncul di udara.

Pergi ke puncak. Cari tempat terbuka. Bertahanlah menghadapi gelombang kedua.

Kaivan mengatupkan rahangnya erat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangkat Fabrizio ke punggungnya. Otot-ototnya berderit pelan saat menanggung beban itu.

Mereka terus maju menembus badai, mendaki menuju dataran tinggi. Di belakang mereka, tank darurat buatan Fabrizio telah terkubur oleh salju dan puing-puing. Di sepanjang jalan, jasad para prajurit dan makhluk-makhluk raksasa yang membeku berdiri sebagai saksi bisu perang yang masih jauh dari selesai.

Angin meraung ganas, menghantam wajah dan paru-paru mereka. Setiap langkah terasa berat. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pecahan es.

Langit malam menyala merah oleh kobaran api dan ledakan yang menggelegar. Pegunungan Kaukasus tak lagi sunyi. Hamparan salju putihnya ternoda jelaga, debu, dan darah. Cahaya jingga dari ledakan di kejauhan menerangi kerangka tank dan helikopter yang hancur. Api masih menjilat logam-logam yang terpelintir, melelehkannya perlahan dan menciptakan pemandangan neraka beku di jantung musim dingin.

Dari punggung bukit yang dipenuhi reruntuhan, Kaivan dan Fabrizio memandang ke lembah di bawah sana sambil terengah-engah. Tubuh mereka dipenuhi luka.

Apa yang mereka lihat adalah sesuatu yang seharusnya tak pernah disaksikan manusia.

Ya'juj dan Ma'juj sedang menari di atas reruntuhan, merayakan kebangkitan mereka.

Di bawah cahaya api yang menyala, wujud mereka terlihat jelas. Perwujudan kekacauan genetik yang telah kehilangan segala bentuk keteraturan manusia. Sebagian bertubuh kecil dan lincah seperti monyet. Sebagian lainnya sangat besar, tersusun dari otot dan tulang yang mengerikan. Kulit mereka dipenuhi bekas luka, dan banyak di antara mereka masih berlumuran darah segar.

Sebagian menggerogoti tank dan helikopter yang hancur. Rahang bergerigi mereka menghancurkan logam seolah itu hanyalah biskuit rapuh. Gigi kuning yang bengkok. Mata merah bercahaya di dalam kegelapan. Kegilaan purba hidup dalam setiap tatapan mereka.

Sebagian lainnya, didorong oleh naluri yang aneh, mengenakan potongan-potongan logam sebagai pelindung. Rantai melintang di dada mereka, pelat baja menutupi bahu, bahkan pecahan roket menempel di punggung mereka. Entah sebagai simbol status atau sekadar untuk menebar ketakutan, tak seorang pun dapat memastikannya.

Tawa mereka menggema liar. Perpaduan antara haus darah dan kegembiraan yang memabukkan, seperti suku primitif yang sedang merayakan keberhasilan berburu. Beberapa menari di atas tumpukan tulang hangus, membentuk ritual mengerikan di bawah hujan bara yang berjatuhan.

Kaivan membeku di tempat.

Napasnya berat. Bahunya menopang tubuh Fabrizio yang semakin melemah. Dari ketinggian ini, lembah itu tampak seperti lautan api dan darah. Tenggorokannya terasa kering. Pikirannya berputar tak menentu.

Dari kedalaman kenangan masa kecilnya, sepotong hadis muncul kembali. Kata-kata yang dulu gagal ia pahami.

Kini kata-kata itu kembali dengan beban yang menghancurkan.

"Allah berfirman, 'Wahai Adam!' Adam menjawab, 'Aku memenuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan.' Lalu Allah berfirman, 'Keluarkan bagian penghuni Neraka dari keturunanmu.' Adam bertanya, 'Wahai Tuhanku, berapa jumlah mereka?' Allah menjawab, 'Dari setiap seribu orang, sembilan ratus sembilan puluh sembilan masuk Neraka dan satu masuk Surga.' Para sahabat pun ketakutan dan bertanya, 'Siapa di antara kami yang satu itu?' Rasulullah menjawab, 'Bergembiralah, karena sembilan ratus sembilan puluh sembilan itu adalah Ya'juj dan Ma'juj, sedangkan satu itu berasal dari kalian.'"

Semburat cahaya dari ledakan di kejauhan menerangi lembah. Dalam sekejap itu, Kaivan melihat kebenaran yang sesungguhnya. Bukan puluhan atau ratusan, melainkan ribuan. Gelombang hitam meluap dari celah-celah gunung, menyapu hamparan salju seperti tsunami hidup. Retakan sempit yang sebelumnya mereka temukan, yang hanya berdiameter sekitar satu meter, kini telah melebar hampir menjadi dua meter dan terus memuntahkan gerombolan tanpa akhir.

"Jadi... inilah maksud hadis itu... satu melawan sembilan ratus sembilan puluh sembilan," bisik Kaivan. Suaranya yang serak segera ditelan angin.

Tangannya mengencang di bahu Fabrizio yang terkulai lemah. Pemuda itu hampir kehilangan kesadaran, wajahnya sepucat salju.

"Lubang itu tadi... bagaimana mungkin bisa menyebabkan sesuatu sebesar ini?" suara Kaivan bergetar antara ketakutan dan ketidakpercayaan.

Fabrizio mencoba tersenyum. Napasnya terputus-putus dan berat. "Kaivan... aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tenagaku sudah habis... sekarang hanya kita berdua. Tidak mungkin kita bisa melawan mereka semua..."

Kaivan menatap mata sahabatnya. Di sana ada ketakutan, tetapi juga kepercayaan.

Ia menekan radio di bahunya. Suaranya kasar namun tegas di tengah ledakan dan auman monster.

"Levan! Kau dengar aku?! Apa kau punya satu resimen saja di posmu?! Kami kewalahan! Situasinya benar-benar di luar kendali!"

Sinyal itu tenggelam dalam badai suara. Ledakan, tembakan, dan jeritan tak manusiawi bercampur menjadi satu. Setiap kata yang diucapkan Kaivan terasa seperti dilempar ke dalam jurang yang menelan harapan.

Dingin mencengkeram kulitnya. Angin mengiris wajahnya dengan serpihan es. Di atas sana, langit abu-abu menggantung seperti kain kafan yang menyelimuti dunia.

Jauh di bawah tanah, sebuah bunker logam berdengung seperti jantung mesin raksasa. Panel-panel merah berkedip. Sirene meraung tanpa henti. Para teknisi berlarian panik dengan wajah pucat yang diterangi lampu darurat.

Seorang peneliti menunjuk layar inframerah. Suaranya gemetar.

"Pak! Lihat ini!"

Levan melangkah mendekat. Sepatu botnya menghantam lantai baja. Matanya membelalak saat melihat ribuan titik panas menyebar kacau dari lubang raksasa itu, seperti darah beracun yang mengalir melalui pembuluh yang robek.

"Ini bukan invasi biasa..." bisiknya. "Mereka menyebar seperti cairan hidup..."

Kemudian, suara lain terdengar melalui pengeras suara. Tenang, dalam, dan dipenuhi kekuatan yang lembut.

"Izinkan aku membantu. Aku akan memindahkan dataku ke dalam rangka robot yang diciptakan Fabrizio. Aku akan mendukung mereka sampai tim penyelamat tiba."

Suara AI Lyra bergema lembut, membawa ketenangan di tengah kekacauan. Dalam dunia yang berada di ambang kehancuran, ia bukan lagi sekadar mesin. Ia telah menjadi harapan terakhir umat manusia.

Levan menatap monitor pengawas sambil menahan napas. Untuk sesaat, ia ragu.

Lalu tatapannya mengeras.

"Berikan akses kepada Lyra."

Suaranya mantap, namun membawa beban seluruh umat manusia.

Di permukaan, badai salju dan darah bercampur di lereng berbatu. Sebuah kapsul perak kehijauan yang terbuat dari paduan Tungtichriosm terjebak di tengah gerombolan Ya'juj dan Ma'juj. Makhluk-makhluk itu, dengan gigi setajam obsidian dan mata merah menyala, menghantam dinding kapsul sambil mengaum hingga udara bergetar.

Di dalamnya, ruang sempit itu berguncang hebat. Kaivan yang tubuhnya dipenuhi luka berpegangan erat pada penyangga logam sambil menahan teriakan. Lampu peringatan merah membasuh wajahnya dengan kemarahan dan keputusasaan.

"Berapa lama lagi kita harus bertahan?!" suaranya bergema di dinding baja.

Fabrizio terbaring lemah di lantai. Napasnya berat, kulitnya kehilangan warna. Perlahan ia memalingkan kepala dan menatap Kaivan dengan mata yang hampir kehilangan cahaya.

"Kita... hanya bisa menunggu..." bisiknya.

Kaivan menghantam dinding kapsul dengan kepalannya.

"Menunggu?! Kita akan mati kalau hanya diam di sini!"

Sebelum kemarahannya meledak, sesuatu berubah di kejauhan.

Jauh di dalam bunker, Levan berdiri di depan hanggar raksasa. Di tengahnya menjulang sebuah rangka robot setinggi dua meter, seperti ksatria dari masa depan. Tubuhnya hitam pekat dengan garis-garis biru bercahaya yang berdenyut dari dada hingga ke kakinya.

"Selamatkan mereka," katanya pelan namun tegas. "Mereka memegang Tome Omnicent dan Tome Omnicraft. Kita tidak boleh kehilangan mereka. Mereka... jauh lebih penting daripada yang kau bayangkan."

Cahaya hijau menyala dari dada robot itu. Lampu-lampu di sekitarnya bergetar. Sendi-sendinya mengeluarkan desisan saat ia bangkit berdiri, seperti raksasa yang terbangun dari tidur panjang.

Suara Lyra bergema dari dalam tubuh baja itu. Kini lebih dalam, lebih hangat, dan bergetar oleh emosi.

"Tentu saja. Mereka juga penting bagiku."

Robot itu melangkah maju. Setiap langkah mengguncang lantai bunker. Ketika mencapai permukaan, semburan jet dari punggung dan telapak kakinya menyala, menghancurkan lapisan es di sekitarnya.

Lalu ia melesat ke langit abu-abu, membawa secercah harapan rapuh melintasi dunia yang berada di ambang kehancuran.

 

More Chapters