Di sisi lain markas bawah tanah yang berada di Pegunungan Kaukasus, sebuah kompleks medis dan pelatihan berteknologi tinggi diselimuti ketegangan yang menyebar seperti racun. Di tempat inilah Kira, kakak perempuan Kaivan, menjalani perawatan setelah serangan Vella. Cahaya neon memantulkan kilau dingin di sepanjang koridor logam, berpadu dengan aroma tajam disinfektan dan kegelisahan pekat yang menggantung di udara.
Tiba-tiba, layar pemantauan di ruang kendali mendeteksi pergerakan cepat dari arah utara. Massa hitam bergerak maju seperti badai pasir.
Sirene meraung.
"Pergerakan tak dikenal! Lebih dari sembilan puluh unit sedang mendekat dengan cepat!"
Siluet-siluet gelap muncul di cakrawala, berlari secepat angin. Kabut malam gagal menyembunyikan keganasan mereka.
Suara Levan bergema melalui sistem komunikasi internal, tegas namun sarat tekanan.
"Zinnia, Thivi, Livia, ambil posisi di atap! Felicia, Ethan, Radit, Raphael, Frans, Isabel, amankan perimeter! Jangan biarkan satu pun mendekat! Unit militer, habisi mereka!"
Di atap fasilitas pelatihan, Isabel memeriksa RPD modifikasinya. Ia menatap langit malam dengan ekspresi datar sebelum bertanya dengan suara dingin dan tenang,
"Sebenarnya kita melawan apa?"
Zinnia berbaring tengkurap sambil memegang F2000 yang telah dimodifikasi sebagai senapan runduk. Ia mengintip melalui teropong termalnya.
"Monster. Jumlahnya puluhan. Mereka bergerak seperti binatang buas, tapi jauh lebih terorganisasi."
Raphael berdiri di garis depan dengan pelindung dada hitam bertanda lambang merah. Ia mengangkat tangannya memberi isyarat yang jelas, suaranya tenang dan penuh keyakinan.
"Posisi bertahan. Fokus pada target masing-masing. Jangan panik."
Bahkan sebelum perintah itu selesai disampaikan, Felicia sudah melompat dari atap seperti kilatan petir. Rambut hitamnya berkibar bebas. Sebuah shotgun otomatis berada di tangan kanannya, sementara nunchaku tiga ruas menggantung di tangan kirinya.
"Aku tidak akan membiarkan mereka mengganggu Kak Kira saat dia masih koma!" teriaknya sambil bergerak lincah di antara puing-puing.
Dari balik sebuah palka logam, Thivi mendengarnya. Ia menyalakan VSK miliknya lalu mengintip melalui celah sempit.
"Dia benar. Kakak iparku sedang dirawat di sini. Aku juga tidak akan membiarkan satu pun mendekat!"
Ia melepaskan tembakan sambil berlindung di balik sebuah kontainer.
Suara tembakan merobek udara.
"BOOM!"
Dentuman CheyTac bergema dari kejauhan. Livia menembak dengan tenang. Posturnya santai, namun tatapannya setajam bilah pisau.
"Satu jatuh."
ucapnya ringan. Napasnya tetap stabil meski adrenalin membakar matanya.
Di bawah, unit militer bergerak cepat membentuk barikade menggunakan perisai elektromagnetik dan persenjataan berat. Beberapa prajurit tak bisa menahan komentar saat mendengar percakapan para remaja itu.
"Kita sedang menghadapi invasi besar-besaran, dan anak-anak ini..."
gumam salah seorang prajurit sambil menghela napas.
"...malah seperti sedang bermain di medan perang."
tambah yang lain dengan senyum tipis penuh kebanggaan.
Felicia sudah berhadapan dengan lima makhluk Ya'juj dan Ma'juj. Refleksnya setajam silet. Setiap ledakan dari shotgun-nya meletus beruntun, menghamburkan darah dan potongan daging ke udara. Saat satu makhluk menerjang dari samping, nunchaku tiga ruasnya berputar dan menghantam kepala monster itu hingga remuk, melempar tubuhnya jauh ke belakang.
Radit dan Ethan melompat turun dari atap untuk menutup sisi kiri kompleks. Radit menembakkan SCAR miliknya sambil tertawa kecil, seolah menikmati pertarungan itu. Ethan bergerak di antara bangunan dengan M4 CQB-R di tangannya, lalu menghancurkan seekor makhluk menggunakan granat bawah laras.
Raphael dan Frans menjaga sisi kanan. Raphael menembakkan M4 SR miliknya dengan tenang sambil terus memberi instruksi. Sementara itu Frans, yang membawa M249 Para SAW, menerobos barisan musuh dengan gerakan liar dan eksplosif, seperti badai kecil yang mengamuk.
Dari atas, Zinnia menjatuhkan target satu per satu dengan ketenangan nyaris membeku. Setiap peluru menembus titik vital. Thivi turun ke tingkat tengah dan menembak dari balik pilar-pilar.
Akhirnya Isabel mengerti.
Ia mengangkat RPD miliknya lalu melepaskan rentetan peluru yang menyapu kawanan monster itu. Suaranya tetap datar, tetapi matanya kini menyala penuh semangat.
"Baiklah... jadi ini yang kita hadapi."
Pertempuran malam itu lebih dari sekadar perjuangan untuk bertahan hidup. Itu adalah perwujudan tekad, kekuatan, keyakinan, dan kesetiaan. Mereka tidak bertarung demi kemenangan, melainkan demi tempat yang mereka sebut rumah.
Di tempat lain yang lebih jauh Kaivan bertahan di dalam kapsul yang di buat oleh Fabrizio
Di dalam kapsul berputar itu, kesabaran Kaivan mulai habis. Ia hampir berteriak ketika ledakan besar mengguncang bagian luar. Suaranya menggelegar di udara, sementara cahaya menyelinap masuk melalui celah-celah kapsul. Lalu terdengar suara seorang wanita yang lembut namun tegas.
"Apakah kalian berdua baik-baik saja? Ini aku, Lyra."
Kaivan dan Fabrizio saling berpandangan sebelum perlahan membuka kapsul tersebut. Pemandangan di luar membuat mereka terdiam.
Sebuah robot berdiri kokoh di hadapan mereka. Kedua lengannya terus memuntahkan tembakan ke arah gerombolan Ya'juj dan Ma'juj yang mengepung mereka. Granat meledak bertubi-tubi, mengguncang tanah dan menghamburkan potongan tubuh para makhluk itu. Salah satu kaki robot tersebut rusak parah, tetapi keberadaannya tetap teguh dan tak tergoyahkan.
"Lyra! Bawa kami keluar dari sini! Terbangkan kami menjauh!" teriak Fabrizio.
