Cherreads

Chapter 241 - Ditempa di Tengah Reruntuhan

"Aku tidak bisa," jawab Lyra. Suaranya dipenuhi penyesalan yang berat. "Kakiku rusak akibat ledakan roket sebelumnya. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan sampai bantuan datang."

Seolah menjawab perkataannya, gelombang lain Ya'juj dan Ma'juj kembali menyerbu. Mereka melompati bangkai tank dan helikopter yang masih terbakar. Lyra kembali mengangkat senjatanya. Peluru menghujani udara, granat dilemparkan tanpa henti, dan ledakan berantai menerangi malam. Namun jumlah mereka seakan tidak pernah berkurang.

Kaivan meraih bahu Fabrizio yang gemetar.

"Kita harus membantu Lyra! Kalau tidak, kita akan mati di sini!"

"Aku tidak bisa..." isak Fabrizio. "Tenagaku sudah habis."

Kaivan menatapnya tajam, lalu menendang pintu kapsul hingga terbuka lebar. Ia mencabut sepasang kujang yang berkilau di bawah cahaya api.

"Lyra, kumpulkan mereka di satu titik. Aku akan menarik perhatian mereka."

Tanpa menunggu jawaban, Kaivan berlari ke depan. Gerakannya begitu cepat, seperti bayangan yang melintas di tengah badai peluru. Bilah kujangnya menari, membelah daging dan urat dengan presisi mematikan. Darah hitam menyembur. Tubuh-tubuh berjatuhan. Napasnya semakin berat, setiap ototnya menjerit kesakitan, tetapi ia tidak berhenti.

Lyra terus menembakkan pelontar granatnya. Ledakan demi ledakan mengguncang lereng bersalju Pegunungan Kaukasus. Api dan salju saling bertabrakan, menciptakan medan perang yang tampak seperti neraka di bawah langit yang membeku. Amunisinya mulai menipis, dan retakan-retakan mulai menyebar di rangka logam tubuhnya.

"Kaivan, jumlah mereka terlalu banyak!" serunya. Suara mekanisnya bergetar di antara rentetan tembakan.

Kaivan melirik ke belakang. Wajahnya diterangi cahaya ledakan.

"Kita tidak perlu menang," ujarnya pelan. "Kita hanya perlu bertahan hidup."

Di tengah kobaran api dan pusaran salju, mereka bertiga berdiri di antara reruntuhan. Kaivan, Fabrizio, dan Lyra menghadapi badai tanpa akhir.

Fabrizio berjongkok di balik tumpukan baja. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dingin yang menusuk, tetapi juga karena rasa takut yang menghimpit dadanya. Napasnya tersendat. Ia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Rasa logam yang memenuhi mulutnya membuat kesadarannya kembali tajam.

Seperti kilatan petir, kenangan tentang pemilik Tome of Omnicraft sebelumnya melintas di benaknya.

"Kreativitas Tanpa Batas... Kita bisa menciptakan apa pun selama kita memahami cara kerjanya..."

bisiknya seperti mantra kuno.

Matanya kini menyala, bukan karena kepanikan, melainkan tekad.

Dengan tangan yang masih gemetar, Fabrizio mengaktifkan mode perakitan cepat pada lengannya. Potongan besi, kabel, dan pecahan pelat baja mulai bergerak dan menyusun diri. Hologram biru berisi rancangan mekanis berputar di udara, sementara pikirannya melaju lebih cepat daripada rasa takutnya. Tangannya bergerak seperti seorang seniman yang berdiri di ambang kiamat.

Hanya dalam dua menit, dua pelontar granat otomatis dan sebuah minigun raksasa tercipta dari puing-puing medan perang.

"Lyra! Tangkap ini!" teriaknya serak sambil melemparkan minigun yang masih panas.

Lyra berdiri di antara Kaivan dan gerombolan Ya'juj dan Ma'juj. Mata hijaunya memindai struktur senjata itu, lalu dengan satu gerakan tegas, ia menarik pelatuknya.

RAAAAAATTTT... TAT-TAT-TAT!

Minigun itu mengaum seperti badai dari neraka. Peluru berkaliber besar menghantam para musuh dari segala arah, mencabik dan membakar tubuh mereka. Lyra berdiri di tengah darah dan puing-puing. Rangka mekanisnya bergetar karena panas berlebih, tetapi wajahnya tetap tenang, nyaris tanpa emosi.

Di sisi lain, Kaivan yang telah dikepung dari segala arah mendengar teriakan Fabrizio.

"Kaivan! Menghindar!"

Semburan plasma biru melesat dari Energy Blaster modifikasi milik Fabrizio. Dalam sekejap, lima makhluk lenyap sekaligus, meninggalkan kawah hangus di tanah.

Kaivan melompat ke belakang. Tubuhnya penuh luka, tetapi matanya menyala oleh adrenalin. Debu dan serpihan tulang beterbangan saat ia berlari menuju Lyra dan Fabrizio, menerobos reruntuhan sambil menghindari taring dan cakar.

"Dari mana kau mendapatkan ide itu?!" teriaknya sambil menunjuk pelontar granat di tangan Fabrizio.

Fabrizio tersenyum tipis, meski darah menetes dari dagunya.

"Aku cuma teringat Megaman... lalu menggabungkan semuanya di kepalaku."

Kaivan meraih salah satu pelontar granat, menarik pemicunya, lalu melepaskan rentetan ledakan. Setiap granat menciptakan kawah api yang membakar dan melempar para musuh jauh ke belakang. Di tengah lautan api itu, Kaivan tidak lagi sekadar bertahan hidup. Ia telah berubah menjadi badai yang hidup.

Lyra bergerak selaras dengan ledakan-ledakan tersebut. Tubuhnya menyapu musuh seperti dewi perang. Ia melompat, mengayunkan minigun, lalu menghantam wajah seekor makhluk hingga terdengar suara tulang yang remuk. Persendian kakinya retak, tetapi ia tetap bertahan. Tatapannya tak pernah lepas dari target.

Di belakangnya, Fabrizio menembakkan Energy Blaster dengan ritme yang stabil. Setiap tembakan menjadi panah cahaya yang membelah gerombolan Ya'juj dan Ma'juj. Ia tidak lagi panik. Kini ia tahu, mereka bertarung bersama. Bukan sendirian.

Waktu terasa melambat. Detak jantung bercampur dengan ledakan dan jeritan. Darah, api, salju, dan peluru membentuk simfoni perang yang brutal.

Tiga puluh menit berlalu, terasa seperti tiga puluh tahun di neraka. Pegunungan Kaukasus yang dahulu sunyi kini berubah menjadi kuburan terbuka. Salju putih berubah merah. Bau daging terbakar bercampur dengan mesiu, menusuk udara. Gunungan mayat menutupi tanah, sementara langit terus bergetar oleh dentuman tanpa akhir.

Dari balik kabut dan asap, terdengar gemuruh baling-baling.

Helikopter militer dengan kamuflase salju melayang rendah. Sorot lampunya menyapu medan perang, memperlihatkan darah dan kehancuran yang terbentang sejauh mata memandang.

"Bergerak! Ini kesempatan kalian!"

Suara dari pengeras terdengar terputus-putus karena gangguan sinyal, tetapi nadanya tetap tegas.

More Chapters