Cherreads

Chapter 242 - Suara yang Seharusnya Tidak Ada

Minigun di lengan kanan Lyra berputar liar. Larasnya memerah karena panas, melepaskan asap tebal ke udara. Peluru-peluru terakhirnya menghantam tubuh Ya'juj dan Ma'juj, membelah serta membakar mereka hingga hancur berkeping-keping.

Mereka terus berdatangan. Tangan bercakar, rahang menganga, melompat dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain. Namun Lyra berputar dengan gesit, menancapkan kaki mekanisnya ke tanah dan melepaskan rentetan tembakan tanpa henti yang merobek barisan mereka menjadi hujan daging dan darah.

Setiap tarikan pelatuk adalah tarian antara hidup dan mati. Ia berguling, melompat ke atas tumpukan mayat, menembak sambil menendang dua makhluk yang menerjang ke arahnya. Gerakannya tak lagi sekadar rutinitas AI, melainkan naluri manusia yang masih bernapas di dalam dirinya. Fabrizio tidak hanya menciptakan sebuah mesin. Ia telah menempa sebuah jiwa yang menolak untuk hancur.

Di dalam helikopter yang perlahan terangkat dari tanah yang berlumuran darah, Kaivan menopang tubuh Fabrizio yang gemetar hebat. Mata pria itu hampir tertutup sepenuhnya, namun ia masih terus menatap ke bawah dengan rasa bersalah yang sunyi. Darah kering menempel di pelipisnya, sementara napasnya terdengar berat dan terputus-putus.

Levan berdiri di dekat pintu yang terbuka, tubuhnya bergoyang mengikuti getaran mesin. Angin dari baling-baling menerpa wajahnya saat ia mengulurkan tangan.

"Cepat! Jangan buang waktu!" teriaknya.

Kaivan menggenggam tepi pintu helikopter dan menoleh kembali ke arah Lyra yang masih terkepung.

Tubuh mekanis gadis itu dipenuhi retakan dan bekas hangus. Kabel-kabel yang terbuka meneteskan cairan pendingin yang langsung membeku di udara. Percikan listrik meloncat dari bahunya, namun ia tetap berdiri tegak. Mata zamrudnya bersinar tajam, tekadnya bahkan lebih kuat daripada baja.

Dada Kaivan terasa sesak oleh perasaan yang tak mampu ia jelaskan. Itu bukan sekadar ketakutan, bukan pula hanya kesedihan. Ada sesuatu yang mencengkeram hatinya, menggores perlahan namun begitu dalam.

Di tengah gemuruh baling-baling dan jeritan terakhir Ya'juj dan Ma'juj, Kaivan berbisik pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh badai malam.

"Bagaimana Lyra bisa mengendalikan robot itu dari jarak sejauh ini?"

Levan berdiri di dalam helikopter, berusaha menjaga keseimbangan sambil menopang tubuh Fabrizio yang hampir roboh. Rahangnya mengeras. Sesaat ia terdiam, lalu suaranya keluar rendah dan berat, menghantam seperti palu perang.

"Dia tidak mengendalikannya dari jarak jauh. Lyra... memindahkan kesadarannya ke tubuh itu. Fabrizio membuatnya khusus untuk dirinya. Tapi dia tahu risikonya. Dia memang berencana meledakkan dirinya bersama robot itu... setelah kita semua selamat."

Kata-kata itu membelah hati Kaivan seperti bilah es. Dalam sekejap, dunia seakan membisu, menyisakan hanya dentuman jantungnya sendiri.

Pecahan kenangan bermunculan satu demi satu. Suara digital Lyra yang lembut dan sedikit canggung bergema di benaknya.

"Aku sangat iri pada makhluk hidup... suatu hari nanti aku ingin mencoba masakanmu."

"Hai, Kaivan. Hari ini kau sedang apa?"

"Kedengarannya menyenangkan mengunjungi negaramu."

"Kalau aku punya tubuh, aku ingin melihat dunia dengan mataku sendiri."

Dulu, semua itu terasa seperti kata-kata yang lewat begitu saja. Kini, setiap kalimat menghantamnya seperti hujan meteor. Kaivan menggigit bibir bawahnya erat-erat, sementara air mata mulai memenuhi matanya.

"Dia baru saja mendapatkan tubuh... dan sekarang dia harus mati bersama tubuh itu?!"

Tanpa berpikir panjang, Kaivan melemparkan Tome of Omnicent ke dalam helikopter lalu melompat.

"KAIVAN!! ANAK INI SELALU SAJA...!" teriak Levan, tangannya terlambat menjangkau.

Tubuh Kaivan membelah udara yang membeku. Jaketnya berkibar liar, sementara angin meraung keras di telinganya. Dunia terasa melambat. Lima detik, empat, tiga, dua. Lalu ia menghantam tumpukan salju yang bercampur darah dan es. Tubuhnya terguling, lalu menabrak puing-puing logam. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, namun ia memaksa dirinya bangkit.

Giginya terkatup rapat, kedua tangannya gemetar. Kaivan menancapkan kakinya ke salju dan memaksa tubuhnya berdiri.

Di hadapannya, minigun raksasa itu berputar merah membara, hampir meleleh karena panas. Peluru-peluru terakhirnya terus menghujani Ya'juj dan Ma'juj yang masih merangkak keluar dari kegelapan. Tubuh bersisik, rahang terbelah, mata merah menyala. Mereka melompat seperti serigala kelaparan.

Lyra memaksa tubuhnya terus bergerak. Sistem kendalinya mulai goyah, energinya hampir habis. Namun ia tetap berdiri, menjaga garis terakhir antara kehidupan dan kehancuran. Setiap rentetan tembakan dari minigun menyalakan kobaran api yang menembus kabut, menerangi hujan darah dan serpihan daging yang beterbangan.

Lalu, tiba-tiba, dari balik kabut muncul sosok yang seharusnya tidak berada di sana.

Kecil di tengah medan perang yang luas, namun menantang keberadaan neraka itu sendiri.

Kaivan.

Pakaian tempurnya robek di sana-sini, basah oleh darah dan debu. Wajahnya dipenuhi luka, rambutnya berantakan dan sebagian hangus terbakar. Namun matanya... matanya menyala oleh tekad yang begitu besar, seperti nyala api kecil yang menolak padam di tengah badai.

Ia berlari.

Kakinya menghantam reruntuhan dan tanah beku dengan kekuatan yang terasa mustahil bagi tubuh seramping itu. Ia menerobos kobaran api kecil, menyingkirkan puing dan bara yang menghalangi jalannya, bahkan melangkahi tubuh para makhluk yang telah tumbang namun masih merintih.

"Lyraaaa!!!"

Teriakannya mengguncang langit, merobek angin, salju, dan suara kematian.

Di dalam sistem Lyra, sensor audionya bergetar. Suara itu. Satu-satunya variabel yang tak pernah ia masukkan ke dalam algoritma kematiannya. Suara itu adalah anomali. Sebuah gangguan. Namun entah mengapa, ia tidak mampu mengabaikannya.

"Kenapa?! Apa yang kau lakukan, Kaivan?!"

More Chapters